BAB 06 - Siaga Mode On ~

996 Kata
​“Satu saja? Atau harus dua?” ​Saat ini, di tangan Kanika ada satu strip pil darurat yang baru saja dibelinya secara sembunyi-sembunyi dari apotek kecil di seberang jalan. Matanya menatap nanar kemasan mungil itu, otaknya berputar dengan panik mencari petunjuk. Apakah satu pil cukup? Atau dia harus mengambil risiko dua sekaligus untuk memastikan tidak ada kejadian yang tidak diinginkan? ​Setelah menimbang-nimbang, Kanika menelan satu pil, berharap itu sudah cukup untuk memadamkan api kecemasan di dadanya. Pria asing yang merenggut kehormatannya itu sama sekali tidak dia kenal. Meski dirinya memang seorang influencer, tapi pergaulannya tidak seluas itu hingga bisa mengenal semua orang. Apalagi pria itu memang benar-benar asing. ​Namun, sekarang itu tidak lagi penting. Kalau bisa, Kanika hanya ingin menganggap kejadian semalam sebagai mimpi buruk yang tak akan pernah dia kenang. Dia berdoa agar takdir tidak mempertemukan mereka lagi dalam keadaan apa pun di masa depan. ​Selesai menelan pil itu, Kanika berusaha menenangkan diri. Waktu terus berjalan, dan sebentar lagi dia harus mengunggah video endorse di akun pribadinya. Tak peduli apa yang dia alami, tentu saja brand yang bekerja sama dengannya menuntut Kanika untuk tetap profesional. Dia juga akan memanfaatkan pekerjaan ini sebagai sarana untuk mengalihkan pikiran dari masalah yang tengah ia hadapi. ​Bekerja tanpa henti, Kanika bertekad mengisi setiap detik harinya dengan kesibukan. Dia akan menerima semua tawaran promosi yang datang. Bukan hanya itu, ia juga akan melakukan live streaming hari ini, berinteraksi dengan para pengikutnya seolah tak terjadi apa-apa. Sengaja Kanika bersikap demikian agar teman-temannya tidak mencurigai apa pun. Wanita itu menatap wajahnya di cermin. Bibirnya ditarik membentuk senyum, senyum palsu yang ia latih sejak tadi. Dia harus tampak ceria, energik, dan optimis, seperti yang selama ini ia tampilkan di media sosial. Tak peduli sekalipun di balik layar, hatinya hancur berkeping-keping. ​Dengan gemetar, Kanika meraih ponselnya. Notifikasi pesan masuk dari sahabatnya, sebagai pengingat untuk mengunggah konten berlibur yang memang disponsori sebuah brand beberapa waktu lalu. Sejenak, Kanika menahan napas, mencoba mengatur detak jantungnya yang berpacu kencang. Dia mengusap layar, membuka aplikasi, dan mulai mengunggah video yang sudah disiapkan. Tak lupa menulis caption dengan kata-kata penuh semangat, seolah hidupnya sempurna. Padahal, sebaliknya. Setiap kata yang ia ketik terasa seperti pengkhianatan terhadap perasaannya sendiri. Hingga hari berganti, Kanika benar-benar berhasil menjalaninya dengan berbagai kesibukan meski seorang diri. Dia bahkan menolak kehadiran teman-temannya yang hendak datang ke apartemen dengan alasan masih ingin sendiri. || Yah, kok kamu gitu? Mendadak banget pengen sendiri ... bilang saja marah soal semalam. Hanin, sahabatnya yang semalam memaksa agar dirinya bersedia merasakan segelas alkohol semalam tampak muncul di grup dengan memberikan tuduhan semacam itu pada Kanika. Tuduhan yang memang benar adanya, jujur saja Kanika memang marah bahkan jika bisa dia akan mengutuk Hanin yang merupakan biang kerok atas musibahnya semalam. Akan tetapi, sedikit banyak Kanika sadari bahwa percuma dia melakukan hal itu karena dan besar kemungkinan justru makin dicurigai. “Enggak, bukan gitu, Han cuma memang aku butuh waktu sendiri.“ || Ha-ha-ha, ngakunya butuh waktu sendiri, tapi jelas-jelas live streaming gimana ceritanya sih? Kembali Hanin seolah mempertanyakan dirinya, tapi Kanika yang malas berdebat dan tak lagi punya tenaga untuk menanggapi si paling ingin dihargai hanya karena followers-nya lebih banyak itu. Tanpa mengatakan apa-apa, dia hanya menutup riwayat percakapan bersama anggota grup sebelum kemudian merebahkan tubuh ke atas tempat tidur. Setelah melakukan berbagai hal yang dia kira akan membuat hatinya sedikit lebih tenang, nyatanya tidak demikian. Tepat di saat dirinya sendirian dan malam mulai menjelang, Kanika merasakan kesepian. Juga, kesendirian. Dia melirik ponsel, berharap notifikasi dari orang favorit akan muncul, Zidan. Ya, pria itu sudah beberapa hari tidak menghubunginya. Padahal, biasanya Zidan akan menjadikan dirinya prioritas sekalipun pria itu sibuk. Akan tetapi, berbeda dengan hari ini satu pesan dari Zidan pun tidak dia dapati. Meski bisa saja Zidan mengirimkan pesan ke nomor lain yang memang kini dipegang salah-satu sahabat Kanika, tapi seharusnya jika tidak direspon Zidan akan mengirimkan pesan ke nomor lainnya karena kebetulan Kanika memberikan segala informasi tentangnya pada Zidan. "Belum ada juga,“ gumam Kanika disertai helaan napas panjang. "Apa mungkin dia sesibuk itu sebenarnya?” Kanika bermonolog dalam kesendirian, kekhawatiran dan kerinduan seolah bersatu padu dalam diri wanita itu. Ditambah lagi, saat ini juga disertai dengan rasa bersalah karena Kanika telah melakukan hal yang tak pantas untuk diceritakan ke khalayak ramai. Lama dia menunggu, Kanika sampai mengirimkan pesan lebih dulu. “Sayang di mana? Kamu masih sibuk sekarang?" Kurang lebih begitu pesan singkat yang Kanika kirim demi memastikan keadaan Zidan. Berharap pria itu tak lagi sibuk dan hanya sekadar lupa karena malam ini, rasanya Kanika butuh suara berat Zidan untuk menenangkannya. Sayangnya, meski sudah cukup lama Kanika menunggu, balasan dari Zidan tak juga dia terima entah hanya sekadar balasan berupa emoji atau semacamnya. "Ah sudahlah, mungkin memang sibuk ... lain kali saj-” Drrrt Drrrt Drrrt “Heuh?” Suasana hati Kanika berubah seketika tatkala ponselnya bergetar pasca dilempar ke atas tempat tidur dengan sengaja. Dia berpikir itu adalah panggilan dari Zidan karena memang, pria itu kerap kali menghubunginya kembali dengan cara telepon atau melakukan panggilan video. Sayangnya, yang kini tertera di layar bukan nomor Zidan, melainkan nomor asing dan belum pernah menghubungi Kanika sebelumnya. Dia sempat ragu, khawatir bahwa si penelpon adalah seorang penipu. Sampai akhirnya, Kanika memberanikan diri untuk menerima panggilan tersebut dan menunggu seseorang berkata di jalan. "Selamat malam, saya Mohan Aditya ... benar ini dengan Nona Kanika Zahira?“ Suara pria itu cukup mengejutkan , Kanika yang pada dasarnya selalu curiga merasa gugup sebelum menjawab. "I-iya, saya sendiri.” Begitu jawab Kanika singkat dan hal itu membuat seseorang di seberang sana terdengar menghela napas lega. "Syukurlah jika ini benar Anda, itu artinya saya tidak salah orang.“ "Langsung saja ke intinya, apa yang Anda inginkan memang." Sudah Kanika coba untuk bersikap tenang, tapi nyatanya tidak bisa, dia tetap waspada dan mode siaga tatkala orang asing justru melayangkan pertanyaan semacam itu padanya. "Ah begini, bisa Anda berikan alamat untuk bisa kami datangi?" . . - To Be Continued -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN