“Mampush!! Aku kesiangan, lagian ngapain sih?!” Jari-jari Kanika meremas ponsel, menatap layar yang menampilkan jarum jam. Waktunya hanya tersisa 25 menit. Dia menggerutu, mengumpat dalam hati pada dirinya sendiri yang begitu bodoh karena bangun kesiangan. Padahal, hari ini ia harus menemui Fabian, seorang pria yang katanya menjunjung tinggi kedisiplinan dan kini menjadi satu-satunya harapan Kanika sekarang. menghadapi situasi ini, jelas saja Kanika kalang kabut. Dia tak sempat mandi. Tanpa membuang waktu, dia mengambil setelan kemeja putih berbahan satin yang licin dan jatuh dengan indah di tubuhnya, lalu memadukannya dengan celana hitam yang simpel. Kemeja itu dia masukkan rapi ke dalam celana, dan melilitkan ikat pinggang kecil berwarna emas di pinggangnya, membuat penampilannya

