Keesokan harinya di rumah besar Mahajaya, suasana canggung dan dingin terasa di ruang makan itu. Aruna duduk di ujung meja, makan dengan tenang seolah tidak ada sesuatu apapun yang terjadi. Sementara Ryan dan Alena makan tak bersemangat, mengingat putri semata wayang masih ada di luar sana. Alena tak tahan lagi, sikap Aruna sudah benar-benar keterlaluan terhadap Zayda. Dia menggebrak meja lalu bangkit berdiri, beranjak pergi dari ruang makan. Ryan terdiam, dia sama sekali tak terkejut dengan sikap Alena. Dia lalu menoleh pada Aruna yang masih saja makan dengan tenangnya. Ryan mengeratkan rahangnya, kesabarannya habis sudah. Tangannya mengepal memegang pisau roti dengan eratnya, emosinya sedetik lagi akan meledak dan mengubah ruang makan itu menjadi berantakan. Tapi tiba-tiba ... "Sel