Bab1

1093 Words
Audie Ethelyne adalah seorang gadis berparas cantik, memiliki kulit putih bersih bak porselin, modis, dan selalu menjadi pusat perhatian kemana pun dia melangkah. Bertolak belakang dengan Marissa Lashon. Marissa Lashon adalah seorang gadis kutu buku, memakai kaca mata tebal, selalu mengepang rambutnya, lugu, dan tidak modis. Marissa Lashon adalah karakter yang Audie ciptakan untuk menutupi jati dirinya. Semenjak Audie berusia lima tahun. Audie harus tinggal bersama sang bibi—saudara kandung dari mamanya. Flashback On Mama Marissa telah meninggal pada saat dia berusia lima tahun. Karena mendapati suaminya sedang beradegan panas dengan wanita lain di kamarnya. Dan mengetahui semua kejahatan sang suami. Sydney Lashon adalah nama Mama Audie atau Marissa. Seorang pengusaha wanita sukses di jamannya. Sydney menikah dengan seorang pria bernama David Zaque yang merupakan assistent pribadinya. Pria yang telah mencuri hatinya dengan segala perhatiannya. Sydney menerima segala tentang suaminya sebagai pria dari kalangan biasa. Pernikahan mereka sangat bahagia dan memiliki seorang putri cantik bernama Marissa. Namun semuanya hancur berantakan ketika Marissa berusia lima tahun. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Mamanya telah berlumuran darah di depan tangga. Yang sampai sekarang kematiannya masih sebuah misteri. Dan tidak berselang dari dua hari dari kedukaan mendalam, seorang wanita hadir di rumah dan berlagak bak nyonya rumah. Memperlakukan Marissa dengan sangat buruk. Cathlyn Lashon, adik perempuan dari Sydney Lashon memutuskan untuk mengasuh keponakan satu-satunya dari saudaranya itu. Karena sudah dari beberapa bulan sebelumnya mendiang sudah berpesan kepada dirinya. "Aku percayakan Marissa padamu Cath..." mohon Sydney ke adiknya itu. "Jagalah dia seperti anak kandungmu..." lanjut Sydney lagi. "Tentu saja kak, Marissa itu ponakanku satu-satunya, aku sangat menyayanginya.." jawab Cathlyn. "Syukurlah... Tolong tepati janjimu Cath, dan ini ku titipkan padamu, berikan ke Marissa saat dia berusia 18 tahun," ujar Sydney sembari memberikan sebuah kotak kecil yang begitu indah. "Kenapa bukan kamu sendiri Syd??" tanya Cathlyn bingung. "Tolong jangan tanyakan apapun untuk saat ini, dan tolong tepati janjimu, Cath." Hanya itu yang bisa Sydney ucapkan. "Baiklah kak," jawab Cathlyn yang tidak ingin menanyakan rasa penasaran atas sikap Sydney. Flashback Off Dan disinilah sekarang Marissa dan Cathlyn tinggal. Di kota kecil bernama Rotherham. Kota dengan populasi hanya lebih dari 100.000. Cathlyn mengganti semua identitas mereka berdua. Yang di bantu oleh pengacara kepercayaan Sydney yang bernama James Osmont. Ternyata Sydney sudah mengatur dan mempersiapkan semuanya. Aset dan ahli waris sudah dia pindah tangankan untuk Marissa. Cathlyn Lashon mengganti namanya menjadi Vivian Ethelyne. Janda yang memiliki seorang putri bernama Audie Ethelyne (Marissa Lashon). Seorang bisnis woman yang memiliki industri terbesar di Kota Rotherham. Pabrik industri milik Sydney yang tidak diketahui oleh David. Vivian memperlakukan Audie seperti putri kandungnya sendiri. Dia mengorbankan kebahagiannya untuk merawat Audie. Semua kehidupannya dia hanya curahkan untuk Audie. Sebelum usia 18 tahun. Vivian menutup rapat peristiwa kelam itu. Dan sekarang usia Audie sudah genap 18 tahun. Audie merayakan pesta 18 tahunnya dengan sangat meriah. Gadis cantik, tinggi semampai, kulit putih bak porselin, contour wajah yang kecil dan imut. Begitu sempurna dengan gaun bermotif bunga yang indah melekat pada tubuhnya. "Happy birthday my little girl," ucap Vivian terharu melihat gadis cantiknya sudah menginjak usia dewasa. Dan mengecup kedua pipi Audie. "Ohh mom... Thank you," balas Audie dan memberikan kecupan sayang ke Mamanya itu. Yahh, Audie sudah menganggap Vivian adalah Mamanya. Bagaimana besarnya cinta dan kasih sayang yang diberikan Vivian terhadap dirinya. "Nah sekarang tiup lilinnya, jangan lupa berdoa!" seru Vivian dengan wajah bahagia. Audie menutup mata dan memanjatkan doa, lalu meniup lilin di kue tart didepannya. Pesta berjalan dengan lancar dan meriah. Pancaran bahagia terlihat di wajah Audie. Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Teman dan para tamu sudah pulang. Sekarang Audie berada di kamarnya yang bernuansa putih pink soft. Tok tok tok "Audie, boleh mommy masuk?" terdengar suara Vivian di balik pintu. "Yess mom, silahkan." jawab Audie yang baru saja keluar dari kamar mandi habis membersihkan badannya dengan air hangat. Vivian membuka pintu dan masuk ke kamar Audie. Duduk di atas sofa yang empuk. Sambil memegang erat kotak yang begitu indah ditangannya. "Ada apa mom?" tanya Audie melihat raut muka Vivian yang begitu resah. "Hmmm... Hmmm... Mommy mau memberikan sesuatu ke Audie. Ini adalah hadiah dari Mama Sydney sayang," ujar Vivian sambil menyerahkan sebuah kotak yang begitu cantik ke tangan Audie. Tanpa sadar bulir air mata jatuh dari pelupuk mata Audie. Sosok mama yang begitu dia rindukan. "Don’t cry honey," ujar Vivian memeluk erat tubuh kecil Audie dan mengusap lembut pipi basah Audie. "Hikkss... Hikss..." hanya isak tangis kecil yang dikeluarkan Audie. Vivian mengendurkan pelukannya. "Mommy keluar, silahkan Audie membuka kotak dari mama Sydney," ujar Vivian lembut sembari mengusap pipi Audie. "Tapi mom," Audie menahan lengan Vivian. "It’s ok sayang, ini adalah moment terpenting dalam hidup kamu, mommy tidak mau mengganggu waktu kamu bersama mama sydney... Hmmm?" Vivian berkata dengan lembut, mengusap puncak kepala Audie penuh kasih sayang. "Thank you mom, i love you," jawab Audie dan melepaskan genggamannya di lengan Vivian. "I love you too my little girl!" seru Vivian dan meninggalkan kamar Audie. Audie menatap kosong kotak di depannya. Hatinya belum siap. Namun, dalam hati kecilnya sangat ingin membuka kotak itu. "Hufttt! Hahhh!" tarikan nafas Audie memberanikan diri. "Kamuuu bisaaa Audie!" seru Audie kepada dirinya sendiri. Ia mulai membuka kotak itu dengan perlahan. Ada sebuah amplop yang berisikan surat bertuliskan tangan, black card, dan berbagai surat yang tidak dia pahami. Audie membuka amplop surat yang begitu cantik. Dan membaca surat bertuliskan tangan itu, "Hello my sweetheart... Happy birthday, Mama minta maaf tidak bisa mengucapkannya langsung. Mama tahu Marissa... Hmm Audie? Menjadi gadis yang begitu cantik. I love you sayang... Mama harap kamu selalu berbahagia. Dan menjadi wanita yang kuat. Apakah Audie sudah punya kekasih?? 😊😘 Tumbuhlah jadi gadis yang kuat, pemberani, dan mandiri. Sampaikan terima kasih mama ke Aunty Cathlyn telah menjaga Audie dan menggantikan posisi mama. Dan, sesuatu yang penting ingin mama sampaikan. Mulai saat ini, Audie harus mempersiapkan diri. Kedepannya akan sangat banyak rintangan yang akan kamu hadapi. Jadilah wanita yang tangguh. Mama percaya Audie pasti bisa. Ambillah kembali semua hak kamu. Uncle James dan Aunty Vivian akan menjelaskan semuanya kepada Audie. I love you sayang...💋 " Air mata Audie mengalir begitu derasnya. Isak pilu yang begitu merindu. Audie memeluk erat surat dari Sydney. Malam ini Audie hanya menangis sampai kelelahan dan terlelap dengan berjuta rasa penasaran. Pagi menyambut Audie dengan nyanyian merdu suara burung. "Good morning sayang," sapa Vivian membuka kain penghalang jendela membiarkan sinar matahari pagi masuk ke dalam kamar Audie. "Good morning mom..." balas Audie yang sudah terbangun dari tidurnya. "Are you ready?" tanya Vivian dan mengecup lembut pipi kanannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD