Tuan Pras mengangkat alis ketika menangkap perubahan halus pada wajah istrinya. Alis Nyonya Wina bergetar tipis, senyumnya mendadak hilang, dan jemarinya mengepal di atas layar ponsel. “Kenapa, Mi?” suara Tuan Pras terdengar rendah, penuh selidik. “Siapa yang kirim pesan?” Nyonya Wina tersentak kecil, seolah baru sadar sedang diawasi. “Hah? Oh… ini, Pi.” Ia memaksa senyum, tapi suaranya goyah seperti daun tersentuh angin. “Temen. Ngajakin ketemuan nanti.” Tuan Pras melangkah lebih dekat. Sorot matanya tajam namun hangat—campuran rasa ingin tahu dan keinginan untuk memastikan istrinya baik-baik saja. “Terus kenapa gugup gitu?” bibirnya melengkung nakal. “Mami nggak selingkuh kan?” Pipi Nyonya Wina menghangat. Ia buru-buru menggeleng, terlalu cepat malah, membuat rambutnya ikut bergoy

