Part 04 (Malam pertama?)

1105 Words
“Ashraf, kamu nggak mau masuk ke kamar?” ujar Zainal Ahsraf terdiam sejenak. “Nanti saja, Abi.” Acara Pernikahan Ashraf dan Almahira sudah selesai sejak satu jam yang lalu. Para tamu undangan sudah pulang, begitupun dengan pihak keluarga. Sekarang hanya tinggal keluarga inti yang masih berkumpul. Acara yang begitu mendadak menjadi pertanyaan bagi keluarga besar, dan untung saja mereka bisa mengerti. “Istrimu pasti sudah menunggu.” Ashraf tersenyum canggung mendengarnya. Mendengar kata istri terdengar menggelitik dalam dirinya. Ia belum terbiasa mendengar kata tersebut. Apalagi acara pernikahannya begitu mendadak. Satu minggu adalah waktu yang cukup singkat untuk sebuah acara besar dan sakral seperti pernikahan. “Masih sore, Bi. Nanti saja kalau keluarga yang lain sudah pulang semua.” “Kapan mereka pulang, Ashraf? Mereka masih betah di sini untuk ngobrol. Sedangkan sekarang sudah lewat dari tengah malam. Kasihan istrimu sendirian di kamar.” “—“ Ashraf justru menggaruk hidungnya yang tidak gatal. Ia merasa ragu untuk menemui Almahira di kamar. “Iya, Ashraf. Apa yang dibilang Abi benar, kasihan Almahira pasti sudah nunggu kamu di kamar.” ujar Fatimah yang tiba-tiba bergabung dengan mereka. “Tapi…” “Udah sana! Disuruh pergi ada saja alasannya.” “Yaudah, iya.” Ahsraf pasrah jika Ibunya sudah meminta. Ia melangkah pergi meninggalkan kedua Orang Tuanya. Fatimah dan Zainal tersenyum menatap kepergian Ahsraf. Mereka merasa gemas dengannya karena Ashraf masih terlihat kaku dan malu-malu. “Ashraf kaku banget ya, Bi!” “Maklum baru pertama kali, Umi. Nanti kalau sudah terbiasa juga nggak kaku lagi.” “Tapi kan laki-laki harusnya bisa memahami situasi. Tapi Ashraf kakunya kelewatan, Bi.” Zainal terkekeh mendengar perkataan istrinya. “Sabar, Umi! Semua juga butuh proses, nggak harus langsung bisa.” “Hmm.. baiklah!” Di sisi lain, Ahsraf berdiri tepat di depan pintu kamar Almahira. Sudah terhitung beberapa detik ia berdiri diam di depan kamar tersebut. Ia merasa bingung harus melakukan apa. Bahkan ia merasa takut saat ingin mengetuk pintu kamar Almahira. Ashraf masih tidak yakin satu kamar dengan seoran perempuan, meskipun mereka sudah menikah. “Ketuk nggak ya?” gumamnya “Huhh..” Ashraf membuang nafas kasar. “Bismillah’hirohmanirrahim.” Tok.. tok.. tok Setelah mengucap Basmalah Ashraf memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Almahira. Justru yang ada di pikirannya saat ini apakah Almahira bisa menerima dirinya satu kamar dengannya? Apalagi keduanya tidak saling mengenal. Tok.. tok.. tok “Al…” Ceklek Belum selesai bicara tiba-tiba pintu kamar terbuka dan terlihatlah Almahira di ambang pintu. “K-kenapa, Pak?” tanya Almahira dengan nada gugup “—“ Ashraf terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Almahira masih diam di ambang pintu sembari menunggu jawaban suaminya. Ia menunduk tidak berani menatap wajah Ashraf sedikitpun. Dan seketika suasana jadi canggung karena keduanya saling diam. Mereka tidak tahu harus melakukan apa. “Em.. kalau tidak ada perlu Almahira tutup pintunya.” “Tunggu!” Ashraf mencegahnya. “Em.. kalau kamu menutup pintu lalu saya tidur di mana malam ini?” Glek Almahira menelan ludahnya kasar. Ia membenarkan perkataan suaminya. Tapi, apa mereka tidur berdua malam ini? Membayangkan saja membuat Almahira bergidik ngeri, lalu bagaimana jika benar terjadi? Almahira mencengkram knop pintu cukup kuat. Ia sedang berperang dengan hati dan pikirannya. “Jadi.. malam ini Pak Ashraf tidur di kamar Almahira?” Ashraf mengangguk pelan. “Iya.” “—“ Almahira terdiam. “Boleh saya masuk?” “Ha?” reflek Almahira mendongak setelah mendengar pertanyaan suaminya, dan seketika tatapan keduanya bertemu. Namun tidak lama Almahira memutus kontak mata terlebih dulu. “Saya juga mau istirahat!” “B-boleh!” Akhirnya Almahira menepi memberi Ashraf jalan agar bisa masuk ke dalam. Jantungnya berdebar kencang. Saat ini ia berada di tempat yang tidak aman untuk jantungnya. Namun di sisi lain, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah. Mereka pengantin baru jadi wajar saja jika tidur dalam satu ruangan. Almahira menutup pintu kamar. Setelahnya ia tidak langsung berbalik badan. Ia justru diam di tempat karena takut untuk bertatapan dengan suaminya. Melihat Almahira yang masih diam di belakang pintu membuat Ashraf bertanya-tanya. Ashraf mendekat ke arah Almahira lalu menepuk pelan bahu istrinya. “Almahira, kamu…” “Astagfirullah’haladzim.” pekik Almahira karena terkejut Jantung Ashraf serasa ingin lepas dari tempatnya. Ia ikut terkejut saat Almahira berteriak. “Kamu kenapa?” “Pak Ashraf yang kenapa?” Almahira mengelus dadanya. Hampir saja jantungnya lepas. “Kamu ngapain diam di belakang pintu?” “Em…” “Ck, bukan urusan Pak Ashraf!” jawabnya dengan nada ketus. Almahira melangkah pergi dari hadapan suaminya. Ia duduk di pinggir kasur sembari melepas satu per satu jarum hijabnya. Ia membutuhkan bantuan karena sulit untuk melepasnya satu per satu. Meskipun begitu ia tidak meminta Ashraf untuk membantunya. Lebih baik ia berusaha sendiri sampai bisa. Melihat istrinya kesulitan Ashraf berniat membantunya. “Butuh bantuan?” “Nggak!” Almahira memalingkan wajah. Ia enggan menatap wajah Ashraf yang terlihat menyebalkan di matanya. Ia masih berusaha sendiri karena merasa segan jika Ashraf membantunya. Ia belum terbiasa berdekatan dengan seorang laki-laki, apalagi dalam satu ruangan tertutup seperti sekarang ini. Ashraf menatap Almahira seperti seorang Bos yang memantau pekerjaan pegawainya. Hal itu membuat Almahira merasa risih. “Ck, Pak Ashraf ngapain sih berdiri di situ? Pergi sana!” ujar Almahira dengan nada ketus. “Kamu kesulitan itu.” “Enggak. Pak Ashraf jangan sok tahu.” “Saya sudah biasa melakukan hal seperti ini. Saya juga memakai hijab di setiap harinya.” lanjutnya dengan nada kesal Ashraf mengangkat bahunya acuh. Karena Almahira yang terus menyangkal ia beralih duduk di sofa yang ada di dekatnya. Ia bermain ponsel daripada terus berdebat dengan istrinya. Tanpa Ashraf sadari Almahira sesekali menatap ke arahnya. Almahira sebenarnya membutuhkan bantuan namun malu untuk mengatakannya. “Ck, nggak peka banget sih jadi suami!” ucapnya dalam hati “Harusnya dibantuin, bukan malah main ponsel.” Almahira menggerutu tidak jelas, hal itu membuat pekerjaannya tidak kunjung selesai. Ia merasa kesal dengan dirinya sendiri. “Ck, ini gimana sih?” kesalnya Ashraf melirik ke arah Almahira saat mendengar suara perempuan itu. Ia menahan tawa melihat wajah istrinya yang terlihat kesal. “Tadi bilangnya nggak butuh bantuan, tapi sekarang marah-marah nggak jelas.” ucapnya dalam hati “Gitu aja sok-sok’an nolak dibantuin.” “Dasar perempuan!” Ashraf masih diam sembari menatap istrinya dari sofa. Ia ingin tahu sampai mana Almahira bisa bertahan untuk tidak meminta bantuan padanya. Ashraf bersendekap d**a sembari menahan tawa. Ternyata menikah dengan mahasiswanya sendiri tidak semengerikan itu. Mungkin, di waktu selanjutnya ia harus bisa lebih bersabar menghadapi sikap Almahira yang usianya lebih muda darinya. "Masih nggak mau minta bantuan juga? Udah tahu kesulitan malah dipaksa bisa sendiri." ucapnya dalam hati Next>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD