“Assalamualaikum.” salam Ashraf
“Waalaikumsalam.”
Semua menatap ke sumber suara saat mendengar suara seseorang tersebut. Dan betapa terkejutnya Almahira saat melihat siapa yang datang. Matanya melebar menatap laki-laki tersebut. Dan saat Ashraf menatap ke arahnya secepat kilat ia langsung menunduk.
“Ya Allah, kenapa ada Pak Ashraf di sini?” batin Almahira bertanya-tanya
Jantungnya berdetak cepat. Ia tidak menyangka Dosennya adalah putra dari keluarga yang saat ini ia temui. “Apa yang harus aku lakukan?”
Ahmad Ashraf Al-Farizi adalah putra dari Zainal Abidin Al-Farizi dan Fatimah Al-Farizi. Ashraf adalah laki-laki tampan yang berprofesi sebagai seorang Dosen di kampus ternama yang ada di Pusat Kota. Bukan hanya itu, usianya yang masih 25 tahun membuatnya menjadi rebutan oleh perempuan di luar sana. Dan ternyata ia juga menjabat sebagai Dosen dari mahasiswa yang bernama Syahida Al-Mahira.
Syahida Al-Mahira adalah putri kandung dari pasangan Akmal Dzaki Pratama dan Rahma Al-Mahira. Gadis berusia 22 tahun tersebut adalah sosok perempuan cantik yang memiliki sifat tengil. Senyumannya manis dilengkapi lengsung pipi di sebelah kiri. Dan seumur hidupnya ia tidak pernah menyangka akan dijodohkan dengan Dosennya sendiri oleh kedua Orang Tuanya.
“Silahkan duduk, nak!” ujar Akmal
Ashraf tersenyum kecil. “Terima kasih, Om.”
“Nah, ini putraku namanya Ashraf!” ujar Zainal memperkenalkan putranya pada Keluarga Pratama.
Akmal dan Rahma tersenyum menatap Ashraf. Namun berbeda dengan Almahira hanya terus menunduk semenjak kedatangan laki-laki itu. Ia memainkan jemarinya dengan detak jantung yang tidak beraturan. Ia ingin menghilang detik ini juga.
Rahma menepuk pelan lengan putrinya. “Sayang, itu kenalin putra dari Om Zainal dan Tante Fatimah!”
“I-iya, Bun.” Jawabnya dengan nada gugup
Rahma mengernyitkan kening melihat sikap putrinya. Beliau tersenyum canggung karena merasa sikap Almahira kurang sopan di hadapan Keluarga Al-Farizi. Rahma mendekatkan wajahnya pada telinga Almahira lalu membisikkan sesuatu pada putrinya itu. “Almahira, tolong jaga sikap kamu di hadapan teman Ayah dan Bunda, nak. Jangan membuat kamu malu.”
Perlahan Almahira memberanikan diri untuk mendongak. Dan seketika tatapannya bertemu dengan mata milik Ashraf. Namun dalam hitungan detik ia langsung mengalihkan pandangan. Jika bukan karena Orang Tuanya ia sudah kabur dari sini.
“Karena Ahsraf sudah datang kita mulai makan malamnya!” ujar Zainal
Mereka semua mengangguk sembari tersenyum. Selama makan malam tidak ada obrolan sama sekali, yang ada hanya suara dentingan sendok dan piring. Mereka fokus dengan makanan masing-masing. Apalagi Almahira terlihat begitu Jaim di hadapan Dosen’nya itu.
“Ya Allah, Almahira nggak nyaman sekali berada di sini.” ucapnya dalam hati
“Ayah, Bunda, Almahira mau pulang!”
Beberapa menit kemudian
Setelah makan malam selesai dilanjutkan dengan inti acara. Kedua keluarga tersebut tidak berhenti tersenyum, namun berbeda dengan Ashraf dan Almahira. Keduanya terlihat diam dengan perasaan masing-masing.
“Pak Akmal, boleh saya memulai acara?” tanya Zainal
“Silahkan, Pak!”
Sebelum berbicara lebih panjang Zainal menarik nafas panjang lalu beliau hembuskan secara perlahan. “Ashraf, Nak Almahira, sebenarnya tujuan kami mengadakan acara ini karena ingin menjodohkan kalian berdua.” ucapnya to the point
Jedarr
Seperti tersambar petir di siang bolong, tubuh Almahira mematung di tempat. Ia mendongak menatap Zainal dengan tatapan tidak percaya. Dan setelahnya ia beralih menatap kedua Orang Tuanya meminta jawaban.
“Ayah, Bunda, apa maksud Om Zainal?”
“Om Zainal sedang bercanda, ya?” ucapnya sembari tersenyum canggung
Rahma menggenggam tangan Almahira, hal itu membuat perasaannya semakin tidak karuan. “Tidak, nak. Om Zainal tidak bercanda. Apa yang beliau katakan memang benar.”
Deg
“Ha?” Almahira menganga tidak percaya. Apa ia sedang bermimpi saat ini?
“Iya, nak. Kamu dan Ashraf sudah kami jodohkan.” ujar Akmal
“T-tapi kenapa Ayah dan Bunda nggak pernah bilang apa-apa ke Almahira?”
Mata Almahira berkaca-kaca menahan tangis. Ia merasa kecewa dengan kedua Orang Tuanya karena sebelumnya mereka tidak mengatakan apapun. Akmal dan Rahma menyimpan rapat rahasia ini. Dan saat waktunya tiba sangat mengejutkan bagi Almahira.
“Maafin Ayah dan Bunda, ya.”
“Ayah dan Bunda hanya menginginkan yang terbaik untuk kamu.” ujar Rahma
“—“ Almahira terdiam.
Ia menunduk menyembunyikan air matanya. Ia menahan tangis karena malu menangis di hadapan Ashraf. Almahira tidak tahu harus mengatakan apa. Jika menolak sekalipun sepertinya tidak ada gunanya, karena Akmal dan Rahma akan tetap melanjutkan perjodohan itu.
“Kenapa ini semua terjadi begitu tiba-tiba, Ya Rabb?”
“Hal ini begitu mengejutkan bagi Almahira.” ucapnya dalam hati
“Bagaimana dengan kamu Ashraf? Apa kamu setuju dengan perjodohan ini?” tanya Akmal
Ashraf terdiam sejenak. Tatapannya tertuju ke arah Almahira yang sedang menunduk dalam. Ia memikirkan perasaan perempuan itu. Almahira begitu terkejut saat mendengar perjodohan mereka. Namun, hal itu tidak berpengaruh padanya karena ia sudah tahu sebelumnya.
“Em.. kalau saya menurut apa kata Abi dan Umi, Om.”
“Kalau menurut mereka ini yang terbaik maka saya akan menerima perjodohan ini.” lanjutnya dengan nada tegas, tanpa keraguan sedikitpun.
Almahira menganga tidak percaya. Apa maksud Ashraf langsung menerima perjodohan mereka? Sebagai seorang perempuan Almahira kurang setuju dengan perjodohan ini. Namun di satu sisi, lidahnya terasa keluh saat ini berucap. Lagipula kedua Orang Tuanya tidak meminta persetujuan dari Almahira. Mau atau tidak mau mereka akan tetap menikah.
Jawaban Ahsraf membuat mereka semua tersenyum, kecuali Almahira. “Alhamdulillah. Om dan Tante senang sekali kamu menerima perjodohan ini.” Ashraf hanya tersenyum sebagai jawaban.
“Apa mereka tidak butuh jawaban dari Almahira?” batinnya bertanya-tanya
Almahira sama sekali tidak diberikan untuk menjawab ataupun menolak tentang perjodohan itu. Bahkan mereka semua tidak ada yang bertanya tentang pendapatnya. Almahira semakin kecewa dengan hal itu.
“Jadi, kapan pernikahan mereka akan dilaksanakan?” tanya Fatimah
“Ashraf bagaimana denganmu? Karena sepertinya hal ini kamu yang lebih pantas untuk menjawab.” ujar Zainal sembari menatap putranya.
Sontak semua mata tertuju ke arah Ashraf. Mereka semua menunggu jawaban laki-laki itu. “Lebih cepat lebih baik.”
Lagi-lagi Almahira dibuat terkejut dengan jawaban Ashraf. Ia tidak menyangka dengan jawaban laki-laki itu. Namun berbeda dengan respon keluarganya yang lain. Mereka justru tersenyum bahagia mendengar jawaban Ashraf yang tegas.
“Baiklah. Pernikahan kalian akan dilaksanakan satu minggu lagi!” ujar Akmal
"Apa?" reflek Almahira memekik karena terkejut.
"Iya, sayang. Jawaban Ashraf benar."
"Hal-hal baik harus segera dilaksanakan, tidak baik ditunda terlalu lama." ujar Rahma sembari tersenyum bahagia.
Almahira menatap kedua Orang Tuanya dengan tatapan tidak percaya. Bahkan mereka tidak bertanya bagaimana perasaannya saat ini. Apakah ia setuju dengan perjodohan ini atau tidak? Yang mereka pikirkan justru kebahagiaan mereka sendiri. Almahira tidak menyangka kedua Orang Tuanya begitu egois. Mau bagaimanapun ia sudah besar, yang seharusnya bisa menentukan pilihannya sendiri.
"Almahira nggak menyangka Ayah dan Bunda bersikap egois seperti ini. Mau bagaimanapun Almahira berhak bahagia dengan pilihan Almahira sendiri." ucapnya dalam hati
Next>>