Sheila nyaris tidak sadar saat pelayan membawanya menjauh dari dapur. Langkahnya limbung, , namun pelayan itu tetap menuntunnya dengan mantap, membisikkan kata-kata lembut yang tidak sempat diproses oleh benaknya.
Mungkin lebih baik Devi tak melihat apa yang terjadi. Sahabatnya itu pasti akan menghadapi Ferry secara langsung, dan itu bisa berakhir lebih buruk. Walau Devi orang terdekatnya, Sheila tak pernah ingin memperlihatkan sisi gelap keluarganya pada siapa pun. Ada keinginan mendalam untuk menyembunyikan semuanya—untuk selalu menjaga jarak antara masa lalunya dan masa depan yang berusaha ia bangun.
Apa yang akan dipikirkan saudara-saudara Galih? pikirnya.
Sheila pernah difitnah sebelumnya. Saat ia menghindari anjing agresif yang lepas dari tali kekangnya, media malah menulis bahwa ia menendang binatang itu. Pemilik anjing pun membiarkan cerita palsu itu berkembang tanpa membela kebenaran.
Dan sekarang? Publik bisa dengan mudah memutarbalikkan cerita—mengatakan bahwa ia yang memulai, bahwa Dian hanya membela diri.
Pelayan itu membawanya memasuki kamar. Darah telah berhenti menetes dari hidungnya, tapi bekasnya masih menempel di dagu dan bibir. Gaunnya ternoda—bercak karat darah menghiasi kain putih bersih. Gaun itu kini rusak. Di tengah keterkejutan, pikirannya malah memikirkan apakah noda itu bisa dibersihkan.
Ada apa denganku? pikirnya. Kenapa aku memikirkan gaun, saat wajahku masih perih dan dadaku berdebar ketakutan?
Ia membimbingnya duduk di bangku di ujung tempat tidur.
"Saya bawakan Es Nyonya. " ujarnya .
Sheilat idak menjawab. Ia hanya menatap lantai, pikirannya melayang-layang.
Pelayan itu keluar kamar. Saat itu, pintu kamar terbuka. Udara berubah. Ada energi baru yang masuk—berat, penuh muatan tak terlihat.
Sheilat idak perlu menoleh untuk tahu. Galih.
Ia menunduk, menatap titik kecil merah di lutut kanan gaunnya. Apakah mereka pikir aku pantas mendapatkannya?
Galih berlutut di hadapannya.
“Lihat aku,” katanya lembut.
Sheilamenatap tangannya. Masih bersih. Mungkin pertarungan itu tak berlangsung lama. Mungkin Galih berhenti setelah Amy menyeretnya pergi. Atau mungkin... tidak.
“Sheila. Biarkan aku melihat wajahmu.”
Dengan enggan, ia mengangkat dagunya, tapi matanya tetap menunduk. Ia merasa kotor—bukan karena darah, tapi karena rasa malu yang melilit tubuhnya seperti selimut musim dingin. Ia menggigil, membulatkan bahu. Pipinya berdenyut, bibirnya terasa perih.
Galih menggunakan waslap yang dibawa kan pelayan. Sentuhannya lembut. Hati-hati. Seperti seseorang yang membersihkan sesuatu yang rapuh—yang bisa hancur kapan saja. Sheila meliriknya sekilas dan melihat wajah Galih tanpa ekspresi, seperti topeng batu yang tak bisa dibaca.
Apakah ia menyesal menikahiku? pikirnya. Tentu saja dia menyesalinya. Aku memaksanya.
"Aku tahu kau marah," ucapnya lirih. "Tapi kau seharusnya tidak memukulnya."
Galih tidak menjawab. Ia hanya terus membersihkan darah yang mengering.
"Seorang pria berhak melindungi apa yang menjadi miliknya," lanjut Sheila.
Kalimat itu—tentang ‘kepemilikan’—membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Tapi ia tahu lebih baik daripada membiarkan dirinya terbawa emosi. Ini bukan saatnya salah paham. Ia masih terguncang, dan pikirannya belum stabil.
"Dia akan menuntut."
“Biarkan saja,” jawab Galih singkat.
“Dia butuh uang. Dia terlilit utang judi.”
“Bagus,” Galih mendengus. “Tapi dia tidak akan mendapat uangku. Aku akan menyeretnya ke semua pengadilan di negara bagian ini sampai ia tak punya apa-apa lagi.”
Sheila menyerah. Pria ini keras kepala. Ia tidak akan diatur. Ia akan melindunginya... dengan caranya sendiri.
“Kamu tidak perlu khawatir tentang Dian lagi,” ucap Galih. “Dia tidak akan pernah menyentuhmu lagi.”
Saat waslap menyentuh bibirnya, Sheila menarik napas dalam-dalam. Di mata Galih, amarah kembali memercik.
“Aku seharusnya mematahkan setiap tulang di tubuhnya.”
Air mata pertama jatuh. Lalu yang kedua. Tanpa bisa ditahan, air matanya mengalir deras, menetes begitu cepat hingga tak sempat ia kedipkan. Ia memalingkan wajah, menyembunyikan rasa sakit yang meluap dari dadanya.
Ia tidak mengerti kenapa menangis. Galih tidak kasar. Ia bahkan terlalu baik.
Sheilaterbiasa dengan orang-orang yang kejam. Ia tidak menangis ketika mereka melontarkan hinaan. Ia tidak menangis saat mereka memandangnya dengan jijik.
Tapi sekarang?
"Aku tidak marah padamu, Sheila," kata Galih lembut.
"Aku tahu," bisiknya. Napasnya tercekat.
Galih mengangkat tangannya, seolah ingin menyentuh wajahnya, tapi urung. “Lihat aku.”
Sheila tetap menunduk, menatap kuas make-up di meja rias.
"Sheila."
“Sebaiknya kau kembali ke bawah,” katanya, suaranya serak. “Para tamu... mereka pasti mencarimu.”
“Jangan khawatir. Kakak-kakakku bisa mengurus semuanya.”
“Kita tidak bisa sama-sama absen,” ia bersikeras.
Galih mengatupkan rahangnya. “Siapa yang peduli dengan pesta sialan itu? Yang penting adalah kau.”
Akhirnya, ia menoleh. Wajah Galih tampak terluka, seperti pria yang dituduh atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
“Maafkan aku,” bisiknya. Suaranya penuh luka. “Aku sudah merusak malam pertama kita sebagai pasangan.”
Galih menyeka air matanya dengan waslap. “Jangan pernah minta maaf atas apa yang terjadi.”
Sheila terisak. “Kenapa kamu tidak marah padaku?”
Galih menatapnya lama, matanya terluka.
“Marah padamu?” ulangnya, seolah tak percaya.
“Aku tahu Dian bisa membuat masalah. Seharusnya aku bisa mencegahnya. Aku seharusnya meminta petugas keamanan untuk mengusirnya saat aku tahu dia datang.”
Mulut Galih terbuka, namun tak ada kata keluar selama beberapa detik. Ia hanya menatapnya, seolah mendengar bahasa asing.
“Luce. Kau tidak melakukan kesalahan.”
“Tapi—”
“Dengarkan aku.” Ia menggenggam tangannya. “Kau tidak bersalah. Dian adalah orang jahat, bukan kau.”
Sheilamencoba membantah, tapi Galih melanjutkan.
“Jika dia orang baik, dia tidak akan merusak pesta. Dia tidak akan memojokkanmu di dapur. Dan dia tidak akan pernah memukulmu. Ini bukan soal kau. Ini soal dia—dan betapa kotornya hatinya.”
Sheilaterdiam. Suara Galih penuh keyakinan. Pembelaannya mutlak. Tanpa syarat.
Dan itu terlalu banyak. Terlalu dalam. Terlalu menyentuh luka yang selama ini ia tutupi.
Rasa sakit di dadanya membengkak, membuat napasnya tak menentu. Ia meletakkan tangan di dadanya, seolah mencoba menahan laju jantungnya yang tak beraturan.
Air mata mengalir tanpa henti. Ia tidak bisa menghentikannya.
Galih menarik tubuhnya ke pangkuannya, seperti seseorang melindungi sesuatu yang paling berharga di dunia.
Ia menggenggamnya erat. Tidak berkata apa-apa. Tidak bertanya. Hanya memeluk.Dengan penh kehangatan.
Sheila menangis hingga tubuhnya lelah. Hingga air matanya habis.
Dan bahkan saat itu, Galih masih tidak melepaskannya.