part 5

1398 Words
Kaizan tidak jadi melangkah keluar. Alih-alih pergi, ia justru menutup pintu kamar tidak terlalu rapat. Ruangan sempit itu mendadak terasa semakin sesak, dipenuhi oleh aroma parfum lavender Yasmin dan hawa panas yang entah datang dari mana. "Hukum Bisnis Internasional?" Kaizan membaca salah satu judul buku di meja Yasmin. "Topik yang berat untuk seorang... asisten rumah tangga." Yasmin bangkit dari duduknya. Ia melepas kacamatanya, membiarkan tatapan matanya yang sayu namun tajam bertemu langsung dengan manik mata Kaizan. "Tuan meremehkan saya?" "Tidak. Saya justru terkesan," bisik Kaizan. Langkahnya maju satu langkah, memangkas jarak di antara mereka. Yasmin tidak mundur. Ia justru bersandar pada pinggiran meja, membuat posisi tubuhnya sedikit lebih rendah namun terlihat lebih menantang. "Stres karena proposal ini kadang lebih menyakitkan daripada kelelahan fisik, Tuan. Itu sebabnya saya butuh... pelepasan." Kata pelepasan itu diucapkan Yasmin dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti bisikan di telinga. Kaizan bisa merasakan napas Yasmin di kulit lehernya. Pikirannya melayang pada suara desahan yang ia dengar beberapa menit lalu. "Pelepasan seperti apa, Yasmin?" tanya Kaizan, suaranya kini serak. Yasmin meraih tangan Kaizan, menuntun jari-jemari pria itu untuk menyentuh keningnya yang sedikit berkeringat. "Pelepasan yang membuat saya lupa kalau saya sedang dihina oleh istri Anda. Pelepasan yang membuat saya merasa... saya adalah wanita yang punya kuasa." Jari Kaizan turun ke pipi Yasmin, lalu berhenti di bibir bawah gadis itu. Ketegangan di antara mereka sudah tidak bisa dibendung lagi. Kaizan adalah pria yang haus akan penghargaan dan Yasmin memberikannya melalui tatapan pemujaan sekaligus tantangan intelektual. "Kamu berbahaya," desis Kaizan. "Dan… Tuan sedang berada di zona bahaya," balas Yasmin sembari menarik kerah kemeja Kaizan, memaksa pria itu untuk sedikit membungkuk. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Kaizan bisa melihat pantulan dirinya di mata Yasmin, seorang pria yang hancur karena dikhianati, namun kini sedang dibangunkan kembali oleh gairah yang terlarang. Di luar sana, Sarah mungkin sedang sibuk dengan dunianya, tapi di kamar sempit ini, Kaizan merasa dialah satu-satunya penguasa bagi Yasmin. Tangan Kaizan yang bebas merayap ke pinggang Yasmin, menarik tubuh pulen itu merapat ke tubuhnya. Yasmin mendesah pelan, suara yang sama dengan yang didengar Kaizan tadi dan kali ini suara itu ditujukan langsung untuknya. "Tuan... kopi Anda akan dingin," bisik Yasmin di bibir Kaizan, namun ia justru semakin merapatkan tubuhnya. "Lupakan kopinya," sahut Kaizan sebelum ia menunduk, hendak mengklaim apa yang selama ini hanya menjadi rasa penasarannya. Namun, tepat sebelum bibir mereka bersentuhan, suara teriakan Sarah dari lantai atas terdengar memanggil nama Kaizan dengan kasar. “KAI! KAMU DI MANA?!” Suasana panas di kamar sempit itu seketika membeku. Teriakan Sarah di lantai atas seperti siraman air es yang menarik Kaizan kembali ke realitas yang pahit. Kaizan masih mematung dengan tangan yang melingkar di pinggang Yasmin. Jantungnya berdegup sangat kencang. Yasmin perlahan melepaskan cengkeramannya pada kerah kemeja Kaizan. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu menatap Kaizan dengan senyum tipis. “Tuan, sebaiknya Anda keluar. Nyonya sepertinya tidak suka menunggu,” bisik Yasmin dengan nada yang sengaja dibuat terdengar prihatin, namun tatapannya tetap mengunci mata Kaizan. “KAIZAN! KAMU DI DAPUR?! NUR! YASMIN!” suara langkah kaki Sarah terdengar menuruni tangga dengan terburu-buru. Kaizan mengumpat pelan. Ia melepaskan Yasmin, namun sebelum ia beranjak ke pintu, Yasmin meraih tangan Kaizan dan mengecup punggung tangan pria itu dengan lembut, sebuah tindakan yang sangat berani bagi seorang ART. Kaizan membuka kunci pintu kamar dan keluar dengan wajah sedatar mungkin. Ia berpapasan dengan Sarah tepat di lorong dapur. Sarah berdiri di sana dengan wajah merah padam, masih mengenakan gaun tidur tipisnya. “Kamu dari mana aja? Aku panggil-panggil dari atas nggak jawab!” semprot Sarah. Matanya kemudian melirik ke arah pintu kamar Yasmin yang baru saja tertutup di belakang Kaizan. “Ngapain kamu di area kamar pembantu?” Kaizan menatap Sarah dengan sorot mata dingin yang menusuk. “Tadi aku lewat sini untuk cek keran air yang katanya bocor. Kenapa? Kamu sekarang jadi polisi di rumah sendiri setelah semalaman nggak pulang?” Sarah tertegun. Ia tidak punya hak untuk menginterogasi Kaizan saat dirinya sendiri baru saja kembali dari pelukan Latif. “Aku... aku cuma nanya. Jangan bawa-bawa urusan lain.” Tepat saat itu, Yasmin keluar dari kamarnya dengan wajah polos, seolah ia baru saja bangun dari istirahat singkatnya. “Maaf Nyonya, Tuan... apa ada yang bisa saya bantu?” tanya Yasmin dengan nada rendah yang sangat sopan. Sarah menatap Yasmin dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Cepat siapkan kopi untuk suamiku dan bawa ke ruang tengah. Dan kamu, Kaizan... aku mau kita bicara soal uang yang kamu janjikan semalam.” Sarah berbalik pergi dengan angkuh, merasa dirinya masih memegang kendali. Namun, ia tidak menyadari bahwa di belakang punggungnya, Kaizan dan Yasmin sempat bertukar pandang. Yasmin memberikan anggukan kecil yang sangat halus, sementara Kaizan mengepalkan tangannya. Hasrat yang tertunda di kamar tadi tidak hilang, justru semakin membara karena rintangan yang dibuat oleh Sarah. Kaizan melangkah menuju ruang tengah, namun pikirannya tertinggal di kamar kecil itu. Di antara tumpukan buku tesis dan desahan yang kini ia tahu adalah sebuah undangan. *** Rumah Saverio terasa begitu lengang sore itu. Sarah sudah pergi sejak siang, entah ke butik atau kembali menemui Latif, sementara Rafka masih asyik bermain di rumah Jojo. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Yasmin. Atas izin Kaizan, ia kini berada di perpustakaan pribadi di lantai dua, ruangan yang biasanya terlarang bagi siapa pun kecuali sang pemilik rumah. Kaizan masuk ke ruangan itu, melepaskan jam tangan dan melonggarkan dua kancing teratas kemejanya. Kaizan melihat Yasmin sedang berdiri di depan rak buku yang menjulang tinggi, jemarinya meraba barisan punggung buku dengan penuh kekaguman. "Kamu mencari referensi soal arbitrase internasional, kan?" tanya Kaizan, suaranya menggema lembut di ruangan yang kedap suara itu. Yasmin menoleh, kacamata bingkai tipisnya sedikit melorot ke ujung hidung. "Iya, Tuan. Saya kesulitan menemukan jurnal yang spesifik soal sengketa lintas batas di Asia Tenggara." Kaizan melangkah mendekat, aroma parfumnya yang maskulin langsung mendominasi udara di sekitar Yasmin. Kaizan mengulurkan tangan ke rak paling atas, tepat di atas kepala Yasmin, membuat tubuh mereka kembali merapat. Yasmin bisa merasakan panas dari tubuh Kaizan yang berada tepat di belakangnya. "Ini," Kaizan menarik sebuah buku tebal bersampul kulit. "Buku ini tidak beredar di pasaran umum. Saya mendapatkannya dari kolega di Singapura." Kaizan tidak langsung menjauh. Ia tetap berdiri di sana, membiarkan Yasmin terjebak di antara tubuhnya dan rak buku. Ia membuka halaman tengah buku itu dan meletakkannya di meja besar di tengah ruangan. "Duduklah. Kita lihat draf proposalmu," titah Kaizan. Mereka duduk bersisian di meja jati yang besar. Laptop Yasmin terbuka di samping tumpukan buku koleksi Kaizan. Saat Kaizan mulai membaca baris demi baris argumen yang ditulis Yasmin, ia semakin terpana. Cara berpikir gadis ini sangat tajam, sistematis, dan penuh keberanian. "Argumenmu di bab kedua ini... sangat provokatif," gumam Kaizan, matanya masih menatap layar. "Kamu mengkritik regulasi yang justru dibuat oleh orang-orang seperti saya." Yasmin tersenyum tipis, ia menopang dagunya dengan tangan, menatap profil samping wajah Kaizan yang terlihat sangat tampan saat sedang serius. "Regulasi yang nggak adil harus dikritik, Tuan. Walaupun itu datang dari orang sehebat Anda." Kaizan menoleh, membuat hidung mereka hampir bersentuhan. "Kamu berani sekali." "Saya hanya jujur," bisik Yasmin. "Sama jujurnya dengan perasaan saya saat ini." Tangan Kaizan yang tadinya memegang pulpen kini beralih menyentuh tangan Yasmin yang berada di atas meja. Jemarinya mengelus punggung tangan Yasmin dengan gerakan lambat, sementara mata mereka saling mengunci. Di perpustakaan ini, Yasmin bukan lagi seorang ART yang mencuci bajunya. Dia adalah lawan bicara yang seimbang. "Yasmin, kenapa kamu melakukan ini semua? Dengan kecerdasan seperti ini, kamu bisa menghancurkan siapa pun," tanya Kaizan dengan suara rendah. Yasmin memiringkan kepalanya, membiarkan beberapa helai rambutnya jatuh ke bahu. "Termasuk menghancurkan Anda, Tuan?" "Mungkin." "Saya nggak ingin menghancurkan Anda, Kaizan..." Yasmin untuk pertama kalinya memanggil nama pria itu tanpa embel-embel Tuan. "Saya hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milik saya. Dan saat ini... perhatianmu adalah hal pertama yang ingin saya miliki." Yasmin menarik tangan Kaizan ke arah lehernya, membimbing jari pria itu untuk merasakan detak jantungnya yang berpacu kencang. Ketegangan seksual di antara mereka kembali memuncak, lebih kuat dari kejadian di kamar tadi pagi karena kini ada rasa kagum yang terlibat. Kaizan menarik tengkuk Yasmin, menghapus jarak terakhir di antara mereka. Di perpustakaan yang menjadi saksi bisu kesendirian Kaizan selama ini, ia akhirnya menemukan tempat pelarian yang bukan hanya memuaskan hasratnya, tapi juga jiwanya. Bibir mereka akhirnya bertemu dalam sebuah ciuman yang penuh tuntutan, sebuah campuran antara rasa lapar yang lama terpendam dan pengkhianatan yang dibalas dengan gairah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD