Salah besar, Fabian merutuki kebodohannya cukup lama. Hanya karena melampiaskan naf-su, Fabian kehilangan banyak hal, terutama kepercayaan Kanika. Semua yang telah dia usahakan sejak awal seketika musnah, seolah hilang tak berbekas dan fakta ini membuat Fabian benar-benar putus asa. Kanika menolak bicara, sikapnya juga tampak dingin dan yang lebih membuat Fabian resah ialah, Kanika tampak patuh di pelukan Zidan, itu. “Tidak mungkin, bagaimana bisa beliau benar-benar meninggal dunia sementara tadi malam security bilang masih baik-baik saja.” Fabian bermonolog, bersamaan dengan mata yang terus fokus ke depan dan tangan mengendalikan kemudi. Saat ini, dia tidak punya pilihan lain selain pergi dari kediaman keluarga Dinata karena Kanika benar-benar menghindarinya. Tak peduli sekalipun Fab

