“Calon istri.” Kata-kata itu berulang di benak Mohan. Dia terdiam, membeku di tempatnya berdiri. Tatapan pria itu kosong, melihat punggung Fabian yang menjauh. Dia tidak pernah menyangka, setelah semua yang dia katakan, setelah semua bukti yang dia kumpulkan, Fabian justru memilih untuk maju. Kerut di dahinya semakin dalam, mencerminkan kebingungan dan kekhawatiran yang bercampur aduk di dalam hatinya. Di sisi lain, Fabian melangkah dengan langkah mantap. Kemarahannya pada Mohan belum sepenuhnya padam. Pria itu merasa Mohan telah melewati batas dan terlalu mencampuri urusan pribadinya hingga menyinggung Kanika dengan cara yang tidak pantas. “Jelas-jelas dia punya nama,” gumam Fabian, mengulang kata-kata yang selalu dia lontarkan. Dia tahu Mohan hanya mencoba melindunginya, mengi

