Pengorbanan dan Penkhianatan

1126 Words
Sampai di rumah, tubuh Kirana terasa lelah namun wajahnya justru memancarkan semacam kesegaran yang samar, sisa-sisa dari kenikmatan fisik yang baru saja dialaminya namun tidak berani ia akui. Dia menemukan Huda, suaminya, sedang duduk bersila di lantai dengan penuh kesabaran menyisir rambut putri mereka, Kiara. “Sayang… kamu sudah pulang?” sapa Huda dengan lembut, matanya yang lelah berbinar melihat istrinya. “Hm,” jawab Kirana singkat, berusaha menenangkan suara hatinya yang berteriak. “Kia… lihat, Mama beliin kesukaan Kia… donat coklat,” ucapnya sambil menyodorkan kotak kue, memberikan senyum manis pada putri kecilnya yang langsung bersorak girang. “Mas, kamu belum masak apa-apa, kan? Aku tadi beli lauk, jadi nggak usah repot-repot masak,” tambahnya cepat, berharap Huda tidak terlalu banyak bertanya. Huda mengerutkan kening, “Beli makanan enak begini, emang udah gajian?” tanyanya penuh harap. “Dapat rejeki lebih, Mas,” jawab Kirana, menghindari pandangannya. Dia tahu betapa suaminya merasa bersalah dan hancur karena keadaan mereka. Melihat bahu Huda yang tadinya tegap kini sering membungkuk memikul beban, Kirana memaksakan senyum yang lebih lebar. Baginya, rumah tangga adalah tentang berlayar bersama menghadapi badai. Terutama ketika nahkodanya sedang terpuruk. “Syukurlah…” desis Huda lega, tangannya yang kasar memegang erat tangan Kirana. “Semoga rejeki kita lancar terus ya…” “Mas…” Mulut Kirana tiba-tiba terasa kering. “Besok, saat Kiara sudah di sekolah, kamu ke kantorku ya… Bosku ingin interview kamu. Tadi aku iseng tanya-tanya soal lowongan, dan ada yang kasih tahu kalau Pak Bram lagi butuh orang.” “Oh ya? Ya ampun… Terima kasih, sayang…” Ucap Huda hampir tercekat. Dia menarik tubuh Kirana, menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya yang hangat sebelum mencium bibirnya dalam-dalam, lalu memeluknya erat. Kirana membeku, jantungnya berdebar kencang. Khawatir aroma parfum Bramasta atau bahkan bekas sentuhannya masih melekat. Dia belum sempat mandi. “Aku ingin kita bangkit bareng-bareng, Mas…” bisik Kirana, suaranya gemetar. “Katanya ada posisi kepala cabang. Tapi… di Surabaya.” “Surabaya?” Huda melepaskan pelukan, wajahnya menunjukkan kecemasan. “Gapapa, Mas. Di masa seperti ini, harus ada yang dikorbankan. Aku harus tetap kerja di sini. Kita titipkan Kiara saja ke Ibu di kampung. Ada Laras yang bisa bantu jaga, dia juga sangat sayang sama Kia.” “Kamu benar…” Huda menghela napas, rasa bersalah kembali menyergap. “Maafkan aku ya, Sayang, sudah membuatmu ikut kerja keras begini.” “Gapapa, Mas. Nanti, aku kerja untuk kebutuhan kita sehari-hari, dan kamu fokus untuk mencicil hutang, oke?” Suara Kirana lembut namun tegas, meski hatinya hancur mengingat uang dua ratus juta yang baru saja ia bayarkan—rahasia yang harus ia pendam sendiri agar debt collector tak lagi meneror. Setelah makan malam dan menidurkan Kiara, Kirana masuk ke kamar. Dia mandi panjang, berusaha membersihkan setiap jejak Bramasta dari tubuhnya. Dia mengenakan tanktop dan celana hotpants satin yang longgar, berusaha merasa nyaman di udara Jakarta yang pengap. “Sayang…” panggil Huda dari balik pintu. Suaranya terdengar lebih ringan, mood-nya jelas membaik oleh kabar lowongan kerja itu. Huda mendekat, menarik tubuh Kirana ke pelukannya. Dia menggapit tubuh istrinya di antara pahanya, lalu melumat bibir Kirana dengan rasa rindu yang membuncah. Sudah lama sekali sejak terakhir kali Huda menunjukkan hasratnya seperti ini. Kirana membalasnya, berusaha larut dalam ciuman itu, berusaha melupakan bahwa beberapa jam sebelumnya, bibir yang sama dicium oleh pria lain. Tubuhnya merespons, tetapi jiwanya terbelah. Setiap sentuhan Huda terasa begitu familiar dan penuh cinta, namun justru membuatnya semakin sadar akan pengkhianatan yang telah ia lakukan. Dia memejamkan mata, berusaha menikmati momen kebangkitan hasrat suaminya ini, sambil berharap bisa menyembunyikan konflik batin yang mengoyak-ngoyak hatinya. Esok harinya, setelah mengantarkan Kiara ke sekolah, Huda pulang sebentar untuk berganti pakaian. Dengan motor tua satu-satunya yang masih tersisa, ia berangkat menuju gedung megah Wira Baja. Kirana sudah menunggunya di area parkir, wajahnya tegang namun berusaha tersenyum menyambut suaminya. “Sudah siap, Mas?” tanyanya, menata dasi Huda yang sedikit miring. “Siap, Sayang. Doain ya,” ujar Huda, mencoba menyembunyikan gugupnya. Kirana mengantarnya hingga ke depan pintu kantor Bramasta. Jantungnya berdebar kencang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi di balik pintu itu—apakah wawancara kerja biasa, ataukah ada pertanyaan lain yang menyangkut dirinya. Ia hanya bisa berharap Huda tidak melakukan kesalahan. Proses wawancara terasa sangat lama. Kirana menunggu di luar, setiap detik terasa seperti penyiksaan. Ia membayangkan wajah Huda yang polos dan jujur, dan khawatir Bramasta akan mempermainkannya. Akhirnya, pintu terbuka. Huda keluar dengan wajah berseri-seri dan senyum lebar. “Aku diterima, Sayang!” katanya, hampir tidak percaya. “Gajinya lumayan, 27,5 juta per bulan. Kalau bisa tingkatkan penjualan, dapat bonus 10%. Aku juga dapat rumah dinas dan mobil di sana.” Kirana memaksakan senyum terbaiknya. “Alhamdulillah… Kapan berangkat?” “Minggu ini. Senin sudah mulai kerja.” Huda masih terlalu bersemangat untuk menyadari kekakuan dalam suara istrinya. Sebuah rasa hampa yang dalam menyergap Kirana. Ini seharusnya kabar baik, tapi mengapa hatinya terasa begitu kosong? “Sayang… ini demi rumah tangga kita. Sementara LDR dulu, ya. Kalau ekonomi sudah stabil, aku bisa pulang tiap weekend,” kata Huda penuh keyakinan, memegang pundak Kirana. Kirana hanya bisa mengangguk, lidahnya terasa kelu. “Aku pulang dulu, langsung jemput Kia,” pamit Huda sebelum pergi dengan langkah ringan. Setelah suaminya pergi, Kirana menarik napas dalam. Ia naik kembali ke lantai atas. HRD telah menginstruksikan bahwa mulai besok, ia resmi menjadi asisten pribadi Bramasta dan akan bekerja di lantai yang sama dengannya. Dengan jantung berdebar kencang, ia berjalan menuju pintu kantor Bramasta. Perasaan takut dan penasaran bercampur jadi satu. Ia mengetuk pelan. “Masuk!” suara Bramasta terdengar tegas dari balik pintu. Kirana membuka pintu dan masuk dengan langkah gamang. “Kunci!” perintah Bram tanpa basa-basi. Dengan tangan gemetar, Kirana mengunci pintu. Bramasta berdiri di dekat jendela, pandangannya tajam dan mengawasi. “Kamu mandi dan bersihkan diri dulu. Keluar hanya dengan handuk saja.” Perintah itu terdengar dingin dan penuh otoritas. Bramasta sengaja menyuruhnya mandi—ia tahu Kirana baru saja bersentuhan dengan suaminya, dan ia tidak suka ada jejak lelaki lain di tubuh perempuan yang kini ia anggap miliknya. Kirana menunduk, rasa malu dan harga dirinya tercabik sekali lagi. Namun, ia hanya bisa menurut. Ia berjalan ke kamar mandi pribadi di dalam ruangan Bram, meninggalkan Bramasta yang masih menyandarkan tubuhnya di meja, menatapnya dengan pandangan posesif. Dengan langkah gontai, Kirana memasuki kamar mandi pribadi yang mewah. Suara kunci pintu yang ia putar terasa seperti mengunci nasibnya sendiri. Dia membuka pakaian kerjanya satu per satu, merasa setiap helainya menyimpan bau Huda—bau kesederhanaan, cinta, dan pengkhianatan. Air hangat menyiram tubuhnya, tapi tidak bisa membilas perasaan kotor yang menggerogoti jiwa. Aku melakukan ini untuk kita, Mas, bisik hatinya mencoba meyakinkan diri sendiri, sambil matanya terpejam menahan tangis. Untuk masa depan Kia. Untuk melunasi hutang-hutang itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD