Part 05 (Deg-deg'an)

1030 Words
“Mau dibantuin nggak?!” Deg Almahira tersentak kaget karena Ashraf tiba-tiba sudah ada di belakang tubuhnya. Keduanya saling menatap melalui pantulan cermin di hadapan mereka. Namun dalam hitungan detik Almahira lebih dulu memutus kontak mata. Bertatapan dengan Ashraf membuat jantungnya tidak aman. “Nggak perlu! Tadi kan Almahira sudah bilang nggak usah.” jawabnya dengan nada ketus “Yakin?” “Iya.” “Huft.” Ashraf menghela nafas kasar. “Kenapa sih perempuan suka Jaim kalau dibantuin? Kalau kesulitan tinggal bilang, nggak usah Jaim segala.” lanjutnya “Ck, lebih baik Pak Ashraf jauhan dari Almahira, Almahira bisa melakukan semuanya sendiri.” “—“ Ashraf terdiam. Tanpa menjawab perkataan Almahira, Ashraf membantu istrinya melepas jarum yang menempel di hijab perempuan itu. Saat tangan Ashraf memegang kepalanya Almahira seketika terdiam mematung. Ia tidak menyangka laki-laki itu benar membantunya. “Pak Ashraf…” “Diam! Saya bantu biar cepat selesai.” belum selesai Almahira bicara Ashraf langsung memotongnya begitu saja. Almahira seketika menutup mulutnya rapat. Ia membiarkan Ashraf melepas semua jarum yang menempel di hijabnya. Ia menatap laki-laki itu dari pantulan kaca di depannya. Wajah Ashraf begitu serius membuat Almahira menahan senyum. “Ternyata Pak Ashraf tampan juga!” ucapnya dalam hati dalam kondisi tidak sadar. “Astagfirullah’haladzim.” Almahira geleng-geleng kepala saat menyadari apa yang ia pikirkan. Ashraf mengernyitkan kening melihat Almahira tiba-tiba ber’Istigfar. Apalagi saat geleng-geleng kepala membuatnya sedikit kesulitan melepas jarum. “Kamu kenapa sih? Saya kesulitan lepas jarumnya kalau kamu banyak gerak.” “Eh,” Almahira langsung terdiam. Ia merutuki dirinya sendiri. “Nggak papa, Pak.” “Kamu kenapa tiba-tiba Istigfar?” Almahira tersenyum canggung. Malu sekali, pikirnya. “Nggak papa, Pak.” “Aneh!” Tidak lama Ashraf pindah ke hadapan Almahira untuk melepas jarum yang ada di bawah leher istrinya. Almahira sedikit mendongak untuk mempermudah suaminya melepas jarum tersebut. Ia sedikit melirik ke bawah menatap suaminya. Jarak wajah keduanya cukup dekat membuar perasaan Almahira tidak karuan. Bahkan Almahira bisa merasakan hembusan nafas Ashraf menerpa kulit wajahnya. “Ya Allah, ada apa dengan jantungku? Aku Merasa tidak mempunyai penyakit riwayat jantung.” ucapnya dalam hati Deg.. deg.. deg Detak jantung Almahira semakit berdegup kencang. Ia bisa melihat wajah tampan Ashraf dengan jarak yang cukup dekat. Bahkan ia tidak menyangka bisa menatapnya dengan jarak sedekat ini, sedangkan posisi ini yang selalu diharapkan oleh teman-temannya di kampus. “MasyaAllah, Pak Ashraf memang begitu tampan!” ucapnya dalam hati Tanpa Almahira sadari Ashraf melirik ke arahnya. Tatapan wanita itu terlihat bengong. Ashraf telah berhasil melepas jarum yang ada di leher Almahira, namun perempuan itu tidak menyadarinya. Dan tiba-tiba… Cup “Eh,” Almahira mengerjapkan matanya berulang kali saat merasakan ciuman di bibirnya. Almahira langsung tersadar dari lamunannya. Entah dorongan dari mana Ashraf melakukan hal tersebut. Bahkan saat ini tubuhnya mematung menyadari perbuatannya barusan. “Astagfirullah, apa yang barusan aku lakukan?” ucapnya dalam hati “PAK ASHRAFF!” teriak Almahira Secepat kilat Ashraf menutup mulut Almahira dengan tangannya. Ia menatapnya penuh peringatan. Almahira memberontak meminta untuk dilepaskan. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali sembari menarik tangan Ashraf dari mulutnya. “Lewpasinn!” ujar Almahira dengan nada tidak jelas Ashraf melepas tangannya. “Huhh..” Almahira membuang nafas setelah tangan Ashraf terlepas dari mulutnya. “Pak Ashraf mau bunuh Almahira, ya!?” ucapnya dengan nada ketus “Kamu teriak-teriak, Almahira.” “Bapak yang mulai duluan. Pak Ashraf kenap mencium Almahira?” Skakmat Seketika Ashraf menutup mulutnya rapat-rapat. Ia bingung harus menjawab apa. “Kenapa diam aja? Jawab, Pak!” ujar Almahira “Saya…” Ashraf menggaruk pipinya yang tidak gatal. Ia tidak memiliki jawaban yang tepat. Bahkan ia tidak tahu kenapa bisa melakukan hal tersebut. Almahira menyilangkan kedua tangannya di depan d**a seolah melindunginya. Ia takut Ashraf melakukan yang tidak-tidak padanya. Wajahnya terlihat lucu membuat Ashraf gemas menatapnya. Namun sebisa mungkin ia menahan diri agar tidak kelepasan seperti kejadian beberapa menit yang lalu. “Pak Ashraf sudah menodai saya.” ujar Almahira dengan nada lucu “Almahira akan bilang hal ini ke Ayah dan Bunda.” lanjutnya Bukannya takut Ashraf justru memutar bola matanya malas. Ia justru menantang Almahira. “Silahkan! Bilang aja ke Ayah dan Bunda.” Almahira menganga tidak percaya mendengar jawaban Ashraf. Ia semakin takut berada di dekatnya. Buru-buru Almahira berdiri berniat menghindar dari hadapannya. Ia takut Ashraf kembali melakukan hal yang tidak-tidak padanya. Ashraf menautkan kedua alisnya melihat Almahira melangkah mundur dari hadapannya. “Kamu kenapa?” “Pak Ashraf jangan mencoba mendekati Almahira! Udah, stop di situ aja!” ucapnya dengan nada penuh peringatan “Ooh, saya tahu.” ucapnya dalam hati Dengan iseng Ashraf semakin mendekat ke arah istrinya. Saat Almahira mundur satu langkah ia berjalan maju satu langkah, hal itu membuat Almahira merasa was-was. “P-pak Ashraf mau ngapain? Saya bilang jangan dekat-dekat! Saya nggak mau.” Almahira terlihat gugup karena ketakutan. “Kamu kenapa mundur terus, hm? Bukannya wajar kalau saya melakukan itu ke kamu!?” “Kita kan sudah Sah menjadi pasangan suami-istri.” lanjut Ashraf Almahira menggelengkan kepalanya. Ashraf dengan sengaja semakin menakut-nakuti Almahira dengan perkataannya. “Pak Ashraf jangan macam-macam, ya!” “Kalau…” “Kalau apa?” Ashraf lebih dulu memotong perkataan Almahira “Almahira akan teriak kalau Pak Ashraf berani berbuat macam-macam.” ucapnya dengan cepat “Silahkan saja!” Ashraf tersenyum smirk menantang Almahira. Baru akan berteriak, tiba-tiba… Dugh “Awss..” Almahira meringis kesakitan punggungnya terbentur lemari baju. Ia tidak bisa mundur lagi karena sudah mentok. Ashraf tersenyum smirk. Ia berjalan semakin mendekat ke arah istrinya. Melihat Ashraf semakin dekat Almahira mencoba melarikan diri, namun sebelum hal itu terjadi Ashraf lebih dulu mengukung tubuhnya dengan kedua tangan. “Mau ke mana, hm?” ujar Ashraf sembari tersenyum kemenangan. “Pak Ashraf mau ngapain? Jangan macam-macam, ya!” “Katanya mau teriak? Sekarang teriak aja!” Ahsraf menantang istrinya. Glek Almahira menelan ludahnya kasar. Ia sampai menahan nafas karena jarak keduanya cukup dekat. Rasanya ia ingin menghilangkan lemari di belakang tubuhnya saat ini. “Ck, siapa sih yang naruh lemari di sini?” ucapnya dalam hati “Ayah, Bunda, tolongin Almahira! Pak Ashraf mau berbuat macam-macam ke Almahira.” Ia berteriak dalam hati berharap kedua Orang Tuanya mendengar suara hatinya. Next>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD