Bab 44. Pucuknya Saja?

1387 Words

Laura merasakan panas menggeliat dari dasar leher hingga merambat ke pipinya. Rasanya seperti ada ribuan mata memandangnya dari segala arah. Padahal di ruangan hanya mereka berdua. Dan rasa malu yang menggila itu semakin menggelembung di dalam dadanya. “Tapi bokap lo nggak akan ngasih izin. Tadi aja gue digaplok,” lanjut Regantara. Suaranya pelan namun membawa beban yang jelas. Laura melotot kaget. “Papi nggaplok lo? Kok bisa?” Lidahnya bergesek dengan gigi saat mengucapkan kata-kata itu. Dan pundaknya sedikit meninggi. Seolah tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Regantara mengangkat bahu dengan gerakan yang lembut. “Mungkin dia ngira gue ngapa-ngapain lo. Padahal anak dia yang minta diapa-apain.” Kemarahan menyambar dalam diri Laura, menyatu dengan rasa tidak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD