Regantara mengalihkan pandangannya, sorot matanya mengarah ke Toni. “Bang, lo yakin udah nyariin di kamar utama mereka? Seluruh sudut kamar juga udah?” desaknya. Nada suaranya bergetar menahan ketidakpastian. Tuan Pras mendengus, sebuah letupan kekesalan yang tak mampu lagi dibendung. Ia merasa seperti bayangan, tak kasat mata di tengah pusaran kecemasan yang melanda. Toni mengangguk, gerakan singkat namun tegas. “Udah.” Regantara mengangguk-angguk, jemarinya mengetuk-ngetuk meja. Ritmenya senada dengan detak jantungnya yang semakin cepat. “Gue yakin mereka punya tempat rahasia. Bisa aja di lantai, dinding atau lemari tersembunyi.” “Tapi gue udah periksa brangkas mereka. Nggak ada apa-apa. Cuma dokumen sama perhiasan Nyonya Ma,” sahut Toni, mencoba meredakan ketegangan yang semak

