part 4

1162 Words
Langkah Kaizan semakin pelan saat mendekati kamar Yasmin. Suara desahan itu kini terdengar begitu nyata, memenuhi koridor sempit itu dengan aura panas yang menggoda Jantungnya berpacu kencang. Sejak proses perceraian dimulai, ia dan Sarah tak lagi berbagi ranjang. Kesepian itu nyata dan kini, di balik pintu kayu yang sedikit terbuka itu, ada sesuatu yang memanggil sisi liarnya sebagai pria. Kaizan menahan napas, tangannya hampir menyentuh pintu untuk mengintip saat sebuah deheman keras memecah suasana. "Tuan? Tuan sedang apa di sini? Area ini kan kotor," tegur Nur yang tiba-tiba muncul. Kaizan melonjak kaget. Jantungnya hampir copot. Di dalam kamar, suara desahan itu mendadak berhenti, digantikan bunyi grasak-grusuk Yasmin yang buru-buru merapikan diri. "Oh... ini... saya tadi... anu, salah jalan," jawab Kaizan kaku. Sebuah alasan yang sangat konyol mengingat ini adalah rumahnya sendiri. "Memangnya Tuan mau ke mana?" Nur bertanya heran. "Saya mau ke toilet. Tiba-tiba ingat sepertinya di area belakang ini ada toilet tamu juga." "Tuan, toilet tamu ada di dekat ruang tengah. Kalau di sini hanya ada toilet khusus asisten, Tuan. Kotor," jelas Nur dengan tatapan menyelidiki. "Oh, begitu ya? Oke kalau begitu. Kamu bereskan saja sisa sarapan saya di meja, saya sudah selesai," ujar Kaizan buru-buru melarikan diri dari rasa malunya. Begitu Kaizan menghilang, Yasmin keluar dari kamarnya dengan napas yang masih sedikit memburu, namun penampilannya sudah kembali rapi. "Ada apa, Mbak Nur? Kenapa tadi teriak-teriak?" tanya Yasmin pura-pura santai. "Tuan tadi di depan pintumu. Kamu melakukan itu lagi?" Nur menggelengkan kepala. "Yah, namanya juga sensasi wanita dewasa," sahut Yasmin santai sembari menyunggingkan senyum tipis. "Suaramu itu terlalu nyaring, Yas! Pantas saja Tuan sampai kemari. Kamu itu seperti sengaja menjual badan. Untung Tuan masih bisa nahan diri, kalau pria lain mungkin kamu udah diterkam," Nur memperingatkan. Yasmin hanya mengedikkan bahu. "Semua laki-laki sama saja, Mbak. Nggak ada yang benar-benar setia, termasuk ayahku dulu." "Tapi Tuan itu baik. Dia yang diselingkuhi, tapi dia nggak punya simpanan. Dia nggak seperti pria-pria di luar sana. Kalau Tuan mau pasti udah lama, ‘kan? Tuan juga punya semua yang wanita inginkan." "Itu karena dia belum menemukan simpanan yang cocok aja, Mbak," balas Yasmin penuh arti. "Dia calon duda, Mbak. Aku tidak akan tahu berhasil atau tidak jadi Nyonya di rumah ini kalau tidak mencoba." Nur mendesah, ia sudah tahu tujuan dendam sahabatnya itu. "Ya sudah, terserah kamu. Tapi hati-hati dengan Nyonya. Kalau ketahuan, rencanamu bisa hancur." “Tentu saja, Mbak, aku hati-hati kok orangnya.” “Aku sebenarnya malas, Yas, ngurus ginian, tapi karena kamu aku yang bawa kemari, jadi aku juga harus tanggung jawab ke kamu.” Yasmin kembali ke dapur untuk membereskan piring kotor. Tak lama kemudian, Kaizan muncul lagi. Kali ini ia tampak lebih tenang, meski matanya terus mencuri pandang ke arah Yasmin. "Tuan butuh sesuatu?" tanya Yasmin, suaranya sangat manis seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya. "Buatkan saya kopi. Dan... cemilan." "Baik, Tuan. Segera saya siapkan." Kaizan berdiri mematung di antara meja dapur. Pikirannya masih kacau dan penasaran. Suara desahan tadi... apakah Yasmin benar-benar melakukannya sendiri? Ataukah ada pria lain yang ia sembunyikan di dalam kamar itu? Rasa cemburu yang aneh mulai membakar d**a Kaizan. Baru saja Kaizan duduk di ruang tengah, suara ketukan high heels yang keras menggema di lantai marmer. Sarah masuk dengan gaya angkuhnya. Wajahnya segar, seolah semalaman ia tidak habis melakukan dosa di luar sana. Tanpa malu, Sarah menghampiri Kaizan dan mencoba melingkarkan lengannya di leher suaminya. "Sayang... aku kangen..." bisiknya manja. Namun, Kaizan segera menghempaskan tangan istrinya dengan kasar. Baginya, sentuhan Sarah kini terasa seperti racun. “Apa-apaan sih, jangan macam-macam kamu.” Kaizan melepaskan genggaman tangan Sarah. “Kamu nggak kangen sama aku?” “Nggak.” “Sayang, kamu jahat banget sih,” geleng Sarah. “Fokus saja urus perceraian kita.” *** Kaizan masih belum bisa membuang rasa penasaran yang menggerogoti dadanya. Pertemuan singkat dengan Sarah tadi hanya menambah rasa muaknya. Begitu Sarah naik ke lantai atas untuk mandi, Kaizan kembali melangkah menuju area belakang. Kali ini, langkahnya mantap. Ia harus tahu siapa atau apa yang ada di kamar Yasmin. Pikirannya liar, ia curiga ada pria lain yang diselundupkan ke sana. Pintu kamar Yasmin tertutup rapat. Tanpa mengetuk, Kaizan memutar knop pintu dan mendorongnya. "Yasmin, saya perlu bi—" Kalimat Kaizan terputus. Ia terpaku melihat pemandangan di depannya. Tidak ada pria lain. Kamar itu rapi, harum aroma lavender dan jauh dari kesan kamar pembantu yang ia bayangkan. Yasmin sedang duduk di meja kecil di sudut ruangan. Ia mengenakan kacamata berbingkai tipis, rambutnya dicepol asal dan di hadapannya terdapat sebuah laptop yang menyala. Tumpukan buku tebal dengan judul-judul berat tentang Hukum dan Ekonomi berjejer di sana. "Tuan?" Yasmin terperanjat. Ia buru-buru menutup laptopnya, tapi Kaizan sudah terlanjur melihat layar yang berisi draf proposal tesis. "Apa... apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Kaizan bingung. Matanya beralih dari wajah Yasmin ke tumpukan buku di meja. "Ini semua bukumu?" Yasmin menunduk, tampak ragu sejenak sebelum mengangguk. "Maaf, Tuan... saya mengerjakannya di jam istirahat. Saya sedang mempersiapkan proposal tesis S2 saya." Kaizan seolah tersambar petir. "S2? Kamu mahasiswa magister?" "Iya, Tuan. Beasiswa saya sempat terhenti, jadi saya harus bekerja untuk membiayai penelitian saya sendiri," jawab Yasmin pelan, suaranya terdengar tulus namun tetap ada nada tegas di sana. Kaizan mendekat, jemarinya menyentuh salah satu buku referensi yang terbuka. Kaizan tak menyangka bahwa wanita yang selama ini ia anggap hanya seorang ART yang menggoda, ternyata memiliki intelektualitas yang setara atau mungkin lebih dari wanita-wanita di lingkaran sosialnya. "Lalu suara... suara tadi?" tanya Kaizan, suaranya merendah. Yasmin tersipu, namun matanya menatap Kaizan dengan berani. "Tuan, mengerjakan proposal sendirian di kamar sesempit ini membuat saya stres. Kadang saya perlu... melepaskan ketegangan saya sendiri. Saya harap Tuan nggak merasa terganggu." Kaizan menelan ludah. Penjelasan itu jauh lebih berbahaya daripada bayangannya tentang pria lain. Yasmin bukan w************n, dia adalah wanita mandiri yang tahu cara mengelola kebutuhannya sendiri, baik secara otak maupun fisik. "Kenapa kamu memilih jadi ART di rumah ini? Dengan gelar sarjana, kamu bisa dapat pekerjaan yang jauh lebih layak," cecar Kaizan. Yasmin tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan ribuan rahasia. "Kadang, tempat yang paling nggak terduga adalah tempat terbaik untuk belajar tentang kehidupan, Tuan. Dan... saya suka berada di sini." Kaizan terdiam. Di matanya, Yasmin kini bukan lagi sekadar pelarian. Dia adalah misteri yang sangat elegan. Seorang calon Magister yang rela mencuci baju dan memijat kakinya. "Selesaikan proposalmu. Jika butuh referensi dari perpustakaan pribadi saya di atas, ambil saja," ujar Kaizan, suaranya melembut. “Benarkah, Tuan? Boleh?” “Boleh saja. Saya izinkan, semua itu juga buku dari perpustakaan saya, ‘kan?” “Hehe. Iya, Tuan. Maaf,” lirih Yasmin. “Tidak masalah.” Saat Kaizan hendak keluar, Yasmin memanggilnya. "Tuan?" Kaizan menoleh. "Jangan beritahu Nyonya soal pendidikan saya. Saya ingin dia tetap menganggap saya... tidak berharga, Tuan," bisik Yasmin dengan sorot mata yang sulit diartikan. “Saya juga nggak berniat untuk mengatakan hal itu, itu juga bukan urusan saya dan urusan Sarah.” “Terima kasih, Tuan.” “Tapi—” “Hm?” Kaizan berdiri diambang pintu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD