“Heuh?” Kanika mengerutkan dahi, bingung. Pertanyaan Fabian terasa begitu di luar nalar. Rasa sakit yang melilit di perutnya seketika tak terasa, tergantikan oleh keterkejutan. “Pendarahan ap-apa?” tanyanya, suaranya tercekat. “Ya, itu,” jawab Fabian sambil melirik ke area vital Kanika. Tatapannya membuat wanita itu meneguk ludahnya dengan pahit. Fabian sudah berpikir terlalu jauh, sampai Kanika sendiri bingung harus menjawab apa. Sebelum sempat menjawab, letupan halus yang familiar memecah keheningan, seolah menjadi jawaban atas pertanyaan Fabian. Tak berhenti sampai di situ, beberapa detik setelah bunyi itu terdengar, Kanika bergegas lari menuju kamar mandi. Fabian hanya bisa melihat punggungnya yang tergesa-gesa menghilang di balik pintu. Saat itulah ia mengerti, sakit perut

