CELIA merasakan adanya embusan hangat menerpa kulit lehernya. Dia mengerang, mencoba menggerakkan tubuh, tapi tubuhnya terasa berat. Celia mulai membuka mata dengan perlahan, rambut jabrik berwarna hitam yang berada di depan matanya nyaris membuatnya menjerit, andaikan bayangan semalam tidak langsung melintas kembali di dalam ingatannya. Celia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia melirik Axel yang masih mendengkur pelan, terlelap di alam mimpi dengan wajah menghadap lehernya dan embusan napasnya yang membuat Celia merinding. "Xel!" panggilnya pelan, dia berusaha mendorong tubuh Axel agar menjauhinya saat tangannya tak menemukan kain apa pun melapisi tubuh pria itu. Matanya sontak melotot. Dia langsung mendorong tubuh Axel menjauh dengan paksa dan melihat jelas kalau