Bab 9. Kemarahan Aris

1470 Words
Untuk membuat Regantara semakin terbakar, Aris menekan nama Laura di layar ponselnya. Bukan sekadar telepon—panggilan video. “Kamu lihat baik-baik,” ujar Aris dingin, sambil berdiri di sisi Regantara yang masih terikat. Layar bergetar. Nada sambung berulang-ulang. Aris mendekatkan ponsel itu, cukup dekat hingga Regantara bisa melihat pantulan wajahnya sendiri di pinggir layar. “Jangan bersuara kalau kamu mau Laura tetap hidup.” Nafas Regantara langsung memburu. Tinjunya mengepal, rantai bergetar menahan gerakan. “Kalau sampek lo macem-macem sama Laura…” suaranya rendah, penuh amarah yang menahan diri untuk tidak meledak, “gue habisin lo.” Aris menyentuh bahunya pelan—bukan ramah, tapi seperti seseorang yang sedang mengawasi hewan buas yang dirantai. Isyarat diam. Klik. Laura muncul di layar. Aris menyunggingkan senyum puas. “Laura, kenapa belum tidur? Apa nungguin aku?” [Hah?! I–itu… Aku baru dari kamar mandi.] Regantara memejamkan mata. Ia tahu Laura tidak bisa melihatnya, tapi ia dapat melihat kamar Laura dengan sangat jelas—dari gorden bermotif sampai lampu kecil di sisi ranjang. Bukan kamar Laura. Itu semakin menyakitkan. “Tidurlah, Laura sayang,” tutur Aris lembut, pura-pura manis. “Kita lanjut permainan kita besok pagi. Aku lagi…” [Kamu di mana? Kok gelap gitu?] Aris tertawa kecil, nada yang dibuat-buat. “Ah, aku mampir ke rumah teman. Biasalah… pulsa listrik. Mati mendadak.” Regantara perlahan membuka mata. Tatapannya muram, tegang, gelap. 'Kamu? Sejak kapan Laura manggil nih bandot pakai ‘kamu’? Bukannya selalu ‘abang’?' gumamnya dalam hati. Kebiasaan-kebiasaan kecil Laura selalu ia hafal luar kepala—dan nada bicara Laura malam ini terdengar… gelisah. Aris tentu sadar Regantara memperhatikan. Dan ia sengaja menekan lebih dalam. “Udah ya, Laura. Sayangku, cintaku. Sebentar lagi aku pulang.” Aris memiringkan kepala dengan senyum licik. “Kamu ganti baju dinas dulu sana.” Regan tersentak marah, tubuhnya menegang keras. Aris melihat reaksi itu, dan tatapannya memuaskan diri sendiri. Belum sempat Laura membalas, panggilan sudah diputus. “Gimana? Sekarang kamu percaya?” Aris berdiri tepat di hadapan Regantara, menatapnya dengan sorot mata yang penuh ejekan—tatapan seseorang yang menikmati runtuhnya dunia orang lain. Regantara menarik napas panjang. Dalam. Teratur. Ia tahu persis: menghadapi orang sebusuk Aris, emosi hanya membuatnya kalah langkah. “Terus maunya lo apa sekarang?” Regantara mengangkat dagu sedikit, tak memberi Aris kepuasan melihatnya terpuruk. “Kalau lo udah nikahin dia, ngapain nyekap gue? Duit lo kurang? Mau minta tebusan ke bokap gue?” Regantara tersenyum miring, seolah mengejek. Senyum sinis itu menusuk, dan Aris mengeras seketika. Ponsel di tangannya hampir diremukkan. “Aku mau kamu sama Laura… sama-sama menderita.” Regantara hanya memandang, tak berkedip. Ia tidak memberi Aris reaksi yang diinginkan. Aris kemudian meraih jaket Regantara, menggeledah kasar. Beberapa detik kemudian, ia menemukan ponsel baru Regantara dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Kamu punya dua HP baru? Menarik.” Regantara tersenyum kecut. Ia hanya diam saja. Itu bukan hal terpenting saat ini. Bahkan saat Aris membawa dua ponsel barunya pergi, Regantara tetap diam. Tidak melayangkan protes sama sekali. Perlahan—dengan napas pendek yang menyakitkan—ia merogoh saku celana. Gerakan itu lambat karena rantai di tangan dan kakinya tak benar-benar ketat, tetapi cukup menahan tubuhnya dalam posisi berdiri yang melelahkan. Jarinya akhirnya menyentuh benda kecil itu. Bukan pil aneh. Bukan alat untuk melarikan diri. Regantara menggenggamnya, lalu melihatnya di bawah cahaya temaram ruangan. Benda pipih. Dengan dua garis yang telah ia pertegas sendiri menggunakan spidol, agar tidak pernah pudar. Testpack. Testpack Laura. Ia bahkan sudah melaminatingnya. Ia jadikan gantungan kunci. Sebuah kenangan kecil yang baginya lebih berharga daripada nyawanya sendiri. “Ayah bakalan bawa kamu sama Bundamu pergi dari neraka itu, Nak…” bisiknya lirih, seolah berbicara langsung pada hidup kecil yang tumbuh dalam perut Laura. “Sabar, ya.” Rantainya memang longgar, tetapi tubuhnya tetap digantung berdiri—membuat setiap tarikan napas terasa seperti hukuman. Namun Regan tetap memeluk erat kekuatan kecil itu. Bukan rantai yang menahannya. Bukan luka yang membatasi geraknya. Yang benar-benar menahan Regantara tetap berdiri… adalah tekad untuk menyelamatkan dua nyawa yang paling ia cintai. ** ** Laura tak henti mondar-mandir di dekat pintu, langkahnya pendek dan gelisah. Sesekali ia menoleh pada jam di dinding, berharap Nesya memberi kabar sebelum Aris pulang. Perasaan itu terus mencubit dadanya—keyakinan bahwa Aris tidak akan membiarkannya menghubungi Regantara begitu pintu rumah kembali terbuka. “Kok lama banget sih? Apa gue aja yang nelpon?” gumamnya, hampir putus asa. Drrrtt… drrrtt… Laura langsung meraih ponsel di meja. Napasnya sedikit lega saat melihat nama Nesya. “Halo, Nes. Gimana? Apa kata Bang Riki?” tanyanya cepat, hampir menyerbu. [Katanya Bang Riki udah balik dari Surabaya jam delapan tadi. Tapi kok Kak Regan nggak balik ke apartemen, ya?] Laura menggigit bibir bawahnya sampai memutih. “Ditelpon aktif, kan?” [Aktif… tapi nggak diangkat.] “Em… nanti gue coba telpon. Mungkin dia tidur.” Laura memaksa suaranya terdengar ringan, padahal jantungnya berdebar tak karuan. Ia tidak mau membuat Nesya ikut panik. [Ya udah. Jangan lupa kabarin gue, Kak.] “Hm.” Panggilan pun berakhir. Tapi Laura tidak sabar. Ia langsung menekan nama Regan di kontaknya. Nada sambung. Lalu jeda sunyi. Tetap tidak diangkat. “Regan, lo ke mana aja sih?” bisiknya dengan suara bergetar. Ia mengetik cepat, emosinya meluap bersama ketakutan yang ia tahan. [Regan, lo ke mana aja sih? Gue khawatir. Dasar b******k!] Beberapa detik kemudian Laura terpaku. Pesan itu… centang biru. Dibaca. Tapi tidak dibalas. “Makin nggak ngotak. Apa sih maunya dia? Apa emang dia cuma mau hancurin gue aja?” Laura menggeram kesal, meski rasa khawatir jauh lebih besar daripada kemarahan. Tangannya kembali menekan tombol hijau. Lagi-lagi tersambung, tapi tidak diangkat. Tiba-tiba, dari luar kamar, terdengar dering ponsel—nada favorit Regantara. Nada yang selalu ia kenali dalam sekali dengar. Laura spontan menoleh ke pintu yang sedikit terbuka. “Regan?” bisiknya. Tap. Tap. Tap. Ada suara langkah kaki di lorong. Harapan menyembul cepat di dadanya. Dengan degup jantung yang makin cepat, Laura berlari keluar kamar, mengarah pada sumber suara. Namun begitu mencapai ambang pintu— “Mau ke mana?” Suara itu dingin. Sinis. Aris berdiri di sana, wajahnya diliputi amarah yang tidak ditutupi lagi. Di tangannya tergenggam sebuah rantai panjang yang berkilat di bawah lampu. Harapan di d**a Laura runtuh seketika. Laura menggeleng lemah. Tatapan Aris menghantamnya seperti bayangan gelap yang tak bisa dihindari. Sorot matanya dingin, tidak wajar—cukup untuk membuat kulit Laura merinding untuk kesekian kalinya. “A–aku mau… makan,” ucapnya terbata. “Iya. Makan.” “Makan?” Aris mengulang, nada suaranya penuh ketidakpercayaan. “Bukan karena mau nyari laki-laki itu?” Ia mengangkat tangan. Layar ponsel menyala, menampilkan panggilan masuk dari nomor Laura. “Kamu masih mau bohong?” Senyumnya tipis—mengerikan dalam kesunyian malam. “Kamu lupa kalau kamu sudah jadi istriku, Ra? Tapi masih sibuk cari laki-laki lain? Atau kamu memang… kangen perhatian dari dia?” “Cukup!” seru Laura, suara pecah oleh keberanian yang ia paksa keluar. Tinjunya mengepal, tubuhnya bergetar. “Aku bener-bener nggak nyangka kamu ternyata kayak gini.” Aris tertawa pendek—tawa miring yang tidak punya kehangatan sama sekali. “Kamu kira aku begini tanpa alasan? Kamu yang bikin aku sampai kayak gini.” Ia melangkah maju. Setiap langkah membuat Laura mundur selangkah. Sorot mata Aris—amarah, kekecewaan, dan obsesi—bercampur menjadi satu. “Satu hal yang paling aku benci… adalah perempuan yang nggak bisa setia.” “Aku nggak gitu!” Laura membalas, suaranya pecah namun tegas. “Aku nggak kayak yang kamu bilang.” “Terus apa?” Aris menyipitkan mata. “Apa dia bayar kamu? Berapa? Sepuluh juta? Dua puluh juta? Atau kamu kasih cuma-cuma karena kamu murahan?” Laura tersentak. Nafasnya kacau. Ia terus mundur, matanya mencari celah—jalan keluar, apa pun. “Kamu apain Regan?” suaranya gemetar. “Kenapa HP dia ada di kamu?” Aris mendecak, tatapannya menusuk. “Oh, sekarang kamu lebih seneng manggil aku pakai ‘kamu’ ya? Bukan ‘abang’ lagi?” Laura tak berani menjawab. Tenggorokannya tercekat. “Aku sudah nurutin apa mau kamu,” lanjutnya lirih, “tapi ngapain kamu masih ganggu Regan? Dia di mana?” Aris menghela napas panjang, seolah muak mendengar nama itu lagi. “Kenapa? Kamu mau nemuin dia? Kamu nggak bisa jauh dari dia, ya?” Wajahnya berubah. Rahangnya mengeras. Ada sesuatu yang liar dalam tatapannya, sesuatu yang membuat Laura mundur selangkah lebih cepat. Ponsel Regantara ia kantongi kasar. Tangannya mengepal. “Aris… jangan—” “Aku bilang cukup, Laura! Jangan bikin aku makin muak!” bentak Aris. “Aku ....” Tiba-tiba tubuh Laura terangkat dari lantai. Aris membopongnya dengan kasar, membuat Laura menjerit panik. “A—AAAH! Lepasin aku! Aris, lepasin!!” Laura berontak sejadi-jadinya, kaki dan tangan menendang udara, mencari pegangan. Mencari apa pun yang bisa ia gunakan untuk melawan Aris.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD