Mereka benar-benar kembali ke penginapan. Adskhan memarkirkan mobilnya di tempat yang berbeda karena tempat awalnya sudah diisi dengan mobil lainnya. Mereka kemudian turun dan setelah menggumamkan terima kasih, Caliana dan Gita kembali ke kamarnya. Caliana sendiri tidak peduli dimana Carina tidur karena jelas mereka yang membawa keponakannya itu harus bertanggung jawab penuh untuk mengakomodasinya.
"Lo tuh kenapa sih, senewen banget?" Tanya Gita tak lama setelah pintu kamar mereka tertutup.
"Gak kenapa-napa." Jawab Caliana datar. Ia melepas kaus dan celana jeans nya lalu kembali menggantinya dengan celana tidurnya. Gita pun tampak melakukan hal yang sama.
"Loe gak suka sama siapa sih? Setahu gue kan loe deket sama Sir Lucas. Sir Adskhan juga bukannya anaknya deket sama Carina. Gue pikir karena anaknya sama keponakan loe sohiban, hubungan loe juga deket. Apa loe kesel sama Sir Erhan? Dia kelihatan playboy sih, tapi sejauh ini dia kelihatan sopan."
Bukannya menjawab komentar Gita, Caliana hanya menatap sahabatnya itu tajam. Alhasil Gita salah tingkah sendiri dan membalikkan badan. Caliana dan emosinya memang bukan sesuatu yang mudah dikendalikan.
Sampai saat ini Caliana sendiri bingung dengan sikapnya. Entahlah, ia mau dianggap kegeeran atau memang faktanya Adskhan suka padanya. Yang jelas Caliana tak suka jika pria itu dekat dengannya dan bersikap baik padanya sementara di waktu lain dia masih melayani wanita lain.
Cemburu? Bukan. Sama sekali bukan hal itu yang ada di pikiran Caliana. Hanya saja mengetahui fakta bahwa pria itu dekat dengan wanita lain dan disaat wanita itu tak ada ia masih berusaha mengakrabkan diri dengan wanita yang lain lagi. Caliana entah bagaimana sangat tidak suka.
Mungkin jika dikondisikan pria itu bersikap akrab pada Caliana disaat kekasihnya Anastasia ada. Caliana tidak akan berburuk sangka. Tapi faktanya, jelas ketika Anastasia ada pria itu selalu menganggap Caliana tak ada. Tapi saat Anastasia tak ada, pria itu...
Sudahlah. Kenapa pula Caliana harus memikirkan pria itu. Duda beranak satu itu bukan hal yang harus ia ributkan saat ini.
Caliana memilih untuk mencoba tidur. Hawa dingin kota Intan itu membuatnya mengantuk perlahan sebelum akhirnya benar-benar masuk ke alam mimpi.
#Di kamar lain#
"Jadi?" Erhan memandang Lucas. Pria itu tampak santai dengan tabletnya, sama sekali mengabaikan pertanyaan Erhan. "Siapa yang kesal sama siapa?" Tanyanya lagi. Menatap Adskhan dan Lucas bergantian.
"Caliana. Jelas dia marah pada Adskhan." Jawab Lucas datar.
"Kenapa?" Erhan tidak mengerti.
"Sepupumu ini, sedang bermain api, sepupu." Jawab Lucas lagi. Ia meletakkan tabletnya ke sisi tubuhnya sebelum menyandarkan punggungnya dan melipat kedua tangan di depan d**a. "Sir Adskhan yang terhormat ini, rupanya diketahui mangsanya sedang mencoba pedekate."
Erhan mengerutkan dahi. "Apa itu pedekate?"
"Pendekatan." Jawab Lucas kesal.
"Oh." Erhan menganggukan kepalanya mengerti. "Jadi sepupu kita ini sedang pedekate sama siapa? Caliana-Caliana itu, kan? "Tanyanya lagi. Lucas mengangguk. "Lantas, kalau sepupu kita ini sedang pedekate, masalahnya apa?"
"Masalahnya. Dia pedekate dengan cara yang salah."
"Dimana letak salahnya? Lütfen anlayabileceğim bir cümle ile açıklayınız." (Tolong jelaskan dengan kalimat yang bisa kumengerti). Pintanya dengan nada memelas.
Lucas menatap Erhan. "Jadi. Sepupu kita yang duda ini, mencoba mendekati Caliana dengan menjadikan anaknya sebagai alasan. Sayangnya, sepupu kita ini melakukannya disaat ia belum benar-benar lepas dari wanita lainnya."
Adskhan yang sedari tadi tengah berdiri di balkon membalikkan badannya. "Jangan bodoh, Luke. Kau tahu kalau antara aku dan Anastasia tidak ada hubungan apa-apa.” Sanggahnya kesal.
Lucas balik mengangkat bahu dengan tak acuh. "Kita tahunya seperti itu, meskipun kita tak tahu apa yang terjadi di balik pintu.” Ucap pria itu dengan nada mengejek.
“Kau menuduhku melakukan sesuatu pada Anastasia?” tuduh Adskhan dengan sengit.
Lucas kembali mengedikkan bahu. “Apa yang terjadi antara kau dan Anastasia bukan urusanku.” Jawabnya masih dengan nada datarnya. “Yang kau lakukan dengannya di belakang layar juga bukan urusanku.” Lanjutnya. “Yang jadi masalahnya disini. Caliana merasa bahwa dirinya sedang dipermainkan. Bahkan sebelum kamu mengatakan apa-apa atau menjelaskan apa-apa, dia sudah berburuk sangka terlebih dulu.”
Adskhan mengerutkan dahinya bingung. “Apa maksudnya?”
“Tidakkah kau menyadari kalau Caliana tidak menyukaimu?”
“Aku menyadarinya. Sepanjang hari ini dia selalu saja bersikap şirret (jutek). Bagaimana bisa kau menyukai wanita seperti itu?” tanya Erhan heran.
“Kapa çeneni, Erhan!” (Diam, Erhan!) Desis Adskhan kesal. Seketika Erhan memandang kakak sepupunya dan membuat gerakan tutup mulut dengan ibu jari dan telunjuknya.
Lucas tertawa seketika. Membawa Erhan memang hal yang tepat karena sepupu termuda mereka itu memang pandai membuat orang emosi. Lucas memandang Adskhan. “Dia tidak menyukaimu karena kamu menjadikan anakmu sebagai alasan untuk mendekatinya. Dan dia tidak menyukaimu karena kau berusaha mendekatinya di waktu yang bersamaan saat kau bersama wanita lain.
Sekalipun dia tahu kamu sudah berpisah dengan Anastasia, dia akan tetap berburuk sangka karena jarak antara perpisahanmu dengan Anastasia dan pendekatanmu padanya terbilang singkat. Dan menurut kaum hawa, itu sama saja dengan 'mudah berpaling'. Dan kau tau pikiran apa yang ada di kepala cantik mereka?
'Jika saja dia bisa semudah itu melupakan kekasihnya, dia juga akan melakukan hal yang sama padaku.' Itu satu contoh.
Contoh lainnya. 'Dia pria yang mudah jatuh cinta. Besok-besok dia juga bakal ninggalin aku kalau ketemu wanita baru.' itu dua. Masih ada pikiran lainnya."
Erhan bertanya. "Apa?" Adskhan seketika memelototi pria itu. namun Erhan mengabaikannya dan tetap berfokus pada Lucas.
Lucas tersenyum miring. Matanya memandang Erhan. "Mereka bisa saja punya pikiran. 'Jangan-jangan, dibelakangku dia punya wanita lain.' dan masih banyak kecurigaan lainnya yang bisa saja terbersit di kepala wanita."
"Lantas, si Caliana ini tipe yang memikirkan yang mana?" Erhan benar-benar penasaran.
"Caliana?" Lucas melirik Adskhan. "Dia jelas berpikir bahwa sepupu kita ini pria yang licik dan tidak tulus."
Erhan tertawa terbahak. "Playboy kena batunya?" Tanyanya pada Lucas. Lucas hanya menganggukkan kepala.
"Kalau kau memang sebegitu pahamnya pada pikiran wanita. Kenapa kau tidak memahami pikiran mantan istrimu?" Gerutu Adskhan.
Lucas mengedikkan bahu. "Begitulah manusia. Mereka pandai menilai hubungan orang lain tapi tak pandai menilai hubungan mereka sendiri." Jawabnya sederhana. "Sudahlah, aku mau istirahat. Siapa tahu besok bisa menemukan wanita cantik yang mau kujadikan istri sekaligus ibu anak-anak ku." Lucas bangkit dari duduknya. Menepuk bahu Adskhan ketika ia melewatinya.
"Bukankah caramu juga buruk? Mencari wanita hanya untuk menjadikannya pembuat anak?" Tegur Adskhan.
Lucas menoleh, kemudian tersenyum. "Aku hanya melakukan saran darimu, Sepupu. Dan lagipula, aku pria lajang yang tidak terikat pada siapapun. Tidak seperti dirimu." Ejeknya dan masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di ruangan itu.
Adskhan mendecih. Ia kembali membalikkan tubuhnya dan menghadap keluar kamar. Angin dingin menerpanya begitu saja. Apa pendekatannya memang salah? Apa ia terlalu terburu-buru? Semua ini karena kedatangan Anastasia tempo lalu. Kalau saja wanita itu tidak datang, semua ini tidak akan terjadi.
****
Selesai subuh, Caliana memilih untuk menonton tayangan televisi di kamarnya. Rencananya mereka akan menyaksikan akad pernikahan Chandra dan calon istrinya. Jadi pukul delapan pagi mereka sudah harus bersiap dan berkumpul di lobi penginapan.
Pukul setengah delapan pagi Caliana sudah siap dengan setelannya. Mengenakan gaun berwarna merah berbentuk A-Line selutut tanpa lengan dan bentuk leher bulat, menunjukkan kulit putihnya yang mulus dan terawatt. Ia juga menggerai rambutnya dan memberikan polesan natural di wajahnya. Sementara untuk aksesoris, ia mengenakan anting berlian sederhana yang membuatnya terlihat semakin anggun. Stilletto berwarna senada setinggi sepuluh senti sudah siap ia kenakan.
Sementara Gita sudah mengenakan kebaya berwarna mocca dengan rok batik mencapai bawah lutut. Sahabatnya itu juga turut menggerai rambutnya namun memberikan jepitan cantik di sisi kanan kepalanya. Anting juntai berwarna perak mempercantik penampilannya yang di makeup bold. Sementara itu untuk menambah tinggi badannya sahabatnya itu membawa wedges berwarna kulit yang memiliki tinggi dua belas senti. Caliana sempat bersiul melihatnya.
"Siap mencari Jajaka tampan." Ucapnya ketika Caliana memuji penampilannya.
"Gak sekalian pasang nametag 'Jomblo' di d**a loe?" Ledek Caliana. Ia meraih clutch berwarna hitam yang sudah sedari tadi nangkring di atas meja. Sementara Gita melihat penampilan terakhirnya sebelum benar-benar mengikuti Caliana.
"Kira-kira, bakal banyak cowok cakepnya gak ya?" Tanyanya saat mereka sudah berada di luar kamar.
"Lihat ntar aja." Jawab Caliana singkat.
Beberapa orang sudah berkumpul di area parkir. Mereka saling bersiul melihat kedatangan Caliana dan Gita. "Tahu kalo loe secantik ini kalo dandan, gue keceng loe dari kemarin-kemarin." Seru Fandi, salah satu rekan mereka. Gita dengan tak anggunnya memukul rekan mereka dengan clutch berwarna cokelat tua nya. Mereka sudah biasa menyaksikan keributan keduanya, jadi tak akan ada yang memisahkan meskipun mereka saling jambak-jambakkan.
Tak lama berselang Bu Shelly datang, berpakaian senada dengan putrinya. Di susul di belakangnya keponakan Caliana dan rombongannya.
"Itaan." Seru Carina seraya melambaikan tangan. Caliana sendiri memperhatikan penampilan keponakannya yang entah bagaimana bisa mengenakan pakaian senada dengan Syaquilla. Pasangan kembar tak sekandung. Dibelakang Carina dan Syaquilla tampak mempesona ketiga sepupu beda usia. Siapa lagi kalau bukan Adskhan, Lucas dan Erhan.
Adskhan dan Lucas tampak lebih casual jika dibandingkan dengan setelan jas yang biasa mereka kenakan saat ke kantor. Meskipun tidak pernah melihat setelan kantor Erhan, tapi jelas semuanya menduga kalau Erhan akan tampak rupawan seperti kedua sepupunya. Dan hari ini, ketiganya tampak semakin menawan dengan pakaian yang mereka kenakan.
Adskhan mengenakan jas berwarna abu tua dengan bagian dalam kaus putih berleher V. Sementara Lucas mengenakan stelan jas hitam dengan dalaman kemeja putih yang dengan sengaja tak mengenakan dasi. Lalu Erhan, mengenakan kemeja denim dengan outer berwana krem. Tampak tak kalah menawannya.
Sebenarnya kehadiran ketiganya saja sudah cukup mencolok dan menarik perhatian. Bahkan bisa dikatakan pengantin prianya pun kalah menariknya dengan ketiga bersepupu itu.
"Beneran tuh cowok duda punya anak gadis?" Gita menepuk lengan Caliana berkali-kali dengan begitu antusiasnya. Membuat Caliana kesal sendiri.
"Mata loe belum buta kan? Anaknya noh, kelihatan segede gitu." Caliana menunjuk Syaquilla yang berdiri tak jauh dari mereka.
Rombongan ternyata sudah lengkap. Pengantin sudah bersiap bersama keluarganya. Hendak menaiki mobil yang sudah dihias dengan buket bunga di bagian depannya. Caliana sendiri sudah mengambil posisi, bersiap untuk masuk ke mobilnya diikuti Gita. Saat hendak masuk, teriakan Carina kembali menarik perhatiannya.
"Kita naik mobilnya Itan ya?" Rengek remaja itu. Caliana memicingkan mata. Namun melihat mimik keduanya yang tampak memelas. Ia hanya mengedikkan kepala menyuruh keduanya naik.
Jarak antara penginapan dan gedung pernikahan sebenarnya tidak sampai lima menit. Mobil yang membawa pengantin terparkir di depan gedung. Sementara sisa pengiring di atur oleh koordinator supaya masuk ke area parkir yang ada di bagian bawah gedung.
Setelah selesai memarkirkan mobilnya. Mereka kembali berjalan naik menuju bagian depan gedung.
Keluarga wanita sudah menyambut kedatangan mempelai pria dan rombongannya. Tampak senada mengenakan kebaya warna merah muda. Prosesi adat pun dimulai.
Caliana selalu takjub dengan setiap prosesi adat pernikahan. Ia selalu suka memperhatikan setiap tahapnya. Hal yang paling dia sukai dari semua itu adalah kehadiran Aki Lengser. Pria yang selalu berdandan seperti kakek-kakek yang menyambut pengantin pria dengan tingkah-tingkah dan ucapan lucu.
Setelah selesai prosesi dan sambutan serta petuah. Akhirnya akad berlangsung. Seluruhnya serentak mengucapkan sah. Dan setelah itu sungkeman serta adat lainnya dilaksanakan.
Sementara prosesi adat masih berlangsung. Beberapa tamu dipersilahkan menikmati hidangan sampai nanti mereka akan dipanggil untuk berfoto bersama pengantin.
Gita dan Caliana sedang berada di stand snack ketika beberapa orang pria datang. Jelas mereka bukan rombongan tamu yang datang bersama dari Bandung.
Salah satu pria yang mengenakan kemeja hitam menyapa dengan ramah. "Teman pengantin pria?" Tanyanya. Gita dan Caliana mengangguk.
"Saya Randi. Sepupunya pengantin wanita. Boleh kenalan?" Tanyanya ramah.
Gita mengulurkan tangan. Pria di hadapannya benar-benar tipe Gita. Berwajah manis dengan senyum dan mata ramah. "Gita. Ini teman saya Caliana." Gita memperkenalkan. Ketika Caliana hendak mengulurkan tangan. Teriakan dari suara yang teramat dikenalnya menginterupsi.
"Mama!" Teriakan itu membuat Caliana memutar bola mata. Carina berjalan cepat menuju ke arahnya. Memperhatikan ketiga pria yang berdiri di hadapan Caliana secara bergantian. "Mama kemana aja sih, Carin cariin juga." Rengeknya dengan gaya manjanya yang khas. Gita terbelalak, begitupun ketiga pria di depannya. Sementara Caliana hanya bisa pasrah.
"Ma-mama?" Randi tampak terbata. Memperhatikan Caliana dan Carina bergantian. Wajah mereka yang bisa dikatakan mirip tentu saja menguatkan perkataan Carina.
"Iya Om, ini Mama aku. Jangan kira karena wajahnya cantik trus kelihatan awet muda dia disebut single ya. Umur Mama nya Cari ini udah tiga lima." Carina memandang Randi dengan tatapan sungguh-sungguh. Randi lagi-lagi menatap Carina dan Caliana bergantian. Gita hanya bisa menyunggingkan senyum serba salah. "Om-om, kalo mau kenalan sama tante Gita aja. Udah single, cantik, baik lagi." Carina berpromosi. Gita jadi malu sendiri.
Caliana menarik napas panjang. Mencoba menahan kesal. Keinginan terbesarnya saat itu adalah menjitak kepala Carina. Bagaimana tidak. Apa maksud dan tujuan keponakannya itu menurunkan pamor Caliana dengan menyebutnya Mama dan mengatakan usianya 35 tahun? Apa Caliana memang setua itu.
Kesal karena ulahnya. Caliana akhirnya memutuskan pergi menjauh. Ia tahu Carina mengekorinya, begitu juga dengan Gita. Setelah berada di area luar gedung, Caliana membalikkan tubuhnya seketika. Membuat Carina yang tak siap balik menubruknya. "Itaan, kalo jalan hati-hati dong." Gerutu Carina. Caliana balas memelototinya.
"Maksud kamu di dalam itu apa?" Tanyanya dengan nada sinis. Carina memberikan cengirannya.
"Gak ada. Cuma jaga-jaga aja. Kan Itan biasanya gak suka kenalan-kenalan sama cowok gak jelas kayak gitu." Jawab Carina polos.
"Harus ya, kamu ngaku jadi anak Itan trus bilang umur Itan 35 tahun? Emangnya muka Itan setua itu?" Caliana benar-benar emosi, sementara Gita tampak berusaha menahan tawanya.
Carina hanya menundukkan kepala. Ia tahu bahwa Caliana sedang berada dalam mode yang tidak bisa diajak bercanda. "Maaf." Gumam Carina. Ia benar-benar merasa bersalah.
"Itan mau balik. Kamu gak usah ngikutin. Kamu datang kesini bareng Qilla. Jadi pulang sama mereka." Caliana lantas turun dari gedung dan berjalan menuju tempat parkir. Gita masih saja mengekorinya walaupun kesusahan karena rok dan wedges nya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Gita melepas wedgesnya dan mengurut kakinya. "Loe mesti ya sengamuk itu sama Carin. Dia mukanya udah mau nangis loh." Tegur Gita. Caliana sudah mengeluarkan mobilnya dari parkiran dan melajukannya kembali ke arah penginapan.
"Dia udah kelewatan. Gue gak suka. Bercanda pun ada batasnya." Jawab Caliana dingin.
"Kenapa? Loe marah karena gagal kenalan sama cowok tadi?" Gita mencoba bergurau. Caliana mendelik. "Iya sorry. Habis loe dari semalem sensi mulu. Perasaan bukan tanggal periodik. Tapi kok bawaannya kayak mau datang bulan aja."
"Gue cuma sebel. Titik. Udah gak usah banyak nanya." Caliana memarkirkan mobilnya di area parkir penginapan. Tanpa menunggu Gita, ia berjalan dengan cepat menuju kamarnya. Sewa kamar mereka masih berlaku untuk beberapa jam kemudian. Dan Caliana berencana menghabiskan sisa waktu itu dengan tidur.
Sementara di gedung. Syaquilla tengah mengusap punggung Carina yang tak berhenti menangis semenjak kepergian Caliana.
"Itan.. marah... Hiks.." ucapnya disela isakannya.
"Kamu sih. Kan aku udah bilang, jangan. Tapi masih ngeyel aja." Syaquilla mengingatkan. Carina malah balas cemberut.
"Terus kamu mau cowok itu pedekate sama Itan trus mereka kontekan trus lama-lama jadian?" Cerocos Carina dengan suara sengaunya. Syaquilla meringis. Kemudian menggelengkan kepala. "Kan. Kamu gak mau. Hiks." Carina menyedot ingus. "Gimanapun caranya, Carin mesti buat Itan maafin Carin."
"Tapi gimana?" Syaquilla bingung sendiri. Keduanya hanya terdiam.
___________
Spin off Caliana, Bukan Istri Cadangan
- Syaquilla's Diary
- Ilker's Bride
- Terjebak Cinta Pria Italia
- To Lost You, I Wont
jangan lupa untuk tap ♥️ di cerita ini & cerita lainnya. follow juga akun penulisnya. Info bisa dipantau di OG story Restianirista.wp ya.
jangan lupa komeeen