Bab 14

981 Words
Audie berpose dengan santai di depan kamera. Maria, yang juga merangkap fotografer pribadinya, dengan cekatan mengambil gambar. "Siap, Nona. Bergayalah," seru Maria sambil mengatur sudut kamera. Audie, yang sudah lama tak memperbarui media sosialnya, akhirnya memilih salah satu foto terbaik untuk diunggah. Setelah selesai, ia tersenyum puas. "Terima kasih, Kak. Kalau begitu, aku pergi dulu," pamit Audie. "Baik, Nona. Hati-hati," jawab Maria. --- Lima menit setelah Audie meninggalkan apartemen, Maria menyusulnya. Sebagai pengawal pribadi, Maria harus selalu waspada, menjaga keamanan Audie tanpa sepengetahuannya agar privasi Audie tetap terjaga. Dua puluh menit berlalu. Audie tiba di sebuah restoran mewah di Berlin. Lokasi ini sebelumnya dikirimkan Alex melalui pesan. Audie memilih untuk tidak dijemput demi menjaga identitasnya. Sesampainya di dalam restoran, Audie langsung menemukan Alex yang sudah menunggunya di salah satu meja. "Hai," sapa Audie dengan senyum kecil. "Hai," balas Alex sambil berdiri. Ia menarik kursi untuk Audie. "Terima kasih," ucap Audie. "My pleasure," Alex tersenyum lembut. Seorang pelayan datang dengan menu di tangannya. "Selamat malam, Tuan dan Nona. Silakan, ini menu kami," sapanya ramah. "Terima kasih," jawab Alex dan Audie hampir bersamaan. Mereka memesan makanan mulai dari hidangan pembuka hingga penutup. "Baik, Tuan dan Nona. Jika ada tambahan, silakan tekan bel di sudut meja," ujar pelayan sebelum meninggalkan mereka. Sementara itu, di salah satu sudut restoran, Maria duduk dengan dandanan menyamar—rambut palsu blonde, riasan menor, lengkap dengan pakaian mencolok ala ibu-ibu kondangan. Penampilannya sukses membuatnya tak dikenali, tapi hampir membuatnya tertawa melihat interaksi Alex dan Audie. "Uhm… aku tidak menyangka kalau kamu anak Aunty Vivian," Alex memulai percakapan. "Hmm… dan aku juga tidak menyangka kalau kamu anak Aunty Lily dan Uncle Ferdinand," balas Audie santai. Alex tertawa. "Apakah ada yang lucu?" tanya Audie heran. "Sangat lucu," jawab Alex, berusaha menahan tawa. "Kenapa?" "Karena tahu tidak? Setelah kejadian di klub, aku mencarimu ke mana-mana. Tapi sama sekali tidak menemukan informasi apa pun," jelas Alex. "Serius? Kenapa kamu harus mencariku seperti itu? Gila!" sindir Audie. "Ya, aku gila!" balas Alex spontan. Audie terkejut. "Apa?! Kau serius?" "Kamu yang membuatku gila!" lanjut Alex dengan ekspresi serius. Audie terdiam sejenak, bingung. "Ada yang salah? Apa salahku?" tanyanya polos, tidak paham maksud Alex. Alex menatap Audie tak percaya. "Serius, kau tidak mengerti maksudku, Audie?" "Yah, aku tidak paham," jawab Audie, dengan polos. Maria yang mendengar percakapan mereka hampir meledak tertawa. Dalam hati ia berkata, "Oh Nona Audie-ku yang polos. Bersabarlah, Tuan Alex." Alex menarik napas panjang. "Aku mengejarmu waktu itu, meminta nomor ponselmu, tapi kau hanya memberiku empat digit angka." "Tentu saja. Kita baru kenal waktu itu, Tuan Alex," sindir Audie. "Alex, oke?" sela Alex. "Hmm, maaf," balas Audie. "Jadi tidak mungkin aku memberikan nomor ponselku kepada orang asing," lanjut Audie. Alex tersenyum kecil. "Baiklah… itu masuk akal." "Tapi di bagian mana aku membuatmu menjadi gila?" tanya Audie polos. Sebelum Alex sempat menjawab, Audie melanjutkan. "Seingatku, aku tidak berbuat aneh-aneh. Waktu itu aku bahkan sudah balas budi dengan menjauhkan ulat keket dari hidupmu! Lagipula, aku dan Kak Maria sebenarnya bisa menghajar enam pria berotot gemulai itu!" cerocos Audie. Alex memutar mata, lalu tertawa kecil dalam hati. "Oh My Lord, wanita ini begitu unik." Namun sebelum Alex bisa menjawab, pelayan kembali ke meja mereka membawa pesanan. Pelayan dengan cekatan menyusun hidangan di atas meja mereka, membuat suasana makan malam semakin elegan. "Sudah semuanya, Tuan dan Nona. Silakan dinikmati," ujar pelayan sopan sebelum beranjak pergi. "Terima kasih," ucap Audie dan Alex bersamaan. Setelah pelayan berlalu, Audie langsung melanjutkan topik pembicaraannya. "Jadi, di mana salahku tadi?" tanyanya, menatap Alex dengan ekspresi serius yang justru terlihat menggemaskan. Alex menahan senyum. "Mari kita makan dulu, oke?" jawabnya tenang, meskipun dalam hati ingin sekali mencubit pipi Audie yang bulat itu. "Hmm, oke. Aku juga lapar," jawab Audie santai sambil mulai menyantap kartoffelsalat kesukaannya. Namun, ia langsung memindahkan daun sup ke sisi piring dengan ekspresi kesal. Alex memperhatikan tindakan itu dengan senyum kecil. "Kau tak suka daun sup?" tanyanya. "Ya... rasanya aneh. Tapi kartoffelsalat ini sangat enak. Kenapa harus dihias dengan daun sup sebanyak itu?" keluh Audie sambil menggerutu. Alex tertawa kecil. "Sini, berikan daun sup tak bersalah itu padaku," katanya sambil memindahkan daun sup dari piring Audie ke piringnya. "Ambillah semuanya," jawab Audie sambil membantu Alex memindahkan daun sup dengan semangat. "Dasar seperti anak kecil," ledek Alex sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Kau benar-benar picky eater." "Ini bukan picky eater, Alex. Ini namanya selera!" Audie membalas dengan tegas. "Ya, ya, baiklah," Alex menyerah, meskipun senyumnya tak kunjung hilang. Audie melanjutkan makannya dengan lahap, sementara Alex terus memperhatikannya dengan tatapan lembut. "Kau benar-benar membuatku gila," gumam Alex pelan, tapi cukup keras untuk didengar Audie. "Uhukk... uhukk!" Audie langsung tersedak mendengar ucapan Alex. "Makan perlahan. Minum dulu," ujar Alex seraya menyerahkan segelas air. Audie menerima gelas itu, meneguk airnya, lalu membersihkan mulutnya dengan tisu. Ia menatap Alex dengan mata menyipit. "Kau baru saja bilang aku membuatmu gila! Kalau kamu jadi gila karena makan malam ini, mari kita berhenti di sini!" serunya sambil bangkit dari kursinya. Namun, Alex dengan sigap menahan tangannya. "Duduklah," katanya tegas namun lembut. Audie kembali duduk, masih dengan ekspresi bingung. "Audie, aku gila karena kamu, tapi bukan seperti yang kamu pikirkan," Alex mulai menjelaskan dengan suara tenang. "Lalu?" Audie menyela, penasaran. "Aku gila sejak pertama kali melihatmu masuk ke klub malam itu. Kamu mencuri perhatian semua orang, termasuk aku. Rasanya seperti kamu berjalan di bawah spotlight," Alex berkata dengan nada serius, meskipun ada sedikit senyum di wajahnya. Audie memutar matanya. "Gombal!" sindirnya. Alex tertawa kecil. "Aku serius, Audie. Sejak malam itu, pikiranku penuh dengan dirimu. Dan ketika aku melihatmu lagi di rumah, satu hal yang kupikirkan adalah—Takdir. Audie terdiam sejenak, menatap Alex dengan ekspresi campur aduk. "Takdir? Oh my... Alex, kamu benar-benar membuatku salah paham," katanya akhirnya, suaranya kembali santai. "Jadi, apakah kita bisa melanjutkan makan malam ini sekarang?" Alex tertawa lega. "Tentu saja," jawabnya. Keduanya kembali menikmati hidangan mereka, tetapi percakapan barusan meninggalkan senyum kecil di wajah mereka masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD