Bab 21

1384 Words
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sheila melangkah masuk ke ruang rapat direksi dengan langkah mantap, berusaha menyembunyikan kecemasan yang bergejolak dalam hatinya. Ruangan tersebut telah terisi penuh oleh para anggota dewan, masing-masing memasang wajah serius, menatap Sheila dengan berbagai ekspresi, dari penasaran hingga penuh keraguan. Galih berjalan di samping Sheila, hadir sebagai dukungan terkuatnya. Ferry dan Doni sudah duduk dengan ekspresi percaya diri yang menjengkelkan, seolah yakin mereka akan menang hari ini. Sheila tahu bahwa mereka pasti telah menyiapkan segala macam bukti palsu untuk mendiskreditkannya. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri sebelum duduk di kursi yang telah disediakan. Pak Hendro, selaku anggota senior dewan, membuka rapat. “Kita semua tahu tujuan dari pertemuan ini. Beberapa pihak telah menyuarakan keprihatinan tentang kepemimpinan Sheila Rahadian, CEO kita saat ini. Oleh karena itu, hari ini kita akan mendengar semua bukti dan argumen yang ada sebelum mengambil keputusan.” Doni langsung berdiri dengan percaya diri, sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh anggota dewan. “Kami memiliki bukti kuat bahwa Sheila tidak kompeten dan telah mengambil keputusan yang merugikan perusahaan,” ucapnya dengan nada dramatis. “Saya punya bukti transaksi yang mencurigakan dan sejumlah keputusan yang telah mengakibatkan kerugian besar.” Ferry menambahkan dengan cepat, “Ini adalah masalah serius. Sebagai pemegang saham utama, saya tidak bisa membiarkan perusahaan ini hancur karena kepemimpinan yang buruk.” Sheila menggigit bibir bawahnya, menahan emosi yang bergejolak mendengar tuduhan-tuduhan palsu yang dilontarkan ayahnya sendiri. Ia menatap Galih, yang memberinya anggukan kecil untuk tetap tenang. Setelah Doni memaparkan semua bukti palsunya, Sheila berdiri dengan tenang. “Terima kasih atas presentasi Anda, Doni. Namun, ada beberapa hal yang perlu saya klarifikasi.” Sheila memandang ke seluruh ruangan dengan mantap, sebelum melanjutkan, “Semua bukti yang disampaikan Doni tadi adalah palsu dan dibuat-buat. Saya memiliki bukti-bukti yang menunjukkan sebaliknya.” Galih memberikan Sheila dokumen tebal yang telah mereka persiapkan bersama tim hukum sebelumnya. Sheila mulai membuka satu per satu halaman sambil menjelaskan dengan jelas dan terstruktur setiap poin yang dituduhkan kepadanya. “Transaksi mencurigakan yang disebutkan Doni sebenarnya adalah investasi strategis yang telah meningkatkan nilai perusahaan kita secara signifikan. Semua dokumen transaksi telah diperiksa secara independen, dan tidak ditemukan kejanggalan apa pun,” jelas Sheila dengan tenang. Para anggota dewan mulai terlihat ragu-ragu, beberapa mulai berbisik satu sama lain dengan ekspresi yang berubah. Doni terlihat panik dan Ferry mulai tampak marah. “Selain itu,” lanjut Sheila, “kami juga menemukan bukti bahwa Doni telah bekerja sama dengan pihak luar untuk menciptakan dokumen palsu ini.” Galih berdiri, memberikan tambahan bukti berupa rekaman percakapan antara Doni dan seorang eksekutif perusahaan lain yang jelas menunjukkan konspirasi mereka. Ruangan menjadi hening seketika setelah rekaman selesai diputar. Semua mata tertuju pada Doni yang wajahnya memerah karena malu dan marah. “Ini semua fitnah!” teriak Doni putus asa, mencoba mempertahankan dirinya. Namun, para anggota dewan sudah tidak lagi percaya pada ucapannya. Sheila menatap ayahnya dengan tatapan tegas, namun hatinya terasa sakit karena pengkhianatan ini. “Ayah, aku tidak tahu mengapa Ayah melakukan ini padaku. Tetapi aku harap Ayah sadar, tindakan ini telah melukai perusahaan kita sendiri.” Ferry menggeram marah, “Kamu pikir kamu bisa memimpin perusahaan ini tanpa aku? Kamu terlalu naif, Sheila!” Pak Hendro mengetuk meja untuk menghentikan keributan yang mulai terjadi. “Cukup! Saya pikir kita semua sudah jelas melihat fakta yang ada. Sheila telah membuktikan bahwa ia kompeten dan jujur dalam menjalankan tugasnya.” Setelah diskusi singkat, para anggota dewan sepakat untuk tetap mendukung Sheila. Ferry dan Doni tidak memiliki pilihan selain menerima kekalahan mereka dengan pahit. Saat rapat selesai, Sheila merasa lega sekaligus sedih. Ia tidak pernah membayangkan harus berhadapan dengan keluarganya sendiri dalam situasi seperti ini. Namun, saat Galih menggenggam tangannya erat dan tersenyum lembut, Sheila merasa bahwa ia mampu menghadapi semuanya selama Galih berada di sisinya. “Kamu berhasil,” bisik Galih dengan bangga. Sheila tersenyum tipis, “Kita berhasil, Galih. Ini kemenangan kita bersama.” Mereka meninggalkan ruang rapat dengan kepala tegak, siap menghadapi tantangan berikutnya dengan lebih kuat dan percaya diri. Setelah rapat dramatis yang berhasil mengukuhkan posisinya di perusahaan, Sheila merasa seakan beban berat yang selama ini menggelayut di pundaknya mulai terangkat sedikit demi sedikit. Namun, meski lega, perasaan campur aduk terus menghantuinya. Konflik dengan ayahnya, Ferry, meninggalkan luka mendalam di hatinya, sementara rasa syukur atas dukungan Galih membuatnya semakin dekat secara emosional dengan pria itu. Hari-hari berikutnya, Sheila dan Galih memutuskan untuk meluangkan waktu bersama, menjauh sejenak dari hiruk-pikuk dan tekanan bisnis yang telah menyita perhatian mereka selama ini. Mereka memilih untuk pergi ke sebuah resor tenang di pinggir pantai, jauh dari hiruk pikuk kota. Perjalanan mereka berlangsung tenang, dengan obrolan santai mengisi perjalanan mereka. Begitu sampai di resor, Sheila terpesona oleh pemandangan indah laut yang membentang di hadapannya. Ia merasakan hembusan angin pantai yang menyejukkan, membawa ketenangan yang telah lama hilang dari hidupnya. Galih meraih tangannya, tersenyum lembut. “Kita memang butuh ini. Sekadar istirahat sejenak dari segalanya.” Sheila mengangguk setuju. “Ya, aku sudah lupa kapan terakhir kali aku benar-benar merasa tenang seperti ini.” Mereka berjalan menyusuri pantai, menikmati suara debur ombak yang lembut, pasir yang terasa hangat di kaki mereka. Sheila merasakan kehangatan hati ketika Galih dengan spontan membantunya melepas sepatu, sesuatu yang sederhana namun menyentuh hatinya. “Aku ingin mengucapkan terima kasih,” ujar Sheila sambil menatap Galih dengan lembut. “Kamu selalu ada untukku, bahkan di saat-saat terberat sekalipun.” Galih berhenti berjalan, menatap Sheila dengan tatapan penuh arti. “Aku sudah bilang, masalahmu adalah masalahku juga. Aku di sini karena aku memilih untuk bersamamu, Sheila.” Sheila merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia tahu bahwa apa yang mereka rasakan satu sama lain kini lebih dari sekadar kewajiban atau pernikahan kontrak. Ada cinta yang mulai tumbuh, sesuatu yang nyata dan mendalam. Mereka menghabiskan hari dengan berbagai aktivitas santai, berenang di laut yang tenang, berjemur di pantai, dan berbincang tentang berbagai hal ringan yang selama ini tidak pernah mereka lakukan. Sheila merasa seakan menemukan sisi baru dari Galih, pria yang tidak hanya serius dan tegas dalam pekerjaannya tetapi juga memiliki sisi humor dan kelembutan yang selama ini tidak banyak ia perlihatkan kepada orang lain. Saat malam tiba, mereka duduk berdampingan di teras vila yang menghadap langsung ke laut. Suara ombak yang lembut menjadi musik latar yang sempurna untuk percakapan mereka yang lebih dalam. “Kamu tahu,” ujar Galih sambil menatap Sheila dalam cahaya bulan yang lembut, “Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan merasa seperti ini lagi. Merasakan sesuatu yang begitu kuat untuk seseorang.” Sheila tersenyum hangat, merasakan pipinya memerah. “Aku juga tidak pernah menyangka bahwa aku akan jatuh cinta seperti ini. Dengan cara yang begitu tak terduga, pada orang yang begitu tak terduga.” Galih tertawa ringan, meremas tangan Sheila lembut. “Tak terduga? Apakah aku terlihat begitu buruk di matamu dulu?” Sheila ikut tertawa, merasa bahagia mendengar suara tawa Galih yang begitu tulus. “Tidak, bukan buruk. Hanya saja, aku tidak menyangka bahwa di balik sikap dinginmu itu ada seseorang yang begitu penuh perhatian dan hangat.” “Dan aku tidak pernah menyangka bahwa di balik ketegaranmu, ada hati yang begitu lembut dan penuh kasih,” balas Galih sambil menatap Sheila dengan mata penuh cinta. Mereka terdiam sesaat, menikmati keheningan malam yang nyaman. Sheila menyandarkan kepalanya di bahu Galih, merasakan kedamaian yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman, masing-masing menikmati kehadiran satu sama lain tanpa perlu banyak kata. Sheila akhirnya mengangkat kepalanya, menatap Galih dengan sungguh-sungguh. “Galih, apa pun yang terjadi nanti, aku ingin kamu tahu bahwa aku benar-benar bahagia bersamamu. Aku tidak ingin kehilangan ini.” Galih meraih wajah Sheila dengan lembut, mendekatkan wajahnya ke wajah Sheila. “Kamu tidak akan pernah kehilangan aku, Sheila. Aku janji.” Mereka saling berpandangan sesaat sebelum akhirnya bibir mereka bertemu dalam ciuman yang lembut dan penuh makna. Sheila merasa seakan semua keraguan dan ketakutannya lenyap begitu saja, tergantikan oleh keyakinan kuat bahwa selama mereka bersama, tidak ada yang tidak bisa mereka atasi. Malam itu, Sheila merasa hubungan mereka memasuki babak baru yang jauh lebih dalam. Ia menyadari bahwa ia tidak hanya menemukan pasangan hidup tetapi juga belahan jiwa yang akan selalu bersamanya dalam suka maupun duka. Dan dengan perasaan tenang dan bahagia, Sheila yakin bahwa masa depan mereka akan lebih baik, selama mereka saling mencintai dan percaya satu sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD