"Nona, ada asisten Tuan David menuju Apartemen B (Apartemen Marissa)," seru Maria sambil melihat dari CCTV.
"Ok, Kak!" balas Audie.
Audie segera masuk ke Apartemen B lewat pintu rahasia.
Bip bip...
"Ok, Nona. Stand by," suara Maria terdengar melalui headset Bluetooth.
"Ok! Ehmm, ehmm!" balas Audie sambil bersiap-siap.
Ceklek! Audie membuka pintu apartemen.
"Permisi, apa benar ini dengan Nona Marissa?" sapa pria di depannya.
"I-iya, betul. Dengan Tuan siapa?" jawab Marissa dengan suara gugup yang dibuat-buat.
"Perkenalkan, Nona. Saya Verrel, asisten pribadi Tuan David," ujar Verrel ramah, menyadari gadis di depannya tampak mulai ketakutan.
"Tuan David?" Marissa balik bertanya.
"Iya, Nona. Apa Anda tidak mengenal Tuan David? Beliau adalah ayah kandung Anda," jawab Verrel memastikan.
"Iya... maaf. Saya tidak kenal, karena menurut Bibi saya, saya sempat mengalami kecelakaan dan melupakan beberapa memori," jawab Marissa dengan wajah sedih.
"Saya turut menyesal, Nona Marissa," ujar Verrel sopan.
"Terima kasih, Tuan Verrel. Sebelumnya, mohon maaf. Saya harus segera berangkat kerja," ujar Marissa buru-buru.
"Ah, iya. Baik, Nona. Saya datang hanya untuk menyampaikan undangan dari Tuan David," ucap Verrel sambil menyerahkan undangan kepada Marissa.
"Terima kasih, Tuan Verrel."
"Saya permisi, Nona," pamit Verrel, lalu pergi.
Setelah pintu tertutup, Maria menghampiri Audie dan mengambil undangan untuk memindainya, memastikan tidak ada alat penyadap atau sejenisnya.
Setelah dipastikan aman, Maria menyerahkan undangan itu kembali kepada Audie.
"Silakan, Nona. Mohon lebih berhati-hati ketika keluar dari Apartemen B. Di depan pintu, pria tadi menaruh beberapa kamera kecil untuk memantau Anda," ucap Maria.
"Hmm, ok, Kak. Kita ikuti permainan mereka!" seru Audie.
Audie pun membuka undangan tersebut dan membacanya.
"Dia ingin Marissa menghadiri pesta ulang tahun Karina!" seru Audie setelah selesai membaca isi undangan.
"Hmm, jadi, Nona?" tanya Maria.
"Let's go to the party, Kak! Kita ikuti permainan mereka!" jawab Audie dengan antusias.
"Ok, Nona. Ngomong-ngomong, saya pikir Anda harus berangkat sekarang," tegur Maria sambil melirik jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh.
"Oh, sial!" Audie menepuk jidatnya dan segera mengambil kunci mobil serta sling bag-nya.
Sementara itu, di tempat lain.
"Tuan David, saya sudah menyampaikan undangan sesuai instruksi," lapor Verrel kepada David.
"Hmm, bagus, Verrel! Menurutmu, dia bagaimana?" tanya David, penasaran.
"Saya mendapatkan informasi dari Nona Marissa sendiri. Katanya, dia hilang ingatan akibat kecelakaan," jelas Verrel.
"Apa? Benarkah? Hahahaha... Ini luar biasa! Dewi Fortuna sedang berpihak padaku!" sarkas David sambil tertawa puas.
"Selamat, Tuan. Tapi sebaiknya kita tetap waspada," saran Verrel yang tampak lebih tenang.
"Iya, iya, tentu saja, Verrel! Kerja bagus hari ini!" seru David penuh semangat.
"Kalau begitu, saya permisi, Tuan," pamit Verrel.
"Ok."
Setelah Verrel keluar, David menekan interkom untuk memanggil sekretaris pribadinya, Nanda.
"Masuklah... puaskan aku! Hahaha!" seru David.
"Baik, Tuan," jawab Nanda sambil masuk ke ruangan David dan mengunci pintu.
Nanda berjalan mendekat dengan penuh godaan.
"Tuan, Anda terlihat sangat bahagia pagi ini," goda Nanda sambil memainkan rambut di d**a David yang terbuka.
"Iya... maka layani aku pagi ini!" cecar David, menarik rambut Nanda ke belakang dengan kasar.
"Tentu saja, Tuan. Aku milikmu," bisik Nanda.
Setelah berkata begitu, Nanda membuka celana David dan mulai memenuhi hasrat Tuan besarnya.
---
Di tempat lain, di ruang kerja Alex.
Alex tampak terkejut membaca file yang diberikan Tommy pagi itu. File tersebut berisi informasi detail tentang Marissa.
"Tidak mungkin! Wanita yang selama ini aku cari ternyata begitu dekat denganku!" gumam Alex dengan ekspresi tak percaya.
File itu menjelaskan bahwa nama asli Marissa adalah Marissa Lashon, bukan Marissa Ethelyn seperti yang selama ini dikenal.
"Sial! Kenapa aku begitu bodoh!" makinya pada diri sendiri.
Namun, tiba-tiba Alex menghentikan aktivitasnya.
"Tunggu!" ucapnya, lalu terdiam sejenak, memikirkan sesuatu yang mendalam.
Dengan cepat, Alex mengambil ponselnya dan menelpon Ferdinand.
"Dad..." panggil Alex.
"Ya, Alex," jawab Ferdinand.
"Dad, tolong jelaskan. Apakah Daddy kenal dengan Marissa Lashon yang menjadi sekretarisku?" tanya Alex serius.
"Ya... tentu saja. Kenapa kau begitu terlambat menyadarinya?" ledek Ferdinand.
"Maksud Daddy...?" Alex semakin bingung.
"Hmm, sudahlah. Yang penting kau sudah tahu, Nak. Sisanya kau urus sendiri. Semangat mendapatkan kembali pengantin kecilmu! Hahaha," goda Ferdinand di seberang sana.
"Daddy, ta—" Alex belum sempat melanjutkan kata-katanya, tapi Ferdinand sudah menutup teleponnya.
"Oh My God...! Daddy, apakah aku harus marah atau memelukmu saat ini...!" gumam Alex, namun bibirnya menyunggingkan senyum kecil.
Dengan cepat, Alex mengaktifkan kembali kaca ajaibnya.
"Hmm, di mana dia?" gumam Alex saat tidak menemukan Marissa di ruangannya.
Ceklek.
Marissa masuk kembali ke ruangannya, duduk di hadapan laptopnya, dan mulai bekerja lagi seperti biasa.
"Hmm, dia sudah kembali... Maafkan aku karena tidak mengenalimu," gumam Alex, memperhatikannya dari kejauhan.
Drrzzttt
Ponsel Audie berbunyi.
"Ahh... video dari Uncle James... Oh My, kenapa aku jadi gugup begini!" gumamnya sambil membuka pesan video tersebut.
Alex, yang sedari tadi mengamati tingkah Marissa, merasa tingkah gadis itu agak absurd namun lucu.
"Apa yang dia lakukan...?" gumam Alex, bingung.
Sementara itu, Audie duduk di kursinya dan membuka video dari Uncle James.
"OH... MY... GOD!!!" serunya setengah berteriak, melihat video dan beberapa foto yang menunjukkan kebersamaannya dengan Alex saat mereka kecil.
Alex ikut terperanjat melihat ekspresi Marissa yang tiba-tiba shock. Tanpa sadar, dia menekan tombol interkom yang terhubung ke ruangan Marissa.
Beep beep.
"Iya, Tuan Alex?" sapa Marissa, berusaha terdengar tenang.
Alex yang bingung mau berkata apa karena tadi hanya refleks menekan tombol itu, akhirnya bersuara, "Hmm... ke ruangan saya."
Sebenarnya, Alex penasaran dengan apa yang baru saja dilihat Marissa hingga membuat wajahnya berubah drastis.
"Baik, Tuan," jawab Marissa, lalu berdiri dari kursinya.
Melihat Marissa berjalan menuju ruangannya, Alex dengan cepat mengganti tampilan kaca ajaibnya, menyembunyikan apa yang dia lihat tadi.
Tok tok tok.
"Permisi, Tuan Alex," sapa Marissa.
"Iya, silakan masuk," jawab Alex.
Marissa melangkah masuk dan mencoba menahan ekspresinya. Bagaimana tidak? Video tadi jelas menunjukkan dirinya telah bertunangan dengan Alex. Dia pun cepat-cepat menggelengkan kepala, berusaha menghempas bayangan video itu dari pikirannya.
"Hmm, ada apa, Tuan?" tanya Marissa akhirnya.
"Ah... tidak ada apa-apa. Duduklah. Aku ingin membicarakan beberapa hal," seru Alex dengan nada serius.
"Iya, baik, Tuan," jawab Marissa patuh, lalu duduk.
Padahal, sebenarnya Alex sendiri cukup bingung harus mengatakan apa.
Seandainya ini di hutan, pasti sedari tadi sudah terdengar suara jangkrik...
Krik krik krik.
Keheningan yang canggung membuat Marissa mulai gelisah.
"Nih orang mau ngomongin apa sih...? Hiks, mau buka nih kacamata, lelah banget!" gumam Marissa dalam hati, meredam kegugupannya.
Akhirnya, Alex berdehem. "Ehm, ehm... Marissa, ini dokumen yang sejak tadi aku cari. Tolong selesaikan. Tidak perlu terburu-buru."
Ia menyerahkan map ke Marissa, yang sebenarnya hanya alasan semata.
"Baik, Tuan. Kalau tidak ada lagi, saya permisi," ujar Marissa sopan.
"Iya, silakan," jawab Alex, kali ini dengan nada lebih lembut.
Setelah Marissa keluar dari ruangan, Alex menghela napas panjang. Lalu, dengan frustrasi, dia menarik rambutnya sendiri.
"Sial!" gumamnya kesal, tetapi tak bisa menahan perasaan aneh yang kini memenuhi dadanya.