Part 03 (Tiba-tiba menikah)

1084 Words
Satu minggu adalah perputaran waktu yang begitu cepat. Almahira tidak menyangka hidupnya penuh kejutan. Tiba-tiba masuk kuliah, dan sekarang tiba-tiba menikah. Bahkan ia tidak mengenal calon suaminya. Mereka saling tahu hanya karena Dosen dan Mahasiswa. “MasyaAllah.. cantik sekali kamu, nak!” Rahma memuji kecantikan putrinya. Almahira tersenyum kecil. Ia mengakui dirinya hari ini sangat cantik. “Senyumnya yang tulus, sayang. Ini kan hari pernikahan kamu.” “Huhh..” Almahira menghela nafas kasar. “Bunda, Almahira kan masih kuliah kenapa harus dijodohkan sih? Emangnya Almahira nggak bisa cari jodoh sendiri.” ucapnya dengan wajah cemberut “Bukan begitu, Almahira. Ayah dan Bunda percaya dengan putra dari Tante Fatimah. Kami mengenal cukup baik, dan karena itu Ayah dan Bunda yakin Ashraf laki-laki yang baik dan bertanggung jawab.” “—“ Almahira terdiam. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Almahira pasrah dengan yang sudah dibuat oleh kedua Orang Tuanya. Lagipula hari ini ia akan menikah dengan laki-laki pilihan merek. Dan, laki-laki itu adalah Dosen’nya di kampus. Di sisi lain, para laki-laki sedang bersiap karena acara Ijab Qobul akan segera dimulai. Ashraf sudah duduk di hadapan Ayah dari mempelai wanita. Dibalik wajah dinginnya ia menutupi perasaan yang sesungguhnya. Jantungnya saat ini berdebar kencang. Dalam hati ia terus berdoa untuk kelancaran hari ini. “Kamu sudah siap?” tanya Akmal Ashraf mengangguk yakin. “InsyaAllah.” “Kalau gitu mari kita mulai acaranya.” Akmal menggenggam tangan Ashraf sembari menatapnya lekat. Beliau menarik nafas panjang lalu dihembuskan secara perlahan. “Bismillahirohmanirrahim.” gumamnya “Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Ahmad Ashraf Al-Farizi bin Zainal Abidin Al-Farizi dengan anak saya yang bernama Syahida Al-Mahira dengan mas kawinnya berupa uang satu milliar dan satu rumah dibayar tunai.” "Saya terima nikahnya dan kawinnya Syahida Al-Mahira binti Akmal Dzaki Pratama dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai.” “Bagaimana para saksi? Sah?” “SAH!” “Alhamdulillah’hirabbilalamin.” Ashraf mengucap Hamdalah karena kelancaran hari ini. Ia mengucap Qobul dengan satu tarikan nafas. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Ia merasa terharu sekaligus bahagia secara bersamaan. Dan tepat di hari ini ia adalah seorang suami. Tanggung jawabnya semakin besar untuk keluarga kecilnya. “Alhamdulillah, Ya Allah. Engkau telah mempermudah acara hari ini.” dalam hati Ashraf mengucap Syukur pada Tuhan Yang Maha Esa. “Alhamdulillah. Akhirnya kamu dan Almahira telah resmin menjadi pasangan suami istri secara Agama dan Negara.” ujar Akmal sembari tersenyum sekaligus bangga pada menantunya itu. “Iya, Ayah. Terima kasih.” *** Tanpa sadar Almahira menitihkan air matanya setelah acara Ijab Qobul terlaksana dengan lancar. Ia bisa melihat dari televisi di hadapannya yang langsung tersambung dengan kondisi di luar. Meskipun sempat tidak suka dengan perjodohan yang dilakukan kedua Orang Tuanya secara tiba-tiba, namun di lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa terharu sekaligus bahagia. Rahma menggenggam kedua tangan putrinya. Beliau merasakan hal yang sama dengan Almahira. “Alhamdulillah, kamu telah resmi menjadi Istri dari suamimu, Ashraf.” “I-iya, Bunda.” Perlahan Rahma melepas genggaman tangannya. “Bunda mau ke mana?” tanya Almahira “Bunda mau keluar, nak.” “Kenapa keluar, Bunda?” “Sebentar lagi Ashraf akan datang ke sini untuk menjemput kamu.” “Tapi…” “Sstt.. nggak papa, sayang. Kamu yang tenang, ya!” Rahma mengelus pipi putrinya dengan lembut agar Almahira bisa lebih tenang. “Bunda keluar dulu, ya!” Jantung Almahira semakin tidak karuan setelah kepergian Ibunya. Ia memainkan jemarinya karena gugup. “Kalau Pak Ashraf datang aku harus bagaimana?” gumamnya Dan tidak lama seseorang mengetuk pintu dari luar kamar. Tok.. tok.. tok Deg Tubuh Almahira mematung di tempat saat mendengar suara ketukan pintu. Ia yakin seseorang tersebut adalah suaminya, Ashraf. Pikiran dan perasaan Almahira semakin tidak karuan. Ia tidak tahu harus melakukan apa setelah ini. Padahal sebelumnya Rahma sudah memberitahu apa yang harus ia lakukan saat bertemu Ashraf pertama kali. Ceklek “Assalamualaikum.” salam Ashraf sembari membuka pintu kamar “Waalaikumsalam.” Almahira menjawabnya dengan nada begitu pelan sampai Ashraf tidak mendengarnya. Setelah menutup pintu Ashraf berjalan menghampiri Almahira yang sedang memunggunginya. Jantung keduanya berdebar kencang karena baru pertama kali berada dalam posisi ini. Bahkan Ashraf sendiri merasa bingung harus melakukan apa sekarang. “Em.. Almahira!” panggil Ashraf dengan nada gugup Almahira meremas jemarinya dengan cukup kuat. Bahkan saat ini nafas Almahira terlihat memburu seperti baru saja mengikuti lomba lari marathon. Perlahan Almahira berdiri lalu berdiri tepat di hadapan suaminya. Ia menunduk tidak berani menatap wajah Ashraf. “—“ keduanya saling diam tidak tahu harus melakukan apa. Entah dorongan dari mana tiba-tiba Ashraf mengulurkan tangan kanannya di hadapan Almahira. Perempuan itu mengerjapkan matanya berulang kali sembari berpikir apa yang dilakukan Ashraf. “K-kenapa, Pak?” tanya Almahira dengan nada gugup “Salim!” “Oohh..” Almahira mengambil tangan Ashraf dengan gemetar. Dan untuk pertama kalinya mereka saling bersentuhan secara langsung. Ashraf mengangkat tangan kirinya lalu memegang kepala Almahira untuk membaca Doa keberkahan rumah tangga mereka. "Allahumma inni as'aluka min khairihaa wa khairimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih." “Aamiin.” Almahira mengaminkan Doa yang dipanjatkan Ashraf untuk keberkahan rumah tangga mereka. Dan setelahnya suasana kembali canggung. Ashraf dan Almahira masih belum terbiasa, apalagi berduaan di tempat tertutup seperti ini. Ashraf mengepalkan kedua tangannya karena ingin menggenggam tangan Almahira, namun ia merasa ragu. “Em.. lebih baik kita keluar sekarang! Keluarga yang lain pasti menunggu kita di bawah.” dan akhirnya Ashraf membiarkan istrinya berjalan sendiri di belakangnya. Almahira berdecak dalam hati. Bisa-bisanya Ashraf membiarkan dirinya berjalan sendiri tanpa menggenggam tangannya, ataupun hal lainnya. “Nggak peka banget sih!” gerutunya “Apa?” tiba-tiba Ashraf berbalik badan karena mendengar suara Almahira. “Apa?” Almahira balik bertanya dengan tatapan bingung. “Kamu mau saya genggam?” “Dih, ge’er banget. Siapa juga yang mau digenggam! Emangnya Almahira nggak bisa jalan sendiri.” jawabnya dengan nada ketus Almahira melanjutkan langkahnya. Saat tubuhnya sejajar dengan Ashraf lak-laki itu langsung menggenggam tangannya. Sontak langkah Almahira langsung terhenti. Telapak tangannya terasa hangat karena genggaman laki-laki itu. “Kalau memang mau digenggam tinggal bilang aja langsung, nggak perlu menggerutu di belakang.” ujar Ashraf Dan setelahnya Ashraf melangkah diikuti oleh Almahira dari belakang. “Ishh.. nyebelin banget sih Pak Ashraf!” ucapnya dalam hati Baru saja menikah mereka justru terlibat pertengkaran kecil. Entah Ashraf yang tidak peka atau Almahira yang belum bisa ikhlas menerima pernikahan mereka. Perjodohan yang terjadi secara mendadak tidak mungkin membuat Almahira ikhlas begitu saja. Pasti ada rasa kesal sekaligus kecewa dengan keputusan Orang Tuanya. Next>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD