Malam semakin larut, namun mata Kanika tak kunjung terpejam. Kegelisahan menggerogoti setiap sudut hatinya. Ia tak bisa diam di kamar, seolah ada magnet yang menariknya keluar. Kanika bangkit dari kasur, membuka pintu kamar, dan melangkah keluar, menyusuri lorong menuju ruang tengah yang gelap. Lampu temaram dari lampu gantung membalut ruangan itu, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding. Sejak Fabian pergi, Kanika sudah mondar-mandir tak karuan. Ia berjalan dari satu ujung ruangan ke ujung lainnya, langkahnya tanpa tujuan, pikirannya penuh dengan pertanyaan. Ia terus melirik ke arah jam dinding yang terpajang di hadapannya, seolah jarum jam itu bergerak terlalu lambat, menahan dirinya dalam ketidakpastian yang menyiksa. “Woy!!” Suara mengagetkan itu membuat Ka

