Bab 11 (21+) Cara Kim

1063 Words
"Sssttt.. Kim" desah David yang tak tahan lagi untuk menyemburkan lahar panasnya. Kimberly melahapnya sampai habis. "Gimana sayang??" tanya Kimberly dan megedipkan matanya. "Kau yang terbaik Kim!! Kita lanjut sebentar malam. Aku harus meeting sekarang.." ujar David dan memperbaiki pakaiannya. "Tentu sayang, kalau gitu aku pulang.." Kimberly pun keluar dari kantor David. "Siang Bu Kimberly," sapa Sekretaris pribadi David. "Hmm Siang.. Nanda.." balas Kimberly tanpa menoleh. Setelah memastikan Kimberly naik ke mobilnya dan keluar dari area kantor. David menekan intercom sekretarisnya. "Masuklah..." Tok tok tok "Siang Pak Dav.." sapa Nanda. "Masuklah dan jangan lupa kunci pintunya!" titah David. "Baik Pak..." Nanda dengan patuh mengunci pintu kantor. Dia tahu apa maksud dari atasannya ini. Karena sudah enam bulan ini dia harus melayani hasrat atasannya. Tentu saja karena dia berhasil menggoda atasannya ini dengan tubuhnya. Setelah pintu tertutup, Nanda berjalan dengan gemulai sambil melepaskan pakaiannya satu per satu sambil menggoda David. Pertama dia melepaskan atasan blazernya, kemudian melepaskan rok mininya, membuka penutup dadanya, kemudian yang terakhir kain tipis yang menutup lembahnya. Dengan anggun dan berlenggak lenggok menggunakan high heelsnya yang menambah kesan seksi di kakinya yang jenjang dia berjalan ke arah David yang begitu b*******h. Dengan gemulai dia naik ke atas meja kerja David. Dan melayani David sampai dia mencapai pelepasan. ❤❤❤❤ Bersamaan dengan Alex yang mengganti kaca ajaibnya ke mode normal. Marissa melepaskan kacamata dan mengurai rambutnya. Tak lupa dia mengunci pintunya. Dia merapikan bajunya yang sedikit basah. Dan mengeringkan rambutnya dengan tissue. Yang tadi dia bilas karena tumpahan air teh. Setelah dia rasa cukup kering. Marissa kembali mengepang rambutnya dan kembali memakai kacamata hitamnya. "Huftt, hari pertama sudah kena bully.." gumam Marissa. "Siapa sih nenek lampir tadi!" gerutu Marissa. Lalu mengambil ponselnya. ‘Kak.. cari tahu siapa yang tadi tumpahin air teh ke bajuku’ chat Marissa ke Maria. ‘Baik Nona’ dengan cepat Maria membalasnya. Tok tok tok... Suara pintu Marissa di ketok seseorang. Marissa bergegas mengecek kembali penampilannya. Merasa sudah ok. Dia membuka pintu. "Ya Pak Tommy?" sapa Marissa. Tommy kaget melihat pakaian Marissa basah di bagian bahu kirinya. "Baju kamu kenapa basah begini??" tanya Tommy. "Ah, ini tadi ada sedikit kecelakan di kantin Pak," Marissa sedikit berbohong karena merasa tidak perlu menjelaskan ke Tommy. "Iya bener juga! Kok gw bisa lupa," gumam Tommy dalam hati mengingat kejadian di kantin. "Waduh gimana dong. Kita ada meeting jam 2, tidak mungkin dong kamu pakai baju yang basah gitu?" ujar Tommy. "Jadi gimana Pak?" tanya Marissa balik yang ikutan bingung. "Yah gak tahu. Kamu cari akal biar bisa kering dengan cepat!" seru Tommy. "Baik Pak.." pasrah Marissa. Tinggg.. Tiba - tiba pintu lift terbuka. "Permisi pak.. Ini pesanan Tuan Alexavier," ujar salah satu staff wanita yang bernama Melissa. "Ahh iya..sini biar aku yang berikan ke Tuan Alex.." ucap Tommy dan mengambil paper bag dari tangan Melissa. "Saya permisi pak," pamit Melissa. "Ok, thank you Melissa," balas Tommy sambil mengedipkan mata ke Melissa. Ternyata di dalam ruangan, Alex kembali mengaktifkan kaca ajaibnya. Dan melihat percakapan Tommy dan Marissa. Alex segera menelpon salah satu staff bagian fashion apparel untuk dibawakan satu set pakaian untuk sekretarisnya. flashback 10 menit yang lalu "Iya Tuan Alexavier," jawab seorang wanita di seberang. "Bawakan satu set pakaian untuk sekretaris saya." titah Alex. "Baik Tuan, mohon maaf Tuan. Ukurannya?" tanya staff tersebut dengan sopan. "Hmm, mungkin Small saja!" seru Alex sambil melihat Marissa dari balik kaca. "Baik Tuan. Segera saya siapkan." Staff wanita yang berada di bagian fashion itu menyiapkan satu set pakaian sekretaris yang menurutnya sangat cantik. Dengan segera dia mengantarkannya ke Lantai 18. flashback off "Ok.. Marissa kamu siapkan dokumen untuk meeting siang ini," ujar Tommy sambil menyerahkan map biru ke Marissa. "Baik Pak Tommy.." jawab Marissa dan kembali ke ruangannya. "Tuan Alex.. ada titipan dari Melissa bagian Fashion Apparel" Seru Tommy ke Alex yang sedang asik mengetik. "Ohh.. taruh saja di atas meja." jawabnya santai. "Baik Tuan.. sebentar kita ada meeting dengan klien dari Indonesia," ujar Tommy. "Ok Tom." Tommy pun keluar dan kembali masuk ke dalam ruangannya untuk menyiapkan bahan materi persentasi untuk meeting siang ini. bip bip bip Bunyi intercom Marissa. "Iya Tuan Alex?" Sapa Marissa "Masuk ke ruangan saya," titah Alex. "Baik Tuan." Tok tok tok "Masuk." Marissa pun membuka pintu dan masuk ke ruangan Alex. "Iya Tuan Alex?" "Ambil paper bag disana dan ganti pakaian kamu," ujar Alex sembari menunjuk ke arah paperbag yang ada di atas meja. "Kenapa harus ganti pakaian Tuan?" tanya Marissa bingung. "Kamu mau pakai baju yang basah itu?" "Tidak apa - apa Tuan. Nanti akan kering sendiri," Jawab Marissa. "Ganti! Kita ada meeting siang ini. Klien ini merupakan tamu penting," ujar Alex. "Baik Tuan." Tak bisa menolak. Mau tidak mau Marissa berjalan mengambil paperbag dari atas meja Alex. Karena alasan Alex masuk akal, tidak mungkin dia menerima tamu dengan keadaan seperti ini. "Pakai ruangan disitu untuk berganti.." imbuh Alex sambil menunjuk ke salah satu pintu. "Baik Tuan.." Marissa berjalan ke pintu tersebut. Dan membukanya. Ternyata ini adalah ruang istirahat Alex. Marissa pun mengunci pintu. Lalu mengambil pakaian yang ada dalam paperbag tersebut. "Astaga!!" shock Marissa melihat pakaian tersebut. "Hmm cantikkk. Tapi... ini bukan gaya Marissa. Habislah aku!" Gumam Marissa. Mau komplain tidak mungkin kan. Bisa - bisa dia ngeluarin tanduk si Bos. "Fiuh.." akhirnya Marissa mengganti pakaiannya. Dia melihat dirinya di cermin. "Hah! Semoga baik - baik saja," gumamnya. Lalu keluar dari ruangan. "Tuan Alex... Terimakasih," Marissa berjalan ke arah Alex. Alex tertegun melihat penampilan Marissa. Dia merasa keadaan sekarang seperti dejavu. Dimana jantungnya berdegup begitu kencang melihat seorang wanita. Baju kemeja brokat putih dan rok selutut warna biru emerald begitu pas dipakai Marissa. Kulit putih Marissa bercahaya dengan pantulan sinar matahari yang masuk dari balik kaca. "Tuan??" tegur Marissa karena Alex hanya diam menatapnya. "Ahh iyah.. Bersiaplah ! Sepuluh menit lagi kita ke ruang meeting," ujar Alex menutup kegugupannya. "Baik Tuan.. saya permisi." Marissa berjalan keluar dan kembali ke ruangannya untuk menyiapkan dokumen-dokumen yang tadi dia kerjakan. Kini Alex, Tommy dan Marissa berada di meeting room. Pertemuan dengan Klien dari Indonesia berjalan lancar. Marissa tak pernah membuat kesalahan sedikit pun. Walaupun ini adalah hari pertamanya bekerja. Hal itu membuatnya mendapatkan pujian dari salah satu tamu tersebut. "Mr Alex... you have a wonderful secretary (Tuan Alex, kamu memiliki sekretaris yang luar biasa)!" Seru Reza memuji dengan tulus. "Thank you Mr. Reza!" balas Alex. Alex hanya melihat bagaimana dengan mudahnya Marissa berbaur dengan tamu-tamunya. Membuatnya lumayan kagum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD