“Mau ke mana?” Pertanyaan Fabian yang tiba-tiba memecah keheningan malam membuat Kanika terperanjat. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena terkejut, melainkan karena gejolak emosi yang bercampur aduk. Rasa panik, bingung, dan sedih membanjiri dirinya. “Pulang,” jawab Kanika, suaranya tercekat. Dia berusaha keras menahan getaran di nada bicaranya. Matanya yang indah, yang biasanya memancarkan ketenangan, kini dipenuhi bayangan kecemasan. “Papa mertuaku meninggal dunia.” Fabian terdiam. Wajahnya yang tegang kini terlihat lebih rumit, seolah ada seribu pikiran yang berkejaran di benaknya. Dia menarik napas panjang, menahannya selama beberapa detik, lalu mengembuskannya perlahan. Gerakan kecil itu seolah menjadi jeda yang menegangkan, seolah ia tengah mengumpulkan semua rasionalitas

