Nasib baik masih berpihak pada Regantara—meski hanya seujung kuku. Mobil itu memang menghantamnya, tapi hanya menyerempet kaki.
Dengan napas terputus-putus, Regantara berusaha bangkit. Pandangannya buram, berbayang dua, tiga, lalu menyatu menjadi satu sosok gelap yang turun dari truk.
Hitam dari ujung kepala hingga kaki. Diam, tapi punya aura dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.
Sreet… sreet…
Suara gesekan logam itu memecah kesunyian malam. Pipa besi, satu meter panjangnya, diseret begitu saja—seolah bobotnya tak lebih berat dari sebatang ranting.
Regantara menahan napas.
“No…” bisiknya lirih, hampir tak terdengar, ketika sosok itu mulai melangkah menuju bapak penjaga konter.
“Aaaarrrgghh!”
Ia memaksakan diri menyeret kaki kanannya yang kini mati rasa. Setiap gerakan membuat tubuhnya bergetar, tapi ia tetap mencoba menjauh—meski hanya beberapa inci.
Prang!
Suara kaca pecah.
Disusul dentuman tumpul yang menggema di malam yang sepi.
Bugh! Bugh! Bugh!
Regantara terpaksa menyaksikan semuanya. Bapak konter kini terkapar di teras. Tubuhnya tak lagi bergerak.
Lantai putih berubah warna perlahan, seperti tinta merah yang menodai kertas.
“Nggak … Ini pasti cuma mimpi.”
Regantara menggeleng lemah, napasnya tercekat. Ketakutan, rasa bersalah, dan adrenalin bercampur jadi satu.
Dalam kondisi begini, melawan mustahil. Ia bahkan hampir tak mampu berdiri.
Sambil menahan geram, ia mundur perlahan. Nalurinya hanya berbisik satu hal: selamatkan diri.
Ketika pelaku sibuk mengangkat tubuh sang penjaga, Regantara melihat kesempatan kecil itu dan langsung memanfaatkannya. Ia menyeret dirinya menjauh, langkah sumbang, pincang, hampir jatuh berkali-kali.
Thor… kenapa si bapak juga menjadi korban?
Jawabannya muncul bersama hembusan angin dingin malam itu—karena bapak penjaga adalah satu-satunya saksi saat Regantara ditabrak.
Dan para pelaku selalu tidak pernah membiarkan saksi hidup.
Sreeeet… sreeeet…
Regantara spontan menutup mulutnya sendiri. Nafasnya tercekat, nyaris tersedak ketakutan.
Suara gesekan besi itu kembali menggores malam, memanjang seperti ancaman yang tak terlihat.
'Sial… kenapa sunyi sekali?'
Umpatnya dalam hati, dingin merayap dari tengkuk hingga punggung.
Biasanya, gang menuju apartemennya selalu hidup—ada tawa, ada sepeda motor lewat, ada anak muda nongkrong sambil bercanda receh. Tapi malam ini… seolah seluruh dunia memutuskan untuk memalingkan wajah.
Konter tempatnya berlindung pun sialnya berada di area ruko yang sudah tutup sejak sore. Tak ada satu pun jendela yang memancarkan cahaya. Hanya gelap, dingin, dan suara jantungnya yang berdetak kasar di telinga.
Regantara merunduk dalam paret sempit, mencoba menyatu dengan bayangan. Ia tahu, tidak ada waktu untuk mengetuk pintu rumah siapa pun. Tidak ada yang bisa menolongnya di tempat sunyi seperti ini.
Hening.
Begitu hening hingga ia bisa mendengar detik waktu merayap.
Regantara menajamkan telinganya. Tidak ada lagi suara besi diseret. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada mesin truk yang menyala.
'Apakah dia pergi?' batin Regantara, bertanya-tanya.
Tapi… tidak ada suara mobil berlalu.
Pelan, ia mendongak. Jalanan kosong. Lampu-lampu mati. Bahkan area dekat truk pun tampak tak berpenghuni.
'Gue harus cepet pergi dari sini…,' gumamnya, setengah memohon pada dirinya sendiri agar tubuhnya mau bergerak.
Dengan susah payah, Regantara merangkak keluar dari paret. Tangannya gemetar saat meraih bibir bahu jalan, menarik tubuhnya naik sedikit demi sedikit.
“Ternyata kamu di sini.”
Suara itu—datar, tenang, dan mengiris seperti pisau dingin.
Belum sempat Regantara menoleh, sesuatu menghantam tengkuknya. Keras. Tajam. Napasnya terputus dalam sekejap ketika dunia gelap menelan pandangannya.
Pipa besi.
Dan senyum miring Aris yang muncul tepat setelahnya.
Aris berdiri di samping tubuh Regantara yang tak bergerak. Senyumnya mengambang seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan pekerjaan kecil yang mengganggu.
Dua anak buahnya muncul dari kegelapan tak lama kemudian.
Tanpa bertanya apa pun, mereka langsung bekerja: menghapus bercak merah di teras konter, menutup pintu, merapikan segala yang tampak salah—seolah malam ini hanya malam biasa.
Seolah tidak pernah ada darah yang tumpah.
Seolah tidak pernah ada nyawa yang hampir direnggut.
**
**
Sementara itu, di rumah Aris…
Laura memandangi langit-langit untuk kesekian kali. Matanya berat, tapi pikirannya sama sekali tidak mau diam. Ada sesuatu yang terasa ganjil sejak malam turun—sebuah kecemasan tipis yang merayap tanpa permisi.
Ia meraih ponsel di atas nakas. Layarnya menyala, menyorot wajahnya yang pucat kelelahan.
“Nggak biasanya Regan matiin HP pas kerja…” gumamnya lirih. Alisnya berkerut, jarinya menari di layar. “Dia ke mana sih?”
Beberapa detik kemudian, tubuhnya menegang.
Pesannya terkirim—tapi hanya terbaca. Tidak dibalas.
Mata Laura membesar. Rasa dingin menjalari d**a, berubah menjadi panas dalam satu tarikan napas.
“Serius…? Lo baca tapi nggak jawab?”
Sepi menjawab.
Dan di kepala Laura, logika tenggelam oleh emosi yang sejak tadi ia tahan.
“Astaga, Regan…” bisiknya, suara mulai bergetar. “Gue nggak nyangka lo sama aja kayak cowok b******k di luar sana.”
Prang!
Ponselnya melayang begitu saja, jatuh menabrak lantai. Laura menjerit kecil.
“Aduh! HP gue!”
Ia buru-buru turun dari ranjang dan mengambilnya. “Kenapa malah jatuh sih? Kalau rusak, gimana gue ngabarin Letta sama Regan…”
Drrrttt… drrrttt…
“Untung nggak mati,” cicit Laura lega. “Tumben Nesya nelpon gue.”
Ia menempelkan ponsel ke telinga.
“Halo, Nes?”
[Halo, Kak. Gue nggak ganggu kan?]
“Enggak, kok. Ada apa?”
[Kak Regan ngabarin lo nggak? Maksud gue… bilang dia lagi ada job di mana.]
Laura menggeleng meski lawan bicara tak melihat. “Nggak ada. Emang dia nggak ngabarin lo?”
Terdengar helaan napas berat.
[Dia nggak bilang apa-apa. Terus ini malah nggak bisa dihubungi. Dia nggak pernah, loh, kayak gini…]
Rasa yang tadi panas berubah jadi dingin menusuk perut.
Laura menggigit bibir. “Terus… dia ke mana ya?”
Dan tiba-tiba, satu potongan ingatan muncul—tajam, jelas, seperti adegan film yang diputar ulang.
Suara Aris di telepon.
“Bagus. Awasi terus.”
Sejenak, jantung Laura berhenti berdetak.
“Jangan-jangan…” gumamnya, wajahnya memucat.
[Jangan-jangan apa, Kak?]
Laura tersentak. “Nes, lo udah coba nelpon Bang Riki? Regan selalu sama dia kalau job ke luar kota. Gue nggak punya nomornya.” Suaranya meninggi, bukan marah, tapi panik.
[Oh iya. Ya udah gue matiin dulu.]
“Hm… jangan lupa kabarin gue, Nes!”
[Okay!]
Telepon terputus.
Laura menatap ponselnya, tangan gemetar halus.
**
**
Satu jam kemudian…
Saat Regantara membuka mata, dunia terasa miring. Pusing menghantam kepalanya seperti gelombang pasang.
Suara samar terdengar lebih dulu—suara Aris, rendah dan terukur—sebelum wajah lelaki itu akhirnya muncul dari balik kabut pandangannya.
Rasa ingin menghajar Aris menggelegak di d**a. Namun tangan dan kaki Regantara tak bisa digerakkan, dirantai ke kursi besi yang dingin. Ia menatap sekeliling, menelan ludah.
Dinding lembap, lantai semen, bau karat menusuk—ya, ini jelas ruang bawah tanah.
“Pastikan semuanya bersih. Aku tidak mau ada kesalahan,” ujar Aris pada seseorang di telepon.
Nada perintahnya dingin dan sangat familiar: nada seseorang yang terbiasa mengatur nasib orang lain.
Regantara mendengus, tatapannya tajam, tanpa gentar sedikit pun.
“Ternyata lo pelakunya.”
Aris menutup telepon, lalu menoleh sambil menarik senyum miring yang tidak pernah membawa kabar baik.
“Kenapa? Bukannya ini yang kamu mau? Kamu terlalu percaya diri… sampai berani menghamili Laura.”
Regantara menahan diri untuk tidak tertawa. “Bagus kalau lo udah tahu,” jawabnya santai—karena dia belum tahu apa-apa tentang pernikahan Laura.
Aris menghela napas, panjang dan kesal. Sorot matanya mengeras.
“Apa mau kamu sebenarnya? Aku tidak pernah mengusikmu, Regan.”
Regantara membalas dengan senyum sinis yang membuat suasana makin panas.
“Harusnya lo udah ngerti. Gue ngelakuin itu karena gue nggak mau lo nyakitin Laura. Karena gue tahu lo cuma manfaatin dia.”
Aris melepas satu kancing bajunya, menggulung lengan kemejanya seolah mencoba menyingkirkan hawa panas dari dadanya.
“Kamu pikir, dengan cara kekanak-kanakan itu aku akan melepaskan Laura begitu saja buat kamu?”
Regantara mengangkat bahu. Cuek. Tanpa takut.
Ya, dia memang berpikir seperti itu. Makanya dia menantang.
Aris terkekeh—tawa yang hampa, dingin, dan sedikit getir.
“Kamu salah besar, Regan.”
Regantara menyipitkan mata, mencoba membaca maksud di balik kata-kata Aris. “Salah? Mana mungkin lo mau nikahin Laura kalau tahu dia hamil. Cowok kayak lo cuma mikirin gengsi.”
Aris perlahan mengangkat tangan kanannya. Di jari manisnya, sebuah cincin berkilat di bawah lampu redup ruang bawah tanah.
“Aku sama Laura sudah menikah, Regan. Kamu terlambat.”
Regantara menatap tajam jemari Aris.
Dadanya terasa diremas, tapi Regan justru tersenyum bengis.
“Lo pikir gue bakal percaya omong kosong lo? Rencana nikah lo sama Laura kan masih tahun depan.”
Aris mengambil ponselnya. Beberapa ketukan jari kemudian, ia menampilkan sebuah foto. Lalu mengangkat layar itu tepat di depan wajah Regan.
“Kami menikah tadi siang.”
Regantara terdiam sesaat. Pandangannya membeku pada foto itu—Laura yang ia kenal, berdiri di samping Aris, mengenakan pakaian sederhana namun jelas-jelas pakaian akad.
Napas Regantara memburu. Rahangnya mengeras.
“Nggak mungkin…” desisnya. “Pasti itu foto palsu.”