Bab 15

800 Words
Alex terdiam, sedikit bingung saat Audie hanya menanggapi pernyataannya dengan santai. Ia melanjutkan makannya sambil berpikir dalam hati, "Kenapa dia begitu tenang? Perasaanku tadi aku baru saja menyatakan cinta secara tidak langsung..." "Hmm, baiklah," ucap Alex singkat, mencoba menyembunyikan rasa canggungnya. Namun, ia mencoba mengganti suasana dengan topik lain. "Oh iya, Audie, bagaimana kabar Ica?" tanyanya tiba-tiba. Audie mengerutkan kening. "Ica?" "Iya, sepupumu. Anak Aunty Sydney," jelas Alex. "Hah?!" Audie menatap Alex dengan ekspresi kaget, tetapi sebelum ia sempat merespons lebih jauh, seorang wanita paruh baya tak sengaja menumpahkan piring dessert ke bahunya. "Oh, I'm sorry, Miss. That was my mistake," ujar wanita itu dengan panik. Audie hendak memarahi, tapi ia mengurungkan niatnya. "It's okay, Madam. Are you alright?" jawabnya dengan ramah. "Yes, Miss. I'm so sorry," balas wanita itu, yang ternyata adalah Maria. Wanita itu kemudian cepat-cepat berlalu, namun sebelumnya, ia mendengar percakapan tentang "Ica" yang membuatnya bergegas menghentikan topik tersebut. --- Alex yang melihat Audie kesulitan membersihkan noda dessert di bajunya langsung menawarkan bantuan. "Butuh bantuan?" tanyanya. "Iya, kalau tidak merepotkan," jawab Audie santai. Alex mengambil tisu, berdiri di belakang Audie, dan mulai membersihkan noda tersebut. "Rambutmu juga terkena saus manis," ujarnya sambil terkekeh. "Benarkah?" Audie meraih serbet, membasahinya sedikit, lalu menyerahkannya kepada Alex. "Tolong pakai ini," pintanya. Alex menerima serbet itu dan membersihkan rambut Audie dengan hati-hati. "Sudah bersih," ujarnya kemudian. "Ah, terima kasih. Tolong sekalian bagian belakang bajuku. Aku tidak bisa menjangkaunya," ujar Audie sambil menggulung rambutnya ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih. Glek. Alex menelan ludah. Dalam hati ia bergumam, "Oh My... kau menggoda saat ini, Audie?" Namun, ia tetap melanjutkan tugasnya hingga selesai. Tak tahan dengan situasi itu, Alex membuka jasnya dan menyelimutkannya ke tubuh Audie. "Pakailah ini," katanya singkat. "Thank you," balas Audie. --- Karena insiden tersebut, mereka memutuskan untuk mengakhiri makan malam lebih awal. Sesampainya di apartemennya, Audie duduk termenung, memikirkan pertanyaan Alex tentang "Ica." Dengan ragu, ia memutuskan menelepon Vivian. "Halo, Mom," sapa Audie begitu telepon tersambung. "Hmm, iya, sayang," jawab Vivian lembut. "Mom, boleh Audie bertanya sesuatu?" tanyanya ragu. "Tentu saja, sayang." "Mom, apakah Mommy Sydney memiliki anak perempuan selain Audie?" tanya Audie langsung. "Hah? Tentu saja tidak, sayang. Kamu adalah putri satu-satunya. Ada apa?" Vivian terdengar bingung. Audie menjelaskan dengan nada risau, "Mom, tadi Alex bertanya lagi tentang Ica. Dia bilang Ica adalah anak dari Mommy Sydney. Tapi selama ini, Audie tidak pernah tahu siapa itu Ica." Vivian dan James yang mendengarkan percakapan tersebut saling bertukar senyum. James berbisik kepada Vivian, "Katakan saja yang sebenarnya." Vivian mengangguk sebelum kembali berbicara. "Audie, sayang..." Vivian membuka pembicaraan dengan lembut. "Iya, Mom?" "Ica itu sebenarnya adalah kamu. Mungkin kamu lupa, tapi nama kecilmu adalah Marissa," ungkap Vivian. Audie tertegun sejenak. "Oh... jadi Ica itu panggilan dari nama kecilku, Marissa?" tanyanya memastikan. "Benar, sayang," jawab Vivian dengan senyum di suaranya. Audie terdiam. Kini segalanya mulai masuk akal, tetapi pertanyaan baru bermunculan di pikirannya. Apa yang sebenarnya Alex tahu tentang dirinya? Audie menatap layar ponselnya yang baru saja dimatikan, rasa campur aduk memenuhi pikirannya. Fakta mengejutkan tentang Alex, Ica, dan masa lalunya membuat ia tidak bisa tenang. Ia mendesah panjang, mencoba mencerna semua informasi yang baru diterimanya. "Pengantin kecil?" gumamnya, setengah tidak percaya. Tangannya mengusap wajah, mencoba menenangkan diri, tapi pikirannya terus berputar. Alex mencarinya selama ini. Kenapa? Apa yang sebenarnya membuat pria itu begitu terobsesi? Langkah Audie mengarah ke balkon apartemennya. Ia memandang jauh ke lampu-lampu kota yang gemerlap di malam hari. Angin malam menyapa lembut wajahnya, tapi tetap saja hatinya terasa berat. "Apakah aku harus memberitahunya? Tapi... apa yang akan berubah jika ia tahu aku adalah Ica?" Kenangan makan malam tadi terlintas di benaknya, bagaimana Alex bersikap lembut, bahkan membantu membersihkan pakaiannya saat insiden tak terduga terjadi. Namun, ada sesuatu dalam sorot mata Alex—seperti kebingungan bercampur harapan. "Dia mencariku... tapi apakah aku benar-benar berarti baginya, atau ini hanya tentang masa lalu?" Audie menyandarkan tubuhnya di railing balkon, kedua tangan memegang kuat besi dingin itu. Perasaannya campur aduk. Ia teringat ucapan Vivian, bahwa Alex hanya mencintai satu wanita seumur hidupnya. Benarkah itu? Dan wanita itu adalah dirinya? "Besok..." gumam Audie, memutuskan. "Aku harus berbicara dengan Alex. Tapi aku akan melakukannya dengan caraku sendiri." Dengan tekad itu, ia masuk ke dalam apartemennya, mencoba untuk tidur meski pikirannya masih sibuk dengan semua kemungkinan yang akan terjadi. Sedangkan di Rotherham.. "Bisakah kita melanjutkannya sayang?" gumam James yang kembali berada diatas tubuh Vivian. Belum juga Vivian membalas pertanyaan James. James segera melumat bibir Vivian dengan rakus. Akibat permainan yang tadi tertunda. "Ahhh..." suara Vivian ketika tangan James sudah berada di tengah pangkal paha. James lumatan James perlahan turun ke bukit kembar Vivian. Dan menyicipnya satu per satu. Dan menarik pucuk pinknya dengan rakus. Karena tidak tahan, James memasukkan rudalnya ke liyang kenyal Vivian dan memaju mundurkan tubuhnya. Sampai mereka berdua menggapai puncak bersama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD