Bab 22

1563 Words
Pagi itu, Sheila terbangun dengan perasaan tidak nyaman yang menggumpal di dadanya. Matanya masih terasa berat, seakan enggan menghadapi realitas yang menantinya di luar sana. Sinar matahari pagi menyusup masuk melalui celah tirai kamar, seolah memaksa Sheila untuk menghadapi kenyataan. Ia mengambil ponsel di meja samping tempat tidurnya, sebuah pesan dari Devi langsung muncul di layar. "Kamu sudah baca berita hari ini? Jangan kaget ya. Aku di sini kalau kamu butuh bicara." Sheila langsung merasa perutnya melilit tegang. Dengan jantung yang berdebar cepat, ia membuka berita daring pertama yang muncul di pencarian. Judul besar terpampang dengan jelas: "Sheila Rahadian, CEO The Diamonds Palace, Terlibat Skandal Pribadi dengan Galih Pradipta." Tangannya bergetar saat membaca paragraf demi paragraf yang berisi gosip murahan yang menyudutkan dirinya dan Galih. Artikel itu jelas-jelas bertujuan untuk menghancurkan reputasi mereka berdua, menggambarkan hubungan mereka sebagai sesuatu yang penuh manipulasi dan skandal. Ia tahu persis siapa di balik semua ini. Sheila merasa mual, hatinya berdenyut sakit menyadari bahwa ayahnya sendiri, Ferry, bersedia melakukan sejauh ini demi ambisinya. Ia merasa seakan dikhianati dengan cara yang paling kejam. Emosi marah dan kecewa bercampur aduk, membuat napasnya terasa sesak. "Sheila?" suara Galih terdengar lembut dari pintu kamar. Sheila menoleh, melihat Galih berdiri dengan wajah khawatir. "Kamu baik-baik saja?" Tanpa menjawab, Sheila menunjukkan layar ponselnya kepada Galih. Ekspresi wajah Galih berubah dalam sekejap, alisnya bertaut erat dengan rahang yang mengeras. "Ini sudah keterlaluan," desis Galih, berusaha menahan amarahnya. Ia duduk di sisi ranjang, meraih tangan Sheila yang dingin dan bergetar. "Aku merasa begitu lelah, Galih," suara Sheila hampir seperti bisikan, penuh kelelahan emosional. "Aku lelah terus-terusan diserang seperti ini. Aku hanya ingin hidup tenang, bersamamu." Galih menarik Sheila ke dalam pelukannya dengan lembut namun penuh keyakinan. "Aku tahu ini berat, Sheila. Tapi kita tidak boleh menyerah sekarang. Mereka ingin melihat kita hancur. Tapi selama kita bersama, mereka tidak akan bisa menang." Sheila merasa air mata mulai jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. "Aku tidak peduli tentang apa yang dikatakan orang-orang, Galih. Yang paling menyakitkan adalah karena ini datang dari ayahku sendiri. Bagaimana bisa dia tega?" Galih menghela napas panjang, merasakan betapa besar luka hati Sheila. "Aku tahu ini sulit dipercaya, tapi orang-orang seperti Ferry hanya memikirkan dirinya sendiri. Ambisinya jauh lebih besar daripada cintanya untuk siapa pun, bahkan untuk anaknya sendiri." Sheila merasakan pelukan Galih semakin erat, seolah pria itu ingin mengambil semua rasa sakitnya. Mereka duduk dalam diam sejenak, mencoba mencari kekuatan satu sama lain di tengah badai yang sedang mereka hadapi. "Aku akan menghubungi pengacara kita," kata Galih akhirnya, memecah keheningan. "Kita harus bertindak cepat untuk melawan balik secara hukum. Tidak ada yang boleh mencemarkan nama baik kita seperti ini." Sheila mengangguk pelan, mencoba menguatkan dirinya sendiri. "Apa pun yang perlu kita lakukan, aku akan mendukungmu, Galih." Galih menatap Sheila dengan tatapan penuh cinta dan perlindungan. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian menghadapi ini, Sheila. Kita akan melaluinya bersama." Sheila tersenyum tipis, merasa sedikit lebih kuat dengan kata-kata Galih. Mereka saling berpandangan sejenak, menemukan kekuatan dalam tatapan satu sama lain. Sheila tahu bahwa selama mereka saling percaya dan saling mendukung, mereka mampu menghadapi apa pun yang datang. Sheila kemudian berdiri perlahan, melangkah menuju kamar mandi dengan langkah berat. Di dalam kamar mandi, air hangat dari shower mengalir membasahi tubuhnya, mencoba membersihkan rasa sakit dan kecewa yang menggelayuti pikirannya. Ia menangis dalam diam, membiarkan air mata bercampur dengan air yang mengalir deras. Selesai mandi, Sheila mengenakan pakaian formal, menatap wajahnya di cermin dengan serius. Matanya masih sembab, tetapi ia meneguhkan tekad untuk melawan balik. Ia tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk ayahnya, menghancurkan kebahagiaannya. Di dapur, Galih sudah menyiapkan sarapan sederhana. Melihat Sheila masuk, ia tersenyum lembut, mencoba menghiburnya. Mereka makan dalam diam, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sheila merasa sangat beruntung memiliki Galih yang selalu hadir di saat-saat sulit seperti ini. Setelah sarapan, mereka duduk di ruang tamu untuk menghubungi tim pengacara. Diskusi berlangsung cukup panjang, membahas langkah-langkah strategis yang akan diambil untuk menghadapi serangan Ferry secara hukum dan publik. Siang harinya, Sheila dan Galih menyusun pernyataan publik yang akan mereka sampaikan melalui konferensi pers. Mereka memutuskan untuk menghadapi situasi ini secara terbuka, menjelaskan hubungan mereka yang sah dan cinta yang tulus, bukan seperti yang digambarkan oleh media. Menjelang sore, mereka duduk bersama di sofa ruang tamu, merasakan kelelahan yang luar biasa setelah hari yang panjang. Galih menggenggam tangan Sheila erat, menatapnya dalam-dalam. "Kita akan melewati ini semua, Sheila," ucap Galih dengan penuh keyakinan. "Aku percaya padamu, pada kita." Sheila tersenyum lembut, merasakan ketenangan yang perlahan kembali mengisi hatinya. "Aku juga percaya pada kita, Galih. Bersama, kita pasti bisa menghadapi apa pun." Malam itu, Sheila tidur dalam pelukan hangat Galih, berharap esok hari akan membawa harapan baru, dan yakin bahwa selama mereka bersama, tidak ada badai yang terlalu besar untuk mereka hadapi. Malam itu, langit Jakarta terlihat gelap, meski hujan belum turun. Di luar jendela apartemen mereka, lampu-lampu kota menyala temaram, seakan ikut merasakan sunyi yang menggantung di udara. Sheila duduk di meja makan, sendirian, dengan secangkir teh yang sejak tadi hanya disentuh uapnya. Di depan cangkir itu, sebuah tablet menampilkan lagi-lagi pemberitaan tentang dirinya dan Galih—gosip, opini, dan komentar publik yang seolah tak ada habisnya. Galih, yang baru pulang dari kantor, masuk dengan langkah pelan. Ia tidak langsung menyapa. Pandangannya mencari-cari Sheila, dan saat menemukannya duduk diam tanpa suara, ia tahu, malam ini akan lebih berat dari biasanya. "Sudah makan?" tanyanya pelan sambil melepas jaket dan menggantungnya di belakang kursi. Sheila hanya menggeleng. Galih duduk di seberangnya. Ia tidak memaksa Sheila untuk bicara. Ia tahu, kadang diam jauh lebih jujur daripada kata-kata. Setelah beberapa menit dalam keheningan, Sheila akhirnya membuka suara, nyaris seperti bisikan. "Aku jadi merasa bersalah, Galih. Semua ini… semua yang kamu alami sekarang, semua tekanan ini, itu karena aku." Galih mengangkat wajah, menatap Sheila dengan tatapan yang lembut namun penuh keyakinan. "Kamu tidak harus merasa bersalah. Aku ikut dalam ini bukan karena terpaksa. Aku memilih ini. Aku memilih kamu." Sheila menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. "Tapi kamu tidak layak dipermalukan seperti ini di publik. Kamu terlalu baik untuk harus ikut terseret dalam semua masalahku dengan Ayah dan Doni." Galih menghela napas, meraih tangan Sheila di atas meja. Sentuhan itu hangat, menenangkan, seperti biasa. "Sheila, kamu bukan masalah. Dan ini bukan tentang layak atau tidak layak. Ini tentang siapa yang mau bertahan. Aku tahu dari awal bahwa mencintaimu berarti ikut menghadapi luka-lukamu, menghadapi kenyataanmu, menghadapi orang-orang yang pernah menyakitimu. Dan aku tetap di sini. Karena kamu juga bertahan untukku." Sheila terdiam. Air mata akhirnya jatuh perlahan di pipinya. Ia merasa terlindungi, tapi juga rapuh. Perasaan bersalahnya belum benar-benar hilang, tapi kata-kata Galih menenangkannya, memberi ruang untuk bernapas sedikit lebih lega. "Aku takut," gumamnya. "Takut kamu suatu hari lelah, dan kamu pergi." "Kalau aku ingin pergi, aku sudah pergi sejak lama, Sheila. Tapi aku masih di sini. Dan aku akan terus ada di sini selama kamu mau aku ada." Sheila mengangguk pelan. Malam itu, mereka hanya duduk bersama, saling menggenggam tangan. Tidak butuh banyak kata. Keheningan mereka penuh makna. Keesokan paginya, Sheila bangun lebih pagi dari biasanya. Ia menatap bayangan dirinya di cermin. Wajah yang mulai terlihat letih, mata yang sedikit bengkak. Tapi ada sesuatu yang berbeda pagi ini. Ada sedikit kekuatan yang kembali. Ia membuat dua gelas kopi dan membawanya ke ruang kerja kecil tempat Galih sedang membuka laptop. Pria itu tersenyum melihatnya. "Mau bantu kamu hari ini," ujar Sheila, menyerahkan kopi. Galih tertawa pelan. "Kamu bantu aku setiap hari, bahkan saat kamu diam." Mereka saling menatap sebentar, lalu tertawa bersama. Tawa itu ringan, canggung, tapi jujur. Seperti dua orang yang belajar berjalan lagi setelah hampir terjatuh. Siang harinya, Sheila kembali ke kantor. Ia memasuki ruangannya dengan langkah mantap meski tatapan para karyawan masih menyelidik. Beberapa berbisik, beberapa mencoba tersenyum basa-basi. Sheila membalas seperlunya. Ia duduk di mejanya, membuka email, dan mulai bekerja. Di sela aktivitasnya, sebuah pesan masuk dari Devi: "Lawan itu bukan gosip, tapi perasaan takut dalam diri sendiri. Kamu sudah lebih dari cukup, Sheil. Jangan pernah ragu lagi." Sheila menarik napas panjang. Ia membalas: "Terima kasih. Hari ini aku mau mulai lagi." Hari itu, ia memanggil rapat kecil dengan tim komunikasi perusahaan. Sheila memutuskan untuk mengambil langkah maju: konferensi pers. Bukan untuk membela diri, tapi untuk memperjelas posisi. Ia ingin menyampaikan ke publik bahwa ia dan Galih menjalani hubungan yang sah, tulus, dan penuh rasa saling percaya. Beberapa rekan kerja sempat ragu. "Apakah kita tidak sebaiknya menunggu hingga berita reda?" tanya salah satu staf PR. Sheila menggeleng. "Justru kalau kita diam, mereka akan terus bersuara. Sudah waktunya kita bersuara juga. Tapi kita lakukan ini dengan hormat, bukan dengan amarah." Galih mendukung penuh rencana itu. Ia bahkan menawarkan diri untuk ikut bicara jika Sheila mengizinkan. Namun Sheila menolak dengan halus. "Biar aku sendiri kali ini. Aku perlu menunjukkan bahwa aku bisa berdiri sendiri, bukan karena kamu, tapi karena aku memang layak." Galih tersenyum, bangga. "Itu sebabnya aku mencintaimu." Hari mulai gelap saat Sheila akhirnya keluar dari kantor. Galih menjemputnya, dan mereka berjalan kaki pelan di trotoar, menikmati angin malam yang hangat. Di perempatan lampu merah, Sheila berhenti dan menatap Galih. "Terima kasih untuk tetap ada," katanya. "Selalu," jawab Galih, sebelum mengecup kening Sheila dengan lembut. Malam itu, sebelum tidur, Sheila membuka jendela kamarnya dan menatap langit. Masih gelap, masih berat. Tapi kini, bintang mulai terlihat satu per satu. Dan itu cukup. Besok, ia akan bicara. Bukan untuk menjelaskan, tapi untuk menguatkan. Dan ia tahu, ia tidak sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD