part 6

1045 Words
Ciuman itu tidak lagi terasa seperti kecelakaan. Itu seperti sebuah pengakuan. Kaizan yang biasanya selalu terkendali, kini kehilangan arah saat lidah Yasmin menyambutnya dengan keberanian yang sama. Tangan Kaizan merayap dari tengkuk Yasmin, turun menyusuri lekuk punggungnya yang tertutup seragam ART yang tipis, hingga berhenti di pinggulnya yang padat. Yasmin mengerang halus di tengah ciuman mereka, suara yang membuat pertahanan Kaizan runtuh sepenuhnya. Kaizan mengangkat tubuh Yasmin, mendudukkannya di atas meja jati besar itu, menyingkirkan tumpukan buku hukum yang tadi mereka diskusikan. Di antara tumpukan teori ekonomi dan hukum bisnis, mereka menciptakan kekacauan mereka sendiri. "Tuan..." bisik Yasmin saat ciuman itu turun ke lehernya. "Kamu tahu ini akan mengubah segalanya, kan?" "Saya tidak peduli, di rumah ini hanya di ruangan ini, saya merasa hidup kembali," sahut Kaizan parau. “Tuan,” lirih Yasmin. “Apa lagi, Yas?” “Saya takut,” bisik Yasmin. “Sudah. Tidak usah takut, kita bersama hadapi semuanya.” Tangan Kaizan mulai menyusuri paha Yasmin yang terekspos karena roknya tersingkap saat duduk di meja. Kulitnya yang halus dan hangat membuat Kaizan semakin gila. Namun, saat Kaizan hendak membuka kancing seragam Yasmin lebih jauh, suara deru mesin mobil yang sangat familiar terdengar memasuki gerbang rumah. Keduanya tersentak. Itu suara mobil Porsche milik Sarah. "Sarah pulang," desis Kaizan, napasnya masih memburu, matanya menatap Yasmin yang tampak berantakan namun terlihat luar biasa cantik dengan bibir yang sedikit bengkak. Yasmin langsung melompat turun dari meja. Dengan gerakan kilat yang sangat terlatih, ia merapikan rok dan seragamnya. Yasmin meraih kacamatanya, memakainya kembali, dan dalam sekejap kembali menjadi sosok asisten rumah tangga yang telaten. "Tuan, kembali ke kursi Anda. Biar saya yang membereskan buku-buku ini," bisik Yasmin, suaranya kembali datar dan profesional, seolah ciuman panas tadi hanya terjadi di dimensi lain. Kaizan bergegas duduk di kursi kebesarannya, meraih sebuah jurnal hukum dan pura-pura membacanya dengan serius, meskipun jantungnya masih memukul-mukul dadanya. Langkah high heels Sarah terdengar menaiki tangga dengan cepat. Tak lama kemudian, pintu perpustakaan terbuka tanpa diketuk. "Oh, kamu di sini, Kai?" Sarah masuk dengan wajah cemberut, menenteng tas belanjaan bermerek. Sarah terkejut dan menghentikan langkahnya saat melihat Yasmin sedang berdiri di dekat meja besar, memegang setumpuk buku tebal. "Sedang apa dia di sini?" tanya Sarah curiga, matanya menyipit menatap Yasmin. Kaizan mendongak dengan wajah sedingin es, topeng majikan yang berwibawa telah terpasang kembali. "Aku butuh bantuan untuk menyortir referensi kasus lama. Yasmin yang paling sigap membantu daripada Nur yang sibuk di dapur." Sarah berjalan mendekat ke meja, matanya tertuju pada laptop Yasmin yang masih menyala. "Pekerjaan macam apa sampai asisten rumah tangga harus pakai laptop di perpustakaan suamiku?" Yasmin menunduk hormat, namun ia sempat melirik ke arah Kaizan. "Maaf, Nyonya. Tuan menyuruh saya mencatat judul-judul buku yang perlu disingkirkan ke gudang. Saya hanya menggunakan laptop untuk membuat daftar." Sarah mendengus, ia mengusap permukaan meja jati itu dengan jarinya, seolah mencari noda atau bukti lain. "Baunya aneh di sini. Kamu pakai parfum apa, Yasmin? Wanginya terlalu menusuk untuk seorang pembantu." "Hanya minyak wangi pasar, Nyonya," jawab Yasmin tenang. Sarah hampir saja meledak, namun perhatiannya teralihkan saat ponselnya berdering. Nama Latif muncul di layar. Ia langsung membalikkan badan, menjauh dari mereka. "Aku mau mandi dulu. Kai, jangan lupa cek saldo rekeningku, aku tadi belanja agak banyak," ujar Sarah sembari melangkah keluar tanpa rasa curiga yang mendalam karena pikirannya sudah tertuju pada kekasih gelapnya. Begitu pintu tertutup, suasana kembali hening. Kaizan menyandarkan punggungnya, mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan. Yasmin mendekati Kaizan, ia meletakkan satu buku tebal di depan Kaizan, namun kali ini ia menyelipkan secarik kertas kecil di dalamnya. "Satu langkah lagi, Tuan," bisik Yasmin tanpa menunduk, lalu ia berbalik dan keluar dari ruangan dengan langkah anggun, meninggalkan Kaizan yang perlahan membuka kertas itu. Di sana tertulis sebuah nomor ponsel dan satu kalimat singkat. .Nanti malam, saat seisi rumah sudah terlelap, pintuku tidak akan terkunci. *** Kaizan begitu gelisah kamarnya, ia bisa mendengar dengkur halus Sarah yang tertidur pulas setelah kelelahan menghabiskan uang suaminya seharian. Sarah juga hari ini tidak kemana-mana, biasanya ia pergi menginap di apartemen Latif. Kaizan bangkit, gerakannya sangat hati-hati. Ia tidak menyalakan lampu, hanya mengandalkan cahaya bulan yang menembus celah gorden. Di tangannya, kertas kecil dari Yasmin membuatnya tak tenang sejak tadi, ia ingin cepat malam. Ia melangkah keluar, menuruni tangga dengan telanjang kaki agar tak ada suara sedikit pun. Setiap derit lantai kayu membuatnya menahan napas. Pikirannya berperang antara logika seorang pengusaha terhormat dan hasrat seorang pria yang haus akan kasih sayang tulus. Namun, anehnya Kaizan melakukannya diam-diam, tapi Sarah melakukannya secara terang-terangan. Tak lama kemudian, ia sampai didepan kamar Yasmin, napasnya memburu, seperti seorang pencuri. Untungnya dia bisa mengendalikan CCTV rumah dari ponselnya. Perlahan, ia memutar knop pintu. Benar saja, pintu itu terbuka tanpa suara. Di dalam kamar Yasmin hanya ada penerangan remang-remang dari lampu meja kecil. Kaizan langsung masuk dan menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Yasmin menyunggingkan senyum, seolah umpan sudah masuk ke dalam kandangnya. Yasmin tidak sedang tidur. Ia duduk di tepi ranjangnya, masih mengenakan kemeja putih kebesaran yang tipis, rambutnya digerai indah menutupi bahunya. Di pangkuannya, sebuah buku tesis masih terbuka. "Tuan... Anda datang," bisik Yasmin. "Saya tidak bisa tidur karena memikirkan ucapanmu di perpustakaan tadi," ujar Kaizan, suaranya parau. Yasmin berdiri, melangkah mendekat hingga ia berada tepat di depan Kaizan. Ia mendongak, menatap mata Kaizan dengan binar yang sulit diartikan. "Tentang proposal saya? Atau tentang bagaimana rasanya menjadi wanita yang diinginkan oleh Anda?" Tangan Yasmin merayap naik ke d**a Kaizan, merasakan detak jantung pria itu yang berdebar kencang. Yasmin yang genit mulai membuka satu per satu kancing piyama Kaizan dengan gerakan yang sangat lambat, menyiksa namun nikmat. "Tesis itu... bisa menunggu sampai besok. Tapi malam ini, saya ingin Anda mengajari saya hal lain. Sesuatu yang tidak ada di buku mana pun." Kaizan tak bisa lagi menahan diri. Ia menarik Yasmin ke dalam pelukannya, menciumnya dengan intensitas yang lebih besar dari sebelumnya. Mereka ada lah dua jiwa yang sedang kesepian. Kaizan mengangkat Yasmin ke atas ranjang sempit itu. Di sana, di antara buku-buku hukum dan bisnis yang terserak, penguasa rumah itu menyerahkan dirinya sepenuhnya pada kendali sang ART yang jenius. "Yasmin... siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu melakukan ini padaku?" Yasmin tersenyum di tengah gairahnya, matanya berkilat penuh kemenangan. "Saya adalah jawaban dari semua doa-doa kesepian Anda, Tuan. Dan saya... tidak akan pernah melepaskan Anda."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD