Kanika tercengang. Darah di dalam tubuhnya seolah berhenti mengalir, membeku di setiap pembuluh. Baru saja dia ingin menyampaikan kabar kehamilan pada Zidan, kini yang justru muncul di hadapannya adalah Fabian. Pria yang baru-baru ini dia ketahui sebagai duda, sekaligus ayah dari anak yang kini tumbuh di dalam rahimnya. Kehadiran Fabian yang tiba-tiba di ruang tamu rumahnya sungguh tidak masuk akal. Alih-alih menjawab pertanyaan pria itu, Kanika justru memilih untuk mengabaikan dan mengajukan pertanyaan yang jauh lebih penting baginya saat ini. “Bagaimana Bapak bisa di sini? Lancang sekali masuk ke rumah orang tanpa izin,” ucap Kanika tajam. Dia berusaha menjaga batas dan intonasi suaranya, memanggil Fabian dengan sebutan formal layaknya orang asing. Fabian yang menyadari jarak yang se

