Aris mendorong pintu dengan pelan, seolah takut membangunkan sesuatu yang rapuh. Cahaya pagi merembes dari sela tirai, menimpa wajah Laura yang pucat. “Sayang, kamu belum bangun?” suaranya lembut, terlalu lembut untuk sebuah pagi yang penuh duri. Laura mendesis pelan, rasa muaknya menajam. Ia tak menoleh, hanya menarik napas panjang seperti sedang menahan rasa ingin muntah atas kepalsuan di depannya. “Udah kelihatan busuknya, Aris. Ngapain masih pura-pura manis?” ucapnya datar, tapi tajam. Aris justru tertawa kecil—tawa yang dingin, sepertinya sudah ia hafal rutenya. “Hari ini aku nggak akan jahat sama kamu.” Laura menoleh perlahan. Ada waspada yang gemetar di balik tatapannya, seperti seseorang yang terpaksa menatap ombak padahal ia sedang tenggelam. Ia tak mudah percaya. Tidak lagi

