Bab 10

1051 Words
Marissa pun larut dalam kerjanya... "Tom.. Gimana? Sudah dapat informasi tentang Audie?" tanya Alex ke Tommy yang kini ada di ruangannya. "Belum Lex, semua informasi tentang Audie tidak bisa ditemukan," jawab Tommy. "Kerjalah yang benar Tommy!" seru Alex tidak terima. "Siap Tuan Alex!!" jawab Tommy sambil memberi hormat. Tok tok tok... "Masukk..." jawab Alex. "Selamat siang Tuan Alex, siang Pak Tommy," sapa Marissa. "Siang.. Ada perlu apa Marissa?" tanya Alex. "Siang.." jawab Tommy. Marissa berjalan ke arah meja Alex dan menyerahkan map yang berisikan dokumen. "Ini Tuan, berkas - berkasnya sudah selesai saya kerjakan. Silahkan di cek kembali.." ujar Marissa. Tommy yang melihatnya spontan membelalakkan mata ke arah Alex. "Ahh.. Baiklah.. Terimakasih," Ucap Alex singkat. "Kalau gitu saya permisi Tuan," pamit Marissa dan sebelum keluar, Marissa berbalik. "Tuan apa boleh saya is-ti-ra-hat ma-kan si-a-ng?" ucap Marissa sambil menekankan kata istirahat dan siang. "Ah iyah silahkan Marissa" jawab Alex. "Terimakasih," balas Marissa dan keluar dari ruangan Alex. "Ck kalau berkas gitu doang mah gampang hahahhaa!" gumam Marissa penuh kemenangan. "Whattt!! Dia sudah selesai ??" tanya Tommy penasaran ketika Marissa sudah menutup pintu ruangan. Dan ikut melihat berkas - berkas tersebut yang ada di atas meja Alex. "Hmm.." gumam Alex. Sebenarnya berkas - berkas ini deadline senin depan. Tapi karna Alex sedang taruhan dengan sang Daddy. Akhirnya dia menggunakan cara licik ini. Dengan berniat Marissa menyerah di hari pertama dia bekerja. Setelah Alex dan Tommy selesai memeriksa berkas satu per satu. Bahkan mereka sempat memeriksa ulang dengan detail mencari kesalahan. Namun, semuanya begitu sempurna. "So, Tuan Alex??" tanya Tommy. "Hmmm... Berarti dia layak menjadi sekretarisku," ujar Alex menerima kenyataan dan mengangkat bahunya. . . . Marissa turun ke lantai bawah menuju Kantin Kantor. Ia memesan nasi goreng seafood dan segelas jus jeruk dingin. "Heii siapa tuh?" seru salah satu karyawan wanita yang tak duduk jauh dari Marissa "Katanya sekretaris baru Tuan Alex!" "Hahh? Yang benar saja? Sejak kapan selera Tuan Alex jadi seperti ini?" "Betul.. sungguh merusak pemandangan!" celutuk salah satu dari mereka. Marissa yang mendengar mulai jengah. Namun, dia tidak bisa bereaksi ataupun mengambil tindakan. "Hmm ingattt!! Kamu sekarang Marissa gadis yang polos!!" gumamnya dalam hati mengingatkan dirinya. Drzz ‘Nona.. mereka menuju ke arah Nona dan membawa segelas minuman’ isi chat Maria. Marissa hanya membacanya dan mengedipkan mata ke arah Maria yang sekarang menyamar menjadi Office girl. "Hmm, walaupun polos dan lugu tak harus lemah ‘kan?" gumamnya lagi sambil tersenyum smirk. Dengan sengaja Marissa memegang ponselnya dan mematikan layarnya. Lalu mengarahkan ke arah tiga wanita itu. "1.. 2.. 3.." gumam Marissa, ketika wanita itu berniat menumpahkan minuman di kepala Marissa, Marissa langsung bangun dari duduknya lalu berbalik spontan ke arah mereka yang seolah-olah kaget bahunya yang terkena minuman. Blesshhhh Jus jeruk Marissa membasahi wajah dan baju wanita di depannya. "Argh!! Apa yang kamu lakukan!!" teriak wanita itu yang bernama Winni. "Maaf.. Maaf Bu.. Tidak sengaja," ucap Marissa sambil membersihkan wajah Winnie dengan tissue yang mengakibatkan Maskara dan ayelinernya berantakan. "Sudahh.. sudah.. dasarrr bodohh!! Awas kamu!!!" ketus Winni dongkol. "Sekali lagi maaf buu.." "Bu.. ibuu..!! Emang aku ibu mu!! Panggil Nona Winni! Dengar, hahh!" Seru Winni lagi dengan congkak. "Ahh baik," jawab Marissa. Winni pergi ke toilet dan diikuti oleh ketiga temannya. Marissa tersenyum puas. "Yah walaupun berkorban dikit.. setidaknya hasilnya memuaskan!!" Serunya sendiri dan tertawa pelan. Maria yang melihat tingkah Nona mudanya itu, hanya geleng-geleng kepala dan ikut tersenyum puas. Dan ternyata bukan hanya Maria mengawasi Marissa. Pada saat kejadian tadi. Alex dan Tommy baru saja keluar dari lift. Alex melihat dengan jelas kalau Winni dengan sengaja menumpahkan minuman ke kepala Marissa. Namun gadis itu menghindar dengan cepat dan membalas mereka dengan menumpahkan segelas jus jeruk tepat di wajah Winni. "Tom... pertunjukan ini sungguh terasa seperti dejavu..." gumam Alex ke Tommy yang dari tadi menyaksikan tontonan gratis yang lebih seru dari pada di netflix. "Betul Alex.. tapi itu tidak mungkin orang yang sama kan?" ujar Tom. "Hmm.. itu tidak mungkin. Pasti hanya kebetulan.." sahut Alex dan kembali masuk ke dalam lift. "Tom, sekalian makan siang ku bawa ke atas.." pinta Alex santai dan langsung menutup pintu lift. "Ck.. dasar, Aku harus segera mencari info tentang Audie, bisa - bisa aku yang jadi sasaran terus!" gumam Tommy dan bergegas memesan makan siang mereka. Marissa kembali ke lantai 18, menuju toilet untuk membersihkan bajunya yang terkena siraman air teh tadi. Alex yang ternyata duduk di dalam ruangannya memperhatikan Marissa. Saat ini kaca ruangannya dia ubah menjadi kaca satu arah. Yang artinya dia bisa melihat aktifitas di luar dari ruangannya. Marissa masuk kembali ke ruangannya dan duduk kembali melanjutkan pekerjaannya. Entah kenapa Alex menjadi penasaran dengan sosok Marissa setelah kejadian di kantin. Dan sekarang dia seperti mata - mata yang mengamati gerak gerik Marissa. Bipp.. Alex mengembalikan kaca ruangannya ke mode normal ketika melihat Tommy keluar dari lift. "Nasi goreng seafood sudah tiba Tuan Alex!" Sindir Tommy. Karena ini pertama kalinya Alex menyuruh Tommy membelikannya makanan. "Minumannya??" tanya Alex tanpa rasa bersalah. "Kompliitt Tuan Alex.. Ini silahkan Jus Jeruknya.." sahut Tommy sambil tersenyum dipaksa. "Goodjob!!" ujar Alex. Bagaimana kabar David ?? Hari ini David begitu senang karena sudah mendapatkan informasi tentang Marissa yang tinggal di sebuah apartment kecil dan bekerja sebagai seorang sekretaris. "Jadi apa rencana kamu sayang ?" tanya Kimberly ke David yang saat ini sedang duduk diatas pangkuannya. "Hmm.. menurut kamu??" "Bagaimana kalau kita temui dia ? Dan mengundangnya ke acara ulang tahun Karina ?" Seru Kimberly. "Kenapa kita harus mengundangnya Kim ? Nanti dia hanya akan membuat kita malu!" ucap David. "Tak apa sayang.. aku sudah punya rencana.." ujar Kimberly sambil membelai lembut pipi David dan melumat bibirnya. "Hmm baiklah sayang, aku serahkan padamu..." jawab David dan kembali melumat bibir Istrinya. Ingin memuaskan sang suami. Kimberly memutar badannya. Sehingga kini mereka saling berhadapan. Kimberly kembali melumat bibir sang suami. Dan jarinya dengan lembut membuka satu per satu kemeja David. David hanya diam menikmati permainan liar Kimberly. Setelah puas dengan wajah dan bibir David, Kimberly turun ke d**a suaminya lalu melumat titik kecil yang ada di d**a itu. "Hmm.. kamu sungguh nakal Kim!" gumam David. "Tentu saja sayang, karna itu kamu tak bisa berpaling dariku Dav.." ucap Kimberly dengan menggoda. David hanya tersenyum menanggapi perkataan Kimberly. Tangan Kimberly turun mengusap tonjolan bawah yang sudah mengeras. Dan membuka pembungkusnya, membuat milik David melompat keluar. "Hap..." Kimberly memainkannya di dalam mulutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD