Malam itu, majikan dan ART menjadi satu, merasakan kenikmatan yang tiada bandingannya, Yasmin juga tak harus melakukan h***y hanya untuk memuaskan nafsunya, sekarang sudah ada Kaizan yang memberikan kebutuhan itu.
Kaizan juga merasa dunianya kembali setelah melakukan hal ini, yang awalnya ragu malah berubah menjadi keinginan yang lebih.
Sebagai wanita yang cerdas, Yasmin tahu persis bagaimana cara memegang kendali.
Yasmin mendorong pelan bahu Kaizan hingga pria itu terduduk di tepi ranjang, lalu Yasmin naik ke pangkuannya.
Kemeja putih tipis yang dikenakannya terangkat, memperlihatkan paha mulus yang langsung bersentuhan dengan kulit Kaizan.
"Tuan... lihat saya," bisik Yasmin, jari-jemarinya membelai rahang tegas Kaizan yang mengeras karena menahan gairah.
Kaizan mendongak, matanya yang biasanya dingin kini tampak gelap dan liar.
"Kamu benar-benar ingin bermain api dengan saya, Yas?"
"Saya sudah lama terbakar, Tuan. Dan saya ingin Tuan ikut merasakannya, Jika mau," jawab Yasmin sebelum ia menunduk dan mencium leher Kaizan.
Kaizan mendesah kecil, membuat Yasmin tersenyum disela ciumannya.
“Tuan suka?” tanya Yasmin.
“Apakah ada pria yang nggak menyukai hal ini, Yas?”
“Semua pria pasti suka, begitu pun Tuan, ‘kan?”
“Artinya kamu nggak usah bertanya, saya suka atau nggak.”
Yasmin mengangguk.
Tangan Kaizan merayap ke bawah kemeja Yasmin, merasakan setiap inci kulit halus gadis itu yang terasa begitu hangat.
Kaizan menarik tubuh Yasmin semakin merapat, hingga tak ada lagi celah udara di antara mereka.
Hasrat yang selama ini terpendam akibat pengkhianatan Sarah seolah menemukan jalan keluar yang paling nikmat.
Di atas ranjang yang dipenuhi tumpukan kertas proposal itu, Kaizan melepaskan segala beban hidupnya.
Di telinganya, suara desahan Yasmin yang sebelumnya ia dengar dari balik pintu, kini bergema langsung di hadapannya, memanggil namanya dengan nada yang memuja.
"Sebut namaku, Tuan... sebut namaku," lirih Yasmin di sela napas yang memburu.
"Yasmin... Malika..." desis Kaizan sembari membalikkan posisi hingga kini ia berada di atas, mengunci tubuh gadis itu di bawah dekapannya.
Sentuhan mereka menjadi lebih berani, lebih menuntut, dan jauh lebih intens.
Setiap gerakan terasa seperti pembalasan dendam terhadap rasa sakit hati yang selama ini Kaizan simpan sendiri.
Bagi Kaizan, ini bukan hanya soal fisik, ini adalah soal merasa diinginkan kembali sebagai seorang pria.
Namun, di balik mata Yasmin yang terpejam dan tubuh yang gemetar karena gairah, ada sebuah kilatan kemenangan.
Setiap sentuhan Kaizan adalah satu langkah lebih dekat menuju kehancuran Sarah.
Di puncak kenikmatan itu, Yasmin membisikkan kata-kata yang mengikat hati Kaizan lebih dalam.
"Jangan pernah kembali padanya, Tuan... Tetaplah di sini, bersama saya."
“Kamu ingin saya di sini?”
“Iya. Jika Tuan mau,” bisik Yasmin masih merasakan tusukan demi tusukan milik Kaizan yang menggema di dalamnya.
Kaizan dengan gerakan intensnya langsung membalikkan tubuh Yasmin dan membiarkan Yasmin menindihnya.
Yasmin langsung melakukan hal itu dengan lebih intens.
“Ahh ouhh, ahh,” desah Yasmin membuat Kaizan menutup mulut Yasmin spontan dengan tangan kanannya.
“Pelankan suaramu.”
“Saya tidak tahan lagi, Tuan,” bisik Yasmin.
“Karena itu pelankan suaramu.”
Yasmin terus menerus bergerak intens diatas tubuh Kaizan. Dan …. “AHHHH!” Kaizan menembakkan sejuta sel miliknya ke dalam rahim Yasmin membuat Yasmin dengan napas memburu berbaring diatas tubuh Kaizan.
***
Kaizan sudah duduk di meja makan dengan setelan kantor yang sangat rapi. Kaizan terlihat rapi padahal semalam hanya tidur 3 jam.
Kaizan menyesap kopi hitamnya dalam diam, mencoba menenangkan debaran jantungnya setiap kali teringat aroma tubuh Yasmin yang masih tertinggal di kulitnya.
Tak lama kemudian, Sarah turun dengan wajah masam.
Sarah mengenakan baju rumah yang mahal namun rambutnya berantakan, menunjukkan suasana hatinya yang buruk karena Latif tidak bisa dihubungi semalam.
"Mana sarapanku?" tanya Sarah ketus sembari menarik kursi di hadapan Kaizan.
"Yasmin sedang menyiapkannya," jawab Kaizan tanpa mendongak dari tabletnya.
“Kamu panggil namanya seperti itu apa udah akrab?” tanya Sarah.
Spontan Kaizan terbatuk-batuk didepan Sarah. Kaizan menatap Sarah emosi.
“Kan namanya memang Yasmin, terus aku panggil apa kalau bukan namanya?”
“Panggil udik, pembantu, miskin atau apa gitu.”
“Jangan merendahkan seseorang, Sarah.”
“Nah kan kamu membelanya lagi, kamu ini ya.”
“Aku nggak pernah mengatai orang seperti itu, jadi aku harus mengajarimu.”
“Ah udahlah. Mana sarapanku? YASMIN! NUR! SARAPANKU!”
Yasmin keluar dari dapur membawa nampan berisi roti panggang dan telur.
Yasmin terlihat segar, wajahnya tampak berseri dengan rona alami, mungkin karena efek dari kejadian malam tadi.
Yasmin mengenakan seragamnya dengan sangat rapi, seolah tak ada satu kancing pun yang pernah terlepas semalam.
"Silakan, Nyonya, Tuan," ujar Yasmin lembut sembari meletakkan piring.
Saat ia meletakkan piring di depan Kaizan, jemari Yasmin sengaja menyentuh punggung tangan Kaizan selama satu detik lebih lama dari biasanya.
Sebuah kontak fisik kecil yang membuat Kaizan hampir tersedak kopinya.
Sarah menyipitkan mata, memperhatikan Yasmin.
"Kamu... kenapa pagi ini kelihatannya senang sekali? Ada berita bagus soal sekolah rahasiamu itu?"
Kaizan dan Yasmin sempat bertukar pandang sekejap, sebuah tatapan rahasia yang sangat berbahaya.
"Hanya perasaan senang karena bisa melayani keluarga ini dengan baik, Nyonya," jawab Yasmin tenang sembari menunduk.
"Hih, menjijikkan. Jangan terlalu berlebihan, kamu itu cuma ART," cibir Sarah, ia mulai memotong telurnya dengan kasar.
Yasmin mendesah napas halus, namun tidak terdengar pada tuan dan nyonyanya.
"Kai, aku butuh uang tunai hari ini. Rekeningku sepertinya kamu limit, ya?"
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk istri yang nggak tahu jalan pulang," sahut Kaizan dingin.
Sarah menghentak garpunya. "Kita belum cerai, Kaizan! Kamu nggak berhak memperlakukan aku seperti pengemis di rumah ini!"
"Dan kamu tidak berhak menuntut apa pun setelah apa yang kamu lakukan dengan Latif," balas Kaizan, kini matanya menatap Sarah dengan kebencian yang nyata.
Yasmin, yang masih berdiri tak jauh dari sana, hanya memperhatikan pertengkaran itu dengan seringai tersembunyi.
Yasmin sengaja mendekati Kaizan, berpura-pura merapikan letak sendok di samping piring Kaizan.
"Tuan, mau ditambah kopinya?" tanya Yasmin, suaranya terdengar sangat perhatian, seolah ingin menunjukkan pada Sarah siapa yang sebenarnya paling mengerti kebutuhan Kaizan.
"Boleh, Yasmin. Terima kasih," jawab Kaizan, dan kali ini ia memberikan senyuman tipis pada Yasmin, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan di depan istrinya.
Sarah tertegun. Ia meletakkan garpunya, matanya beralih dari Kaizan ke Yasmin secara bergantian.
Aura di meja makan itu mendadak terasa aneh. Ada ketegangan yang bukan sekadar kemarahan, tapi sesuatu yang lebih intim.
"Yasmin, kembali ke dapur. Sekarang!" perintah Sarah dengan nada mengancam.
Yasmin mengangguk lalu pergi meninggalkan suasana tegang itu, Yasmin juga sudah menyiapkan bekal dan sarapan untuk Rafka, jadi ia tidak punya pekerjaan lagi.
"Dan kamu, Kai... kamu sudah berubah. Sejak kapan kamu jadi begitu manis pada pembantu ini?"
Kaizan bangkit dari duduknya, merapikan jasnya.
"Mungkin karena pembantu ini jauh lebih tahu cara menghargai orang daripada istriku sendiri."
“Kai, aku istrimu loh, kamu jangan buat aku menyiksa pembantu itu.”
“Apa salah orang padamu?”
“Salahnya? Salahnya karena menggodamu?”
“Apa itu terlihat di matamu?” tanya Kaizan.
“Ya. Aku akan pecat dia.”
“Sudah berapa banyak ART yang kamu pecat?” tanya Kaizan lagi.
“Aku harus memecatnya, aku tahu wanita seperti apa dia. Dia kayaknya goda kamu dan buat kamu bertekuk lutut padanya nanti,” seru Sarah masih duduk manis di tempat duduknya.
“Kamu—”
“Pagi, Pa, Ma,” seru Rafka sudah berpakaian lengkap datang melihat kedua orangtuanya sedang marahan.
Rafka sudah biasa mendengarnya. Jadi, itu bukan hal tabuh lagi buat dia.
“Pagi,” ucap Sarah. “Sekolah sana, orang dewasa sedang bicara.”
“Tapi kan, Ma, Aka belum sarapan.”
“Kamu kan bawa bekal, kenapa harus sarapan sih?”
“Ma,” lirih Rafka.
“Nah kan lihat, kamu sama anak aja seperti ini,” geleng Kaizan. “Aku udah muak sama kamu, Sarah.”
“Papa sama Mama kenapa berantem terus sih?” tanya Rafka.
“Aka, nanti Mang Didi yan antar Aka sekolah? Papa mau berangkat sekarang soalnya Papa ada meeting penting,” kata Kaizan membungkuk didepan putranya.
“Iya, Pa.”
“Cepat sarapan nanti telat loh,” kata Kaizan.
Rafka menganggukkan kepala.
Kaizan melangkah pergi tanpa pamit pada Sarah, namun ia sempat melirik ke arah Yasmin dan memberikan anggukan kecil.
Sarah mengepalkan tangannya di bawah meja, matanya berkilat penuh kecurigaan.
Yasmin kembali dari dapur setelah Kaizan pergi, Yasmin juga merapikan meja didepan Sarah dan Rafka.
Sarah menoleh pada Yasmin yang masih sibuk merapikan meja.
"Dengar ya, Jalang kecil, jangan pikir aku nggak tahu apa yang kamu incar. Kamu mungkin bisa mengambil perhatiannya sebentar, tapi kamu nggak akan pernah bisa mengambil posisiku."
Yasmin berhenti bergerak. Ia mendongak, menatap Sarah tepat di matanya, tatapan yang kini tidak lagi menunjukkan ketakutan seorang ART, melainkan tatapan seorang pemenang.
"Posisi Nyonya? Nyonya sendiri yang membuang posisi itu ke tangan pria lain. Saya hanya... memungut apa yang Nyonya sia-siakan."
Sarah memukul meja dan akhirnya terjadi peperangan di sana, perang mata. Sarah memajui Yasmin dan hendak menampar Yasmin, namun Sarah sadar bahwa di sini ada Rafka.
“Saya minta maaf, Nyonya, saya tidak bermaksud,” lirih Yasmin menundukkan kepala.
“Dasar, Jalang kecil,” kata Sarah mendorong tubuh Yasmin hingga Yasmin mundur beberapa langkah.