Bab 16

1486 Words
Ketika air mata Sheila akhirnya mengering, Galih mengulurkan tangan dan menyerahkan tisu tambahan. Dengan hati-hati, ia menyeka hidungnya. Melihatnya begitu lembut dan rapuh membuat Galih ingin menariknya lebih dekat dan mematahkan hidung Dian—sekali lagi, dan kali ini permanen. Sheila memberinya senyum tipis. “Terima kasih.” Wajahnya tampak memar, hidungnya merah. Sisa riasan yang sempurna kini berubah menjadi noda air mata. Maskara hitam luntur di sekitar mata, dan jepitan kupu-kupu yang Galih hadiahkan kini tergantung lemas di rambut acak-acakan. Darahnya mendidih lagi. Kematian terlalu baik untuk Dian. Sheila awalnya tampak gugup tapi optimis tentang pesta. Setelah berbincang dengan saudara-saudara Galih, ia terlihat lebih santai. Dia seharusnya bersinar malam itu, berseri dan menikmati dirinya sendiri. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Galih tidak yakin apakah Sheila bahkan bisa kembali bekerja pada hari Senin. Pipinya pasti akan memar. Bibirnya pecah. Dan rasa malu... lebih sulit disembuhkan daripada luka fisik. Jika itu dirinya, dia bisa saja berbohong—mengatakan Dian memukulnya secara tidak sengaja saat sparring. Tapi Sheila tidak punya alasan mudah. Orang-orang akan melihat dan bertanya-tanya. Dan Galih tahu, meskipun Sheila bersikap seolah tidak peduli, ketegangan di rahang dan bahunya berkata lain. "Kurasa pestanya sudah berakhir," ucap Sheila pelan. "Kita akan mengadakan satu lagi," jawab Galih, nada bicaranya ringan. "Ya." "Dan aku akan pastikan Dian tidak pernah hadir lagi." Dia belum tahu bagaimana Dian bisa menyusup ke pesta itu, tapi dia akan mencari tahu. Dan tim keamanan yang bertanggung jawab? Mereka akan dituntut habis-habisan. “Terima kasih,” ucap Sheila lagi, senyumnya sedikit lebih lepas. “Bisakah kau membantuku berdiri? Kakiku mati rasa.” Galih menyesuaikan pegangannya dan membantu Sheila bangkit. Ia berjongkok, membuka tali sepatu hak tinggi, lalu melepaskannya dari kaki Sheila. “Lebih baik?” “Terima kasih banyak.” Galih merasa dirinya nyaris melayang. Sebuah suara di dalam kepala menyuruhnya memberi ruang. Tapi setiap naluri dalam dirinya menolak meninggalkannya sendiri. Ini adalah rumah mereka—seharusnya tempat paling aman baginya. Sheila mengambil baju tidur dari lemari dan masuk ke kamar mandi. Galih duduk di ujung tempat tidur, pandangannya kosong mengarah ke pintu. Dalam pikirannya, ia membayangkan berbagai cara kreatif untuk menyiksa Dian hingga pria itu tak akan pernah berjalan normal lagi. Tiba-tiba terdengar bunyi logam berdenting dan napas tertahan dari kamar mandi. "Kau baik-baik saja?" Galih segera bangkit. "Aku baik-baik saja!" suara Sheila terdengar panik tapi tidak kesakitan. "Aku hanya... kacau." Galih ingin masuk, tapi menahan diri. Ia tidak yakin apakah Sheila butuh kelembutan atau ruang. Jadi ia bercanda. "Kau harus berhati-hati saat berkencan dengan pria lain." Hening sejenak, lalu tawa kecil terdengar. “Apa yang terjadi pada Dian?” “Dia jatuh dari tangga. Lalu menabrak... beberapa gagang pintu.” “Wah, sayang sekali.” “Yah, hal buruk terjadi saat orang lupa pakai otak.” Tak lama, pintu terbuka. Sheila masih mengenakan gaun pesta. Rambutnya terurai, jepitannya sudah tak ada. “Eh, aku butuh bantuanmu. Aku nggak bisa menjangkau ritsleting. Punggungku terlalu sakit.” Ia membalikkan badan, menarik rambut ke satu sisi. Gaun putihnya terbuat dari bahan tipis. Saat Galih menarik ritsletingnya perlahan ke bawah, gaun itu meluncur, membuka punggungnya. Pandangan Galih menjadi kabur seketika. Memar keunguan menghiasi kulitnya. Garis-garis gelap, tak selaras dengan kulitnya yang biasanya mulus. Luka itu berbicara lebih keras dari semua jeritan semalam. Dian telah melemparkannya ke rak dengan cukup keras untuk meninggalkan bekas seperti itu. Galih mengatupkan rahangnya. Ini belum sebanding. Tapi keseimbangan akan dipulihkan. Lebih dari itu. Sheila masuk ke kamar mandi. Sementara itu, Galih mondar-mandir seperti binatang yang dikurung. Ponselnya bergetar. Pesan dari saudara-saudaranya masuk berurutan. –Harry: Semuanya baik-baik saja. Terkendali. –Ganjar: Kalau ada yang sadar kau menghilang, mereka diam saja. Mungkin mereka mengira kau sedang... ya, hal pengantin baru. Galih tersenyum tipis. –Galih: Terima kasih. –Harry: Bagaimana kondisi istrimu? –Galih: Lebih baik dari yang kupikirkan. Tapi aku masih merasa belum cukup. Galih tidak akan meminta Sheila difoto. Dia sudah cukup trauma. Namun, andai Dian mencoba... Galih tidak hanya akan menghancurkannya. Dia akan membuatnya menghilang. –Saya: Aku akan lakukan ini dengan caraku. Dia istriku. –Harry: Kupikir kau kesal dia memaksamu menikahinya. Galih terdiam. –Galih: Itu masalah lain. –Harry: Mengerti. Sheila keluar dari kamar mandi. Mengenakan kaus tidur longgar. Rambut basah. Bekas riasan hilang, meski matanya masih merah. Galih segera menyimpan ponselnya. "Ada yang kamu butuhkan?" tanyanya pelan. Sheila ragu sejenak. Lalu mengangguk. “Bisakah kau memelukku malam ini?” Galih tersenyum kecil. “Tentu saja. Aku cuma perlu ganti baju. Aku akan segera kembali.” Aroma bunga dan lavender menyelimuti kamar. Galih membuka mata, perlahan menoleh. Sheila masih tertidur, tubuhnya menempel padanya. Napasnya tenang. Ia tampak damai—akhirnya. Galih berbaring sebentar, mendengarkan napas itu. Napas seseorang yang, semalam, memercayakan seluruh rasa takut dan lukanya padanya. Lalu, ketika perutnya mulai keroncongan, ia turun ke dapur. Pak Dodi libur hari itu, jadi hanya mereka berdua. Ia membuat kopi, memanggang roti, dan mengambil selai. Ponselnya kembali bergetar. –Harry : Kamu lihat ini? Tautan ke artikel dari Lambe Turah. "Cinta yang Salah?" Foto: Galih dan Sheila. Lalu... Gempita. Apa-apaan ini? Artikel itu mengklaim Sheila mencuri Galih dari Gempita, bahwa Galih diam-diam mengundangnya ke pesta, dan Sheila memergoki mereka. Artikel itu menyebut mereka akan bercerai, dan Gempita sedang mempertimbangkan untuk menerima Galih kembali. Omong kosong. Tapi tidak ada siapa pun di pesta yang punya akses ke media. Hanya tersisa satu kemungkinan... Dian. “Seharusnya aku menghancurkan ponselnya semalam,” gumamnya. Pesan-pesan lain berdatangan dari saudara-saudaranya. Diskusi legal, gugatan pencemaran nama baik, bahkan taktik streisand effect. Tapi fokus Galih hanya satu: jika Sheila melihat artikel ini, dia akan runtuh. Bel pintu berbunyi. Jam menunjukkan 09:48 pagi. Galih memeriksa panel keamanan. Sopir ibunya. Ini akan menjadi pagi yang panjang. Hari Minggu itu, Galih berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan Sheila dari segala hal yang bisa menyakitinya lebih dalam. Ia memesan pizza dan makanan Cina, menyetel film untuk menemani waktu mereka, dan memohon agar Sheila tidak menyentuh ponselnya. Itu bukan karena tidak ada pesan masuk—melainkan karena dia ingin istrinya punya satu hari tanpa dunia luar. Di malam hari, dengan lembut, ia mengoleskan salep warisan neneknya ke punggung Sheila. Memar di tubuh wanita itu telah mekar seperti bunga jahat yang tumbuh dari tanah berbisa. Jika boleh memilih, Galih akan menendang Dian sampai pria itu memuntahkan darah setiap hari selama seminggu. Ketika malam turun, ia menggendong istrinya menuju ranjang. Pipinya yang bengkak mulai mengempis, tapi warna ungu masih membekas. Tangannya mengusap pipinya sendiri pelan, dan Galih membantu mengoleskan sedikit salep lagi di wajahnya. Namun bahkan dengan semua perhatian itu, dia tahu Sheila tidak akan bisa kembali bekerja seperti biasa keesokan harinya. Dia membenci kenyataan bahwa rutinitas istrinya harus berubah hanya karena Dian. Senin pagi, Galih bangun lebih awal, mengecek wajah Sheila—yang masih memar—dan meninggalkan ranjang perlahan. Setelah olahraga pagi dan mandi, ia berpakaian seperti biasa, mencoba mengikat dasi... dan gagal. Frustrasi dan cemas, dia membiarkannya tergantung di leher dan menuju dapur, berharap secangkir kopi bisa menyelamatkan pagi harinya. Namun yang menantinya di dapur membuat langkahnya terhenti seketika—Sheila dan Pak Dodi tengah berbicara. Dan Sheila... memakai gaun ungu tua lengkap dengan jaket. Dia bersiap untuk berangkat ke kantor. “Kau sebaiknya bekerja dari rumah hari ini,” kata Galih tegas. “Ada rapat desain yang tak bisa aku lewatkan,” jawabnya. Matanya menantang. Sudut dagunya menegang dengan keras kepala yang familiar. Dia menolak tunduk pada rasa sakit atau belas kasihan. “Kau CEO, Sheila. Delegasikan.” “Proyek ini terlalu penting.” Galih tahu tak ada yang bisa mencegahnya. Tapi dia juga tahu, Sheila tidak punya cukup sekutu di dalam perusahaan, dan dengan pengaruh Roderick serta Dian yang masih menggantung di udara, dia tidak akan membiarkannya menghadapi itu sendirian. "Baiklah," ucap Galih akhirnya. "Aku akan ikut rapat." Ia tahu, kehadirannya cukup untuk membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum mencoba menjatuhkan Sheila. Ketika dia menyarankan agar Sheila mengikatkan dasinya, sang istri tersenyum, Jarinya bergerak cekatan, dan Galih terpaku pada napas hangat yang mengipasi dagunya. Betapa intimnya saat itu—hanya mereka berdua, dalam jeda kepercayaan dan kepedulian. Di My Jewelry, mereka berhadapan dengan Haris—CFO yang juga mantan tunangan Sheila. Pria itu menghina Sheila secara terbuka, dengan insinuasi licik yang seharusnya tak pantas keluar dari mulut siapa pun, apalagi seorang eksekutif. Galih tak membuang waktu. “Apakah kau menyebutku tukang pukul istri?” Kehadiran Galih, dingin dan mengancam, membekukan darah Darren. Dan meski Sheila awalnya tak ingin menunjukkan kekuatan di depan rekan-rekannya, dia akhirnya sadar: Galih benar. My Jewelry adalah miliknya sekarang. Dia harus menjaganya. Setelah rapat desain dengan tim Galih Jewelry berjalan sukses, Sheila kembali menghadapi tekanan dari mitra kerja mereka di Jepang—Aichi Group. Ketidaktegasan mereka, bahasa yang berputar-putar, dan kini desakan tak masuk akal agar Gempita , mantan kekasih Galih, menjadi wajah kampanye, membuat dunia Sheila berguncang lagi. Dan ketika dia melihat foto Galih dan Gempita di hotel, dengan kepala bersandar terlalu dekat... dunia yang selama ini ia bangun dengan perlahan mulai runtuh
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD