Bab 7

1070 Words
"Hahahah.. Kamu luar biasa, Audie!!" seru Alex yang merasa puas dengan ulah Audie. "Heheheheh.. Kalau ulat keket seperti itu mah tinggal di basmi!!" ucap Audie lagi. "Hahahhahaha hhahahaha..." Alex dan Tommy kembali tertawa. "Kenapa lagi sih nih duo gendeng!!" ucap Audie melihat Alex dan Tommy kembali tertawa. "Ulatt kekett.. Ulat kekett!! Itu julukannya si Alex untuk cewe yang tadi hahahhaa.. Trus kamu juga manggil tuh Siska Ulat Keket!" Tommy menjelaskan sambil menggelengkan kepala dan menahan ketawanya. "Owhhh hahhahaha," tawa Audie dan Maria bersamaan. "Ternyata Alex orangnya seru juga!" gumam Audie dalam hati. Mereka berempat pun kembali mengobrol ringan. Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. "Kalau gitu kami berdua balik duluan ya... Terimakasih untuk hari ini," pamit Audie dan berdiri dari duduknya diikuti oleh Maria. "Ok Audie.. Malam ini sungguh menyenangkan.. .hati – hati," ucap Alex. "Ok bye Alex.. Bye Tommy!" pamit Audie dan Maria bergantian. Audie dan Maria berjalan menuju pintu keluar. Namun.. "Audie, tunggu.." Alex mengejar dan meraih tangan Audie. "Ya?" kaget Audie dengan sikap Alex. "Boleh bicara sebentar? Berdua? Hmm?" izin Alex. Audie menatap Maria. "Ok! Saya tunggu diluar," jawab Maria. Dan memberikan waktu untuk mereka berdua. Maria bisa merasa aman karna Audie sedang bersama Alex. Begitu Maria keluar. Alex pun menarik Audie ke sudut ruangan. "Ya?" tanya Audie lagi yang dari tadi hanya mengikuti Alex. "Hmm.. Boleh minta nomor ponsel kamu?" ujar Alex ragu dan memberikan ponselnya ke arah Audie. Karena ini adalah pertama kali dalam hidupnya meminta nomor ponsel seorang wanita. "Hmm?" Audie tersenyum, tahu maksud Alex. Dan dia mengambil ponsel Alex dan mengetikkan beberapa nomor dan namanya. Dan mengembalikan ponsel Alex. Alex melihat nomor yang tertera dan mengangkat alisnya. "Itu hanya empat digit awal.. Aku akan memberikan lanjutannya kalau ada pertemuan kedua.. Kalau gitu permisi..." ucap Audie sambil mengedipkan mata dan berjalan dengan anggun keluar melewati Alex yang masih diam seribu bahasa. "Itu hanya sebagian.. Aku akan memberikan lanjutannya kalau ada pertemuan kedua.. Kalau gitu permisi..." ucap Audie sambil mengedipkan mata dan berjalan dengan anggun keluar melewati Alex yang masih diam seribu bahasa. "Oi bro!!" Tommy menyadarkan Alex yang masih berdiri diam. "Hei," kaget Alex. "Gimana ? Berhasil?" tanya Tommy penasaran. Alex hanya menyerahkan ponselnya ke Tommy. "Hahahahha.. Seorang Alexavier Ferdinand di tolak oleh seorang wanita!! “ Seru Tommy bahagia. Karena ini pertama kali dalam hidup Alex, dia berlari mengejar seorang wanita hanya untuk meminta nomor ponsel. Selama ini Alex hanya merasakan di kejar - kejar oleh wanita. Sampai dia bingung sendiri bagaimana menolak mereka satu per satu. Namun malam ini.... "Aku harus mendapatkannya Tom!!" seru Alex. Rasa penasaran yang begitu besar hinggap di hatinya. "Goodluck bro!" support Tommy. "Besok cari semua informasi tentang Audie!" titah Alex serampangan. Tommy hanya mendengus. "Siap Tuan Alex," sahut Tommy sambil memberikan hormat. "Apakah anda masih galau Tuan?" goda Tommy lagi. "Dasarrr teman lucknuttt!!!" geram Alex lalu berjalan keluar dari Club. "Astagaa kak Maria! Gimana nih!!" seru Audie panik. "Hmm? Kenapa?" tanya Maria bingung. "Kok bisa kita ketemu Alex disini!" pekik Audie lagi. "Gimana kalau dia sadar kalau pas ketemu Marissa??" lanjut Audie lagi. "Tenang.. Tenang sayang..! Tarik nafas.. Buang nafas... tarik nafas.. Buang nafas...!" ucap Maria dan Audie mengikuti instruksinya. "Ok.. oke.." "Tenang saja, Tuan Alex tidak akan menyadarinya, selama kamu menjaga karakter Marissa di depan Tuan Alex.. Ok?" ujar Maria lagi. "Tapiii kak.." sela Audie. "Tenang sayang.. Semua baik - baik saja," ucap Maria lembut. Bagi Audie, Maria bukan hanya sekedar pengawal pribadinya. Maria adalah sosok sahabat, kakak, dan pelindung dirinya. "Hmm.. terus apa yang dibicarakan Tuan Alex ?" goda Maria mengedipkan mata. "Hmmm, Dia menanyakan nomor ponselku kak.." jujur Audie. "Dann??" "Tentu saja aku tidak memberikannya kak.. Aku hanya memberikan empat digit awal.. Hahhahaha!" tawa Audie mengingat kejadian tadi dan mengingat raut wajah Alex. "Baguslah.." jawab Maria. Mereka berdua akhirnya tiba di basement utama, setelah melewati jalan rahasia di dalam basemant sebuah mall besar. Karena mobil yang di pakai Audie memiliki sistem GPS yang sangat canggih. Itu semua dilakukan untuk mempermudah Audie dalam mobilitas. Di kediaman David... "Bagaimana?" tanya David ke asisten pribadinya. "Mereka sudah mendapatkan informasi tentang Nona Marissa, Tuan.." jawab Verrel orang kepercayaan David. "Mereka akan segera tiba," lanjutnya lagi. "Lalu bagaimana dengan Cathlyn? Saudara perempuan Sydney?" tanya David lagi. "Sudah juga tuan. Orang kita sudah mendapatkan informasi penting," tukas Verrel. Tok.. Tok.. tok.. Verrel berjalan dan membuka pintu. "Masuklah," ujar Verrel ke bawahannya. Tiga pria berbaju hitam masuk ke dalam ruangan dan memberikan map coklat ke Verrel. "Ini Tuan.. Silahkan diperiksa," ucap Verrel. David membuka map coklat tersebut. Di dalam terdapat foto Marissa, profil Marissa, alamat tinggal selama Marissa hidup, dan surat kematian Cathlyn. "Kerja yang bagus!" puji David bercampur senang. Melihat isi Map tersebut. Ditambah dengan surat kematian Cathlyn. Karena bagi David, Cathlyn merupakan batu kerikil baginya menggapai hak perusahaan seutuhnya. "Hahaahahhahaa... Hahahahaha!" David tertawa puas, membayangkan perusahaan akan dengan mudah ia gapai. "Morning mom..." sapa Audie ke Vivian yang sedang membuat sarapan di dapur. "Morning sayang.." balas Vivian. "Bagaimana semalam?" tanya Vivian penasaran. Karena tadi hanya diceritakan sekilas oleh Maria. "Hmmm.. Iya Mom.. Semalam ketemu Alex di Club. Pas Audie sama kak Maria lagi party, trus Si Alex ikutan nimbrung... ambil jatah olahraga Audie hahahaha!" jawaban terkonyol Audie begitu saja. "Ckckckckkc... Jadi .. Jadi ??" sela Vivian mendengar banyolan Audie. "Trus kita ngobrol deh. Ngobrol santai aja sih.. Dannn lucunya Mom!!! And you know what ?? " kata Audie tertahan. "Apa sayang ?? Hmmm? Jangan buat Mommy penasaran !!" tukas Vivian dan menghentikan pekerjaannya menunggu lanjutan cerita Audie. "Si Alex ngaku kalau Audie itu pacar dia.. Gendeng banget gak Mom??!" Seru Audie mengingat kejadian semalam yang membuatnya bergidik. "WHATTT!!" teriak shock Vivian. "Kok bisa ??" James yang kaget dengar teriakan Vivian segera berlari kearah dapur. "Ada apaaa??" suara panik James. "Audie pacaran sama Alex!" jawab Vivian asal. "WHATTTT!!" James pun ikut berteriak shock. "Astaga naga terbang !!! Mom .. Uncle.. Itu hanya akting aja!!" Audie gemas melihat reaksi Mommy Viviannya dan Uncle James. "Kok bisa?" kini James juga ikut penasaran dan duduk di kursi bar, pas disamping Audie. "Jadi gini.... Si Alex kan bantuin Audie. Trus Audie mau traktir dia sebagai ucapan terimakasih. Tapi dengan entengnya dia bilang gini.. Lain kali saja.." seru Audie sambil mengikuti cara bicara Alex. "Trus.. Truss..?" tukas James. "Ya sudah, Audie oke in aja biar cepat. Ehh... Pas lagi santai - santai ngobrol. Ada ulat Keket datang..." "Ulat keket? Kok bisa ada ulat keket di club?" sela James tidak paham dengan istilah anak jaman now.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD