Sisi Liar Yang Bangkit

1252 Words
Perang batin itu semakin membuat Kirana gelisah, bayangan suaminya yang menatap dengan penuh kasih, senyum tulusnya saat dia memberikan kabar dia mendapatkan pekerjaan, sentuhan sayang sudah dia dapat tujuh tahun ini seakan menjadi hukuman atas dosa yang dia pilih. Tapi di balik itu, ada suara lain yang lebih gelap, lebih jujur, yang berbisik pelan. Suara itu mengingatkannya pada sentuhan Bramasta—begitu berbeda dari segala yang pernah ia kenal. Kehadiran Bram terasa seperti badai yang mengguncang dunianya yang tenang. Di usianya yang tidak lagi muda, pria itu justru memancarkan aura keperkasaan yang matang dan terpelihara dengan disiplin besi. Posturnya yang tegap dan menjulang membuatnya merasa begitu kecil, begitu lunak—sebuah kontras yang menyiksa sekaligus memesonakan. Sementara Huda, suaminya yang tercinta... tubuhnya mulai menunjukkan bekas-bekas kelelahan dan kekhawatiran yang terus-menerus. Stres dan kepahitan hidup perlahan mengikis bentuk tubuh yang dulu ia kenal. Kirana masih mencintainya, sungguh. Tapi sentuhan Bram telah membangkitkan sesuatu yang liar dalam dirinya—sebuah sisi gelap yang haus akan kepuasan yang selama ini terpendam. Astaga, aku perempuan jahat, desisnya dalam hati, menatap wajahnya sendiri di cermin yang beruap. Aku mencintai suamiku, tapi… tubuhku rindu pada sensasi yang hanya pria itu yang bisa berikan. Air mata akhirnya pecah, bercampur dengan air shower. Dia terjebak antara kesetiaan yang ia peluk sejak lama dan godaan akan kepuasan materi serta sensasi yang memabukkan. Dan yang paling menakutkan—sebagian dari dirinya justru tidak bisa menunggu untuk merasakan semuanya lagi. Dia membungkus tubuhnya dengan handuk putih yang lembut, persis seperti yang diperintahkan. Di balik pintu, Bramasta menunggu. Dan Kirana tahu, hari ini, sekali lagi, ia akan mengkhianati suaminya—tidak hanya demi uang, tapi juga untuk dirinya yang gelap dan haus. Pintu kamar mandi terbuka dengan perlahan, mengeluarkan segumpal uap hangat yang wangi. Kirana muncul dengan hanya handuk putih melilit tubuhnya, ujung-ujungnya erat dikepal di antara jemari yang gemetar. Kepalanya tertunduk, matanya menatap lantai marmer yang dingin, seolah mencari kekuatan dari sana. Aroma sabun mandi yang segar dan floral seakan memenuhi ruangan, menciptakan kontras dengan ketegangan yang menggumpal di udara. Bramasta berdiri di seberang ruangan, bersandar di tepi meja kerjanya yang megah. Tatapannya gelap dan penuh intensitas, seperti elang yang mengawasi mangsanya. "Kemari," perintahnya, suaranya rendah namun memancarkan kewibawaan yang tak terbantahkan. Kirana mengangkat kaki, setiap langkah terasa berat bagai dibelenggu rasa bersalah. Jarak beberapa meter itu terasa seperti jurang yang dalam, memisahkan dirinya yang polos dengan nafsu gelap yang akan kembali menelannya. Saat ia berada dalam jangkauan, tangan Bramasta bergerak cepat. Tangannya yang besar dan berotot meraih erat lengan Kirana, menariknya begitu kasar hingga handuk yang melindunginya nyaris terlepas. "Bram—" protesnya tercekat, tapi sudah terlambat. Dengan gerakan dominan, Bram memutarnya sehingga punggung Kirana menempel ke dadanya yang keras. Lengannya melingkari erat tubuh rampingnya, tangan kasar itu menjelajahi tanpa ampun. "Kau wangi sekali," gumamnya kasar, bibirnya menyekap kulit leher Kirana yang masih basah, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya. Ini hanya transaksi, batin Kirana berteriak, mencoba mematikan setiap respons tubuhnya yang mulai memanas. Aku istri Huda. Aku melakukan ini untuk keluarga. Jangan menikmati, jangan— Tapi tubuhnya berkata lain. Sentuhan Bram yang terlatih dan penuh keyakinan membangkitkan api yang tidak bisa ia dustakan. Tangannya yang mahir menemukan setiap titik sensitif, memainkannya seperti alat musik yang hanya dia yang tahu caranya. Kirana merasakan lututnya melemah, desahan pendek terlepas dari bibirnya. "Tubuhmu selalu meresponku," bisik Bram di telinganya, suaranya serak dan penuh kemenangan. "Kau boleh berbohong padaku, Sayang, tapi tidak pada tubuhmu sendiri." Dia memutar tubuh Kirana kembali untuk menghadapnya, dan tanpa basa-basi menyingkap handuk itu. Handuk putih jatuh melumpuh di lantai, meninggalkan Kirana sepenuhnya terbuka dan rentan di hadapannya. Rasa malu membakar kulitnya, tapi di balik itu, ada gelombang kepuasan yang memalukan. Bram mendorongnya hingga pinggul Kirana menempel di tepi meja kayu yang dingin. "Bersandarlah," perintahnya pendek, tangannya sudah membuka kancing celananya. Ini hanya tugas, hanya tugas, Kirana mengulangi mantra dalam batin, memejamkan mata erat-erat, berusaha membayangkan wajah Huda yang lembut. Tapi ketika Bram memasuki dirinya dengan gerakan tunggal yang dalam dan pasti, semua bayangan itu hancur berantakan. Erangan panjang dan dalam terlepas dari kerongkongannya, suara yang bahkan tidak dikenalnya sendiri. Gerakan Bram begitu perkasa, begitu memenuhi, membuatnya merasa begitu kecil dan dikuasai. Setiap hentakan adalah pengingat akan pengkhianatannya. Setiap desahan nafas Bram di lehernya adalah cambuk bagi nuraninya. Tapi tubuhnya—oh, tubuhnya—justru merespons dengan liar. Tangannya tanpa sadar meraih bahu Bram yang kekar, kukunya mencengkeram material kemeja yang halus. Kakinya melingkari pinggang pria itu, menariknya lebih dalam, lebih dekat. "Dengar sendiri betapa kau menikmatinya," geram Bram di antara erangannya, tempo gerakannya semakin menjadi. "Kau bahkan lebih liar dari kemarin." Kirana ingin membantah, ingin berteriak bahwa ini hanya akting, bahwa dia tidak merasakan apa-apa. Tapi yang keluar dari bibirnya justru rangkaian erangan dan desahan yang semakin menjadi-jadi, memenuhi ruangan kerja mewah itu. Setiap sentuhan, setiap ciuman, setiap gigitan kecil dari Bram seakan memicu ledakan-ledakan kecil di seluruh tubuhnya. Dia mencoba mengingat hutang, mengingat Kiara, mengingat alasan awal dia berada di sini. Tapi yang ada di kepalanya hanya sensasi dan kebutuhan primitif yang semakin menjadi. Bram, yang terstimulasi oleh responnya, semakin tidak terkendali. Tangannya meraih erat pinggul Kirana, mengatur ritmenya sesuai keinginannya. "Buka matamu!" perintahnya kasar. "Lihat siapa yang membuatmu seperti ini!" Dan dengan terpaksa, Kirana membuka matanya. Dia melihat bayangan dirinya di kaca jendela yang gelap—seorang perempuan yang terlihat begitu liar, begitu tak bernurani, begitu... puas. Perasaan itu membuatnya semakin hancur, tapi juga semakin terbang. Dia tidak lagi bisa berbohong pada dirinya sendiri. Ini bukan lagi hanya pengorbanan. Ini kehancuran, dan sebagian dari dirinya justru menari-nari di atas puing-puingnya. Kirana menatap bayangannya sendiri di kaca jendela—seorang perempuan dengan mata berkaca-kaca, bibir bengkak, dan tubuh yang masih gemetar oleh kenikmatan yang baru saja dialaminya. Di balik pantulannya, bayangan Bramasta tampak tegak dan perkasa, tangannya masih melingkari pinggulnya dengan posesif. "Kau lihat?" bisik Bramasta, suaranya serak namun penuh kemenangan. "Itu adalah wajah seorang perempuan yang telah menemukan siapa dirinya yang sebenarnya." Kirana ingin menyangkal, ingin berteriak bahwa itu bukan dirinya. Tapi tubuhnya masih berdenyut oleh sensasi yang ditinggalkan Bram, mengingatkan pada setiap sentuhan, setiap desahan, setiap detik di mana kendalinya benar-benar hilang. Ini hanya transaksi, batinnya berusaha meyakinkan diri untuk kesekian kalinya, tapi suara itu terdengar semakin lemah, semakin jauh. Bramasta menarik tubuhnya perlahan, tangannya yang besar menelusuri lengannya yang masih merah oleh cengkeraman. "Minggu depan," katanya, suara rendahnya bergetar di udara yang masih panas, "setelah suamimu berangkat ke Surabaya dan pengangkatanmu sebagai asisten pribadiku resmi, kita akan terbang ke Bali untuk urusan bisnis. Hanya kita berdua." Kirana menahan napas. Perkataan itu seperti pintu perangkap yang tiba-tiba terbuka di bawah kakinya. Bali. Hanya mereka berdua. Persis ketika Huda akan meninggalkan Jakarta untuk memulai kehidupan baru di Surabaya, dan dirinya secara resmi akan menjadi milik Bramasta dalam segala hal. Dia membayangkan pantai yang sunyi, kamar hotel yang mewah, dan Bramasta yang tidak akan ada yang mengganggu hasratnya—sebuah "karya wisata" yang kebetulan terlalu sempurna waktunya. Sebuah getaran aneh—antara ketakutan dan antisipasi liar—menyusup di tulang belakangnya. Aku tidak bisa, batinnya membantah. Huda akan pergi, Kiara akan tinggal dengan neneknya... Tapi ketika mata Bramasta menatapnya—dalam, gelap, dan penuh janji-janji berbahaya—Kirana tahu, dalam-dalam hatinya, bahwa dia sudah terjatuh terlalu jauh. Perjalanan ke Bali itu akan menjadi titik di mana setiap sisa perlawanannya akan hancur berantakan, tepat ketika suaminya mempercayainya sepenuhnya untuk membangun kehidupan baru mereka. Dan yang paling menakutkan: sebagian dari dirinya sudah tidak bisa menunggu untuk itu terjadi, bahkan mulai menghitung hari menuju saat dimana pengkhianatan terbesarnya akan dimulai di bawah matahari Bali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD