part 8

1450 Words
Di sebuah apartemen mewah yang terletak di pusat kota, unit yang sebenarnya disewa atas nama salah satu perusahaan Kaizan, suasana terasa pengap meski pendingin ruangan bekerja maksimal. Sarah duduk di tepi ranjang dengan napas yang masih tersenggal. Di depannya, Latif berdiri membelakangi jendela, menyesap rokoknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sarah merasa gelisah. Pertengkarannya di meja makan tadi pagi dengan Kaizan dan tatapan menantang dari Yasmin masih membekas di kepalanya. Ia merasa kekuatannya di rumah itu mulai goyah. "Kai sudah tahu semuanya, Latif. Dia membatalkan kartu kreditku, membatasi akses rekeningku, dan dia terus-menerus membahas soal perjanjian pranikah itu." Latif berbalik, ia mematikan rokoknya di asbak kristal dengan gerakan kasar. Ia melangkah mendekati Sarah, lalu duduk di hadapannya, mencengkeram kedua bahu wanita itu. "Lalu apa rencanamu? Menyerah begitu saja?" suara Latif terdengar berat dan penuh tuntutan. “Aku tidak ingin menyerah, tapi susah sekali jika harus melanjutkan.” "Ingat, Sarah, aku sudah mempertaruhkan posisiku di kantor. Kaizan sudah tahu aku selingkuhanmu, dan sebentar lagi dia pasti akan memecatku secara tidak hormat. Kita butuh modal untuk pergi dari sini." Sarah menatap Latif dengan mata berkaca-kaca. "Tapi perjanjian itu nyata, Latif. Ayah Kaizan sangat licik. Aku tidak akan dapat sepeser pun jika perceraian ini terjadi karena kesalahanku." Latif tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat manipulatif. Ia mengelus pipi Sarah, namun sentuhannya tak lagi terasa lembut seperti dulu. Ada ambisi yang besar di balik matanya. "Kesalahan? Siapa bilang ini kesalahanmu?" bisik Latif. “Terus?” "Kita buat ini menjadi kesalahannya. Tapi sebelum itu, kamu harus memastikan satu hal. Kamu harus menuntut hakmu sebagai ibu dari Rafka dan sebagai istri yang telah disia-siakan waktunya." Latif menarik napas panjang, lalu membisikkan angka yang membuat Sarah tersentak. "Minta dua puluh miliar, Sarah. Cash. Tanpa nego." Sarah terbelalak. "Dua puluh miliar?! Kamu gila? Kaizan memang kaya, tapi dia tidak sebodoh itu memberikan uang sebanyak itu begitu saja, apalagi setelah dia tahu aku bersamamu!" Cengkeraman Latif di bahu Sarah mengeras, membuat Sarah merintih kesakitan. "Dengar! Kaizan sangat mencintai citranya. Dia tidak akan mau video-video rahasia kita atau bukti bahwa dia sebenarnya mengabaikanmu tersebar ke media. Gunakan Rafka sebagai senjata. Katakan padanya, jika dia ingin perceraian ini berjalan tenang tanpa drama di pengadilan dan tanpa perebutan hak asuh yang berdarah-darah, dia harus membayar harganya." “Tapi—" "Dua puluh miliar adalah harga kebebasannya, Sarah. Dan itu adalah jaminan hidup kita di luar negeri nanti," lanjut Latif, suaranya mulai memaksa. Sarah merasa terjepit. Ia mencintai Latif, atau setidaknya ia merasa dicintai oleh pria ini. Namun, ia juga tahu bahwa Kaizan bukanlah lawan yang mudah. "Bagaimana kalau dia menolak? Bagaimana kalau dia malah melaporkan kita?" "Dia tidak akan melakukannya jika dia punya selingkuhan sendiri di rumah itu, kan?" Latif menyeringai. “Kamu tahu darimana? Ini baru kecurigaanku, belum tentu Kaizan berselingkuh dengan orang rendahan seperti pembantu itu.” "Tadi kamu bilang ada yang aneh dengan si pembantu itu. Yasmin? Gunakan itu! Tuduh dia berselingkuh dengan pembantunya. Jika Kaizan merasa terpojok karena rahasianya juga terancam, dia akan dengan senang hati menulis cek itu hanya agar kamu cepat-cepat pergi dari hidupnya." Latif mencium kening Sarah, sebuah ciuman yang terasa seperti segel perjanjian iblis. "Dua puluh miliar. Jangan kurang satu rupiah pun. Jika dia ingin cerai, itu adalah harga mati. Kalau dia tidak setuju, katakan padanya kamu akan membuat hidupnya seperti neraka di pengadilan selama bertahun-tahun sampai perusahaannya hancur karena skandal." Sarah terdiam, mencoba meresapi rencana gila Latif. Keserakahan mulai menutupi rasa takutnya. Dua puluh miliar. Dengan uang itu, dia bisa memulai hidup baru tanpa harus tunduk pada aturan keluarga Saverio yang kaku. "Aku akan mencobanya malam ini," ujar Sarah akhirnya dengan suara yang mengeras. "Bagus. Jangan terlihat lemah, Sayang. Ingat, Kaizan adalah mangsamu sekarang. Dan Yasmin? Dia hanya debu yang bisa kita singkirkan kapan saja." *** Malam itu, atmosfer di ruang tengah rumah Saverio terasa lebih dingin dari biasanya. Kaizan baru saja pulang dari kantor, masih mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku, ketika ia menemukan Sarah sudah menunggunya di sofa besar dengan kaki bersilang. Di tangannya terdapat sebuah map cokelat. Di wajahnya, ada senyum kemenangan yang sangat tidak wajar bagi seorang istri yang terancam diceraikan tanpa harta. Kaizan hendak melangkah menuju tangga, berniat mengabaikan kehadiran Sarah, namun suara istrinya menghentikannya. "Kita perlu bicara soal harga kebebasanmu, Kaizan," ucap Sarah dengan nada tajam yang menggantung di udara. Kaizan berhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Sarah dengan tatapan menghina. "Kebebasan? Aku nggak butuh membeli apa pun darimu, Sarah. Bukti perselingkuhanmu sudah lebih dari cukup untuk membuatmu keluar dari rumah ini tanpa membawa satu kancing pun." Sarah tertawa kecil, suara tawa yang kering. "Bukti? Kamu pikir di pengadilan nanti hakim hanya akan melihat videoku dengan Latif? Mereka juga akan melihat bagaimana seorang Kaizan Saverio mengabaikan istrinya selama bertahun-tahun, membuatku menderita secara mental dan yang terbaru... bagaimana kamu mulai tidur dengan pembantumu sendiri." Rahang Kaizan mengeras. "Jangan bicara sembarangan." "Jangan bohong, Kai. Aku melihat cara kalian saling pandang di meja makan tadi pagi. Aku tidak bodoh," ujar Sarah berdiri, melangkah mendekati Kaizan. “Apa pun yang kamu lihat itu belum tentu.” "Aku punya tawaran bagus. Kamu ingin perceraian yang cepat, tanpa drama, tanpa skandal di media yang bisa menghancurkan saham perusahanmu, dan tanpa perebutan hak asuh Rafka yang akan menghancurkan mental anak itu?" Kaizan menyipitkan mata. "Apa maumu?" Sarah mengangkat dua jarinya, matanya berkilat penuh keserakahan. "Dua puluh miliar. Cash. Bayar aku sebanyak itu, dan aku akan menandatangani surat cerai besok pagi. Aku akan pergi dari hidupmu, membawa namaku yang bersih, dan kamu bisa bebas bermain dengan pembantu pintarmu itu sepuasnya." Kaizan terdiam sejenak, seolah tidak percaya dengan angka yang baru saja ia dengar. "Dua puluh miliar untuk pengkhianat sepertimu? Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehat, Sarah. Latif yang menyuruhmu meminta ini, bukan?" "Tidak penting siapa yang menyuruhku. Yang penting adalah, apakah citramu dan hak asuh Rafka tidak layak dihargai dua puluh miliar?" ancam Sarah. “Kamu benar-benar gila!” "Jika kamu menolak, aku pastikan proses cerai ini akan berlangsung bertahun-tahun. Aku akan menyewa pengacara paling licik untuk menarikmu ke lumpur yang sama denganku. Aku akan hancurkan reputasimu sebagai pengusaha terhormat!" “Jadi, kamu mengancamku?” “Ya. Bukankah kamu ingin perceraian?” “Apa? Aku ingin perceraian? Kamu yang menginginkannya.” “Aku memang mencintai Latif, aku nggak bisa hidup tanpanya. Kamu punya banyak uang, tapi Latif bisa memberikanku semuanya termaksud cinta.” “Ya sudah pergi lah bersama kekasihmu itu, kenapa kamu menuntutku.” Sementara itu, di balik pintu dapur yang sedikit terbuka, Yasmin berdiri mematung. Ia mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Sarah. Genggaman tangannya pada nampan yang ia bawa menguat hingga kuku jarinya memutih. Dua puluh miliar. Itu bukan sekadar uang, itu adalah modal Sarah dan Latif untuk hidup mewah di atas penderitaan Kaizan. Yasmin tidak bisa membiarkan itu terjadi. Bukan hanya karena ia peduli pada harta Kaizan, tapi karena ia tahu jika Sarah mendapatkan uang itu, rencananya untuk membuat Sarah menderita secara finansial akan gagal. Yasmin ingin Sarah keluar dari rumah ini dalam keadaan sehancur-hancurnya, persis seperti yang dirasakan ibunya dulu. Yasmin mengatur napasnya. Ia tidak akan tinggal diam. Jika Sarah menggunakan ancaman skandal, maka Yasmin akan menggunakan sesuatu yang jauh lebih mematikan. Kebenaran tentang Latif. Kembali ke ruang tengah, Kaizan melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Sarah. "Dua puluh miliar," gumam Kaizan dengan suara yang sangat rendah namun mengancam. “Ya.” "Kamu pikir aku akan menyerah pada pemerasanmu?" "Pilihan ada di tanganmu, Sayang. Uang itu atau kehancuranmu." Tepat saat itu, Yasmin melangkah keluar dari dapur dengan wajah polos, membawa secangkir teh hangat. "Maaf, Tuan, Nyonya, saya hanya ingin mengantarkan ini." Sarah menoleh dengan tatapan jijik. "Pergi kamu! Urusan kami belum selesai!" Namun, Yasmin tidak langsung pergi. Ia menatap Kaizan sejenak, memberikan sebuah kode lewat sorot matanya yang tajam. Sesuatu yang membuat Kaizan menahan amarahnya. "Tuan," ujar Yasmin lembut namun penuh penekanan. “Hm?” "Saya rasa Nyonya harus tahu bahwa ada pesan penting di telepon rumah tadi untuk Nyonya dari seseorang bernama Pak Latif, namun suaranya terdengar sangat panik soal audit internal kantor." Wajah Sarah seketika berubah pucat mendengar kata audit. Yasmin tersenyum tipis di dalam hati. Ia tahu Latif sedang menggelapkan dana kecil di divisi logistik, sebuah rahasia yang ia temukan saat diam-diam meretas data kantor lewat laptop Kaizan semalam. "Audit apa maksudmu?!" Sarah berteriak pada Yasmin. "Saya tidak tahu, Nyonya. Saya hanya menyampaikan pesan," jawab Yasmin tenang. Kaizan, yang menyadari Yasmin sedang memberinya senjata, langsung bereaksi. "Audit? Ah, benar. Aku baru saja memerintahkan audit menyeluruh untuk seluruh divisi, termasuk divisi Latif. Jika ditemukan ada uang perusahaan yang hilang, Latif tidak hanya akan dipecat, Sarah. Dia akan masuk penjara." Kaizan menatap Sarah yang kini gemetar. "Sekarang, apakah kamu masih ingin meminta dua puluh miliar? Atau kamu ingin aku mempercepat proses pemenjaraan kekasihmu itu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD