Bab 14

2058 Words
Sheila menatap tajam ke arah pantulan dirinya untuk kesekian kalinya. Jika orang tahu betapa terobsesinya ia memeriksa penampilannya, mungkin akan ada berita utama yang menyebut Sheila Rahadian seorang narsisis sejati. Namun, hal itu tak bisa ia khawatirkan sekarang. Hari ini adalah hari besar—resepsi pertama yang ia dan Galih adakan sebagai pasangan, dan Sheila ingin semuanya berjalan lancar. Ia terutama fokus untuk memberikan kesan yang baik pada saudara-saudara Galih, yang belum pernah ia temui. Meski Galih belum banyak bicara tentang mereka, Sheila tahu bahwa hubungan mereka sangat dekat. Galih sering makan malam bersama mereka, meski sibuk dengan pekerjaannya di Galih Jewelry, dan kerap bertukar pesan dengan mereka dengan wajah yang tampak bahagia. Rambut Sheila telah ditata bergelombang lembut, jatuh di bahu dan punggung. Jepit rambut kupu-kupu topas menjaga tatanannya tetap rapi. Ia mengenakan anting berlian berbentuk lampu gantung, kalung, dan gelang serasi. Gaun putih pucat dengan belahan samping setinggi paha mempertegas siluetnya, dengan hiasan renda yang menambah kesan pengantin anggun. Sheila memiringkan wajah ke kiri dan kanan, mempertimbangkan apakah ia sebaiknya menggunakan eyeshadow lebih gelap. Masih ada waktu satu jam sebelum katering dan kuartet musik tiba. Tapi ia teringat ucapan Bianca, bahwa riasan smoky justru bisa membuatnya tampak tak ramah. Dan itu bukanlah kesan yang ingin ia berikan malam ini. Ia ingin terlihat ramah, manis, mudah didekati. "Apa yang kamu khawatirkan?" tanya Galih, mendekat dari dapur. Sheila mengalihkan pandangan dari kaca dan menatapnya lewat bahu. "Aku hanya—" Tuksedo Italia yang dikenakan Galih jatuh sempurna di bahu lebarnya dan pinggang rampingnya. Gaya busana itu menyembunyikan kekuatan tubuhnya di balik penampilan yang beradab. Keyakinan diri terpancar dari sikapnya, seolah dunia mengikuti kehendaknya. Ia tak terlihat gugup sedikit pun. "Aku hanya ingin memberikan kesan yang baik pada saudara-saudaramu. Dan istri-istri mereka," tambah Sheila. Galih datang mencium buku jari tangan kirinya, tepat di atas cincin pertunangan mereka. "Kau baik-baik saja." "Apa kamu yakin?" "Saudara-saudaraku tidak sesulit itu." "Itu bukan yang k****a," sahut Sheila,mereka semua cerdas, teliti, dan sangat peduli padanya. Galih menggoda bahwa mereka seharusnya bertanya langsung padanya saja. Sheila masih gelisah, takut jika mereka menolak pernikahan mereka yang begitu mendadak. Ia menghela napas, mencoba menenangkan diri. Galih mencoba membesarkan hatinya, dan bahkan memberinya hadiah berupa pin rambut berbentuk kupu-kupu dari safir dan berlian. Hatinya menghangat, rasa percaya dirinya tumbuh. Saat malam tiba dan tamu-tamu berdatangan, Sheila menyadari bahwa semua persiapan berjalan lancar. Hotel Mulia menyajikan hidangan lezat, dan para tamu tampak menikmati suasana. Ia sempat merasa gugup saat keluarganya muncul tanpa undangan, tapi Bianca membantunya tetap tenang. Sheila berusaha tetap tenang saat berhadapan dengan mereka. Namun, ketika Dian kemudian mengikutinya ke dapur dan mulai menuntut uang dengan nada mengancam, ketegangan memuncak. Ucapan-ucapannya kasar, dan amarahnya meledak. Sheila mencoba mempertahankan kendali. Tapi ketika Dian mendekat dan menampar wajahnya, rasa sakit meledak dan ia terhuyung ke belakang, membentur rak. Dian berkata dengan dingin, "Aku akan memberimu pelajaran." Dan resepsi yang seharusnya menjadi awal bahagia bagi Sheila dan Galih, berubah menjadi titik awal dari sebuah badai. Pesta itu terasa datar—kosong, seperti kanvas tanpa warna—tanpa Sheila di sisinya. Setiap ucapan selamat yang datang bagai gema tanpa makna, hanya formalitas untuk pernikahan yang tak sepenuhnya lahir dari keinginan. Senyum yang ia berikan terasa palsu, dan anggukan pun dilakukan hanya karena sopan santun menuntutnya. Lalu Ferry muncul. "Apa kau melihat Sheila? Sepertinya aku tidak bisa menemukannya,” tanyanya sambil menyapu ruangan dengan pandangan gelisah. "Dia keluar sebentar," jawab Galih tenang, meski detak jantungnya mulai tak teratur. "Apa kau ingin aku menyampaikan sesuatu padanya saat dia kembali?" Ferry mengangkat tangannya sedikit, gelengan kepalanya disertai senyum tipis. “Tidak perlu. Sebenarnya, aku ingin bicara denganmu.” Alis Galih berkerut. Mereka bukanlah dua orang yang biasa berbagi percakapan pribadi. Ia hanya pernah bertemu pria itu sekali—di pemakaman istrinya. Saat itu, Sheila meninggalkan kesan mendalam. Ferry tidak. Ia begitu biasa, begitu datar, hingga Galih tak akan bisa mengingat satu pun ciri khasnya jika ada yang bertanya. “Aku ingin minta maaf atas sikap Dian tadi,” kata Ferry, matanya turun menatap cincin kawin di tangan Galih. “Dia sedikit kasar. Dia pikir... dia telah membuat kesalahan.” Galih menatapnya tajam. “Apa maksudmu? Menikah denganku adalah kesalahan?” Nada itu menusuk. Apakah Ferry tahu kebenaran di balik pernikahan mereka? “Bukan begitu,” jawabnya, masih dengan nada lembut yang membuat Galih ingin merobek senyum dari wajahnya. “Tapi aku rasa kau tidak benar-benar berniat menikahinya.” Galih diam sejenak, menimbang ucapannya. Ia tak pernah percaya pada orang yang tiba-tiba berdiri di pihaknya, apalagi tanpa alasan jelas. “Aku tidak membuat komitmen tanpa tahu apa yang kulakukan,” katanya dingin. “Tentu saja,” Ferry mengangguk cepat. “Tapi kau harus tahu, Dian melakukannya karena... frustrasi. Dia merasa kehilangan kendali atas Peery Diamonds. Menikah, menurutnya, bisa mengubah cara orang memandangnya. Memberinya validasi.” “Dan itu menjelaskan kenapa dia menyeretku ke dalam ini?” Galih menyela, suaranya mulai naik. “Dia bisa saja memilih siapa pun.” Ferry terdiam sejenak, lalu berkata, “Itu sebabnya aku datang. Aku bisa membantumu... keluar dari ini. Jika kau mau.” "Dia istriku," Galih mengucapkannya dengan ketegasan seorang pemilik tak tergoyahkan. “Ya... tapi kau mungkin tak ingin dia tetap di sisimu untuk waktu lama.” Senyuman itu kembali muncul di wajah Ferry—tenang, seperti seorang pria yang yakin ia mengendalikan permainan. Tapi bagi Galih, senyuman itu terasa seperti belati yang berusaha menyusup ke celah terkecil pertahanannya. “Mengapa kau menentang putrimu sendiri?” tanya Galih tajam. "Apakah karena aku pria dan dia perempuan? Karena Dian laki-laki dan kau pikir dia lebih pantas?" “Tidak.” Jawaban Ferry tenang, tapi matanya bersinar licik. “Aku hanya benci melihatnya bertindak terburu-buru. Menikah dengan pria yang salah... hanya karena tekanan emosional dari perusahaan.” Ia melanjutkan, seolah-olah ia seorang mentor bijak yang memberi nasihat. “Dia terlalu muda untuk ini semua. Akan lebih baik jika dia menyerahkan kendali perusahaan dan menikmati dividennya. Dia masih bisa hidup mewah, tanpa semua stres ini.” Galih mengatupkan rahangnya. Ia tahu betapa keras Sheila bekerja. Ia tahu semangatnya bukan soal uang—tapi tentang membuktikan bahwa ia bisa. “Dia sangat kompeten,” katanya. “Dan sering kali, yang menggerakkan kita bukan uang, tapi hasrat terhadap apa yang kita lakukan.” “Semua orang menginginkan uang,” kata Ferry sambil membuka tangannya lebar. “Tidak jika kau sudah memiliki lebih dari cukup.” “Oh?” Ferry tersenyum, tertarik. “Jadi kau tidak melakukannya demi uang?” “Uang hanya pemanis pada kue. Aku melakukan ini karena cinta pada Galih Jewelry, pada prosesnya, dan pada orang-orangnya. Dan kurasa Sheila mengelola Peery Diamonds karena alasan yang sama.” “Begitu.” Ferry mengangguk pelan. “Yah... aku senang dia menemukan suami yang sangat memahaminya.” Kata-kata itu terdengar manis, tapi naluri Galih berteriak: jangan percaya satu kata pun. “Aku senang kau menyetujuinya,” jawab Galih, datar dan dingin. Bukan berarti aku butuh persetujuanmu. Ia mengangguk, menyudahi percakapan. Ferry memahami isyarat itu dan beranjak pergi, tersenyum pada tamu lain seperti tak terjadi apa-apa. Tapi pada Galih, pria itu terlalu mengingatkan pada keluarga Comtoise—penuh manipulasi, penuh kepura-puraan. Itu sebabnya mereka tidak diundang ke pesta ini. Ia muak melihat orang-orang seperti Ferry merendahkan Sheila, menganggap ambisinya hanya bentuk lain dari keserakahan dan ego. Ayah macam apa dia, sebenarnya? pikir Galih. Namun, ada satu hal yang tak bisa disangkal—kesetiaan Ferry pada mendiang istrinya dikenal luas. Mungkin ia hanya buruk dalam mengekspresikan perasaan. Mungkin. Untuk saat ini, Galih memutuskan memberinya sedikit manfaat dari keraguan. Tapi pikirannya kembali pada Sheila. Ia belum kembali. Harusnya hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mengambil Tylenol. Dapur tidak sejauh itu. Wajah pucat Sheila kembali terlintas dalam pikirannya. Ia tampak tertekan sebelum meninggalkan ruangan, seolah-olah sudah menduga bahwa sesuatu buruk akan terjadi malam ini. Dan tiba-tiba, kecemasan itu menegang dalam tubuhnya. Sesuatu tidak beres. Galih melangkah cepat, melewati gelas-gelas anggur yang bergemerincing dan tawa-tawa tamu yang tidak tahu apa-apa. Dada­nya terasa sesak, pikirannya berputar tak menentu. Ada yang salah. Ia tahu. Ia bisa merasakannya di tulangnya. Begitu memasuki lorong menuju dapur, suara-suara mulai meninggi. Nada kasar. Teriakan. Ia berbelok ke sudut—dan dunia seperti berhenti sejenak. Dian berdiri tegap di ambang pintu dapur. Tubuh besar itu menghalangi jalan keluar, menjebak Sheila di dalam ruangan sempit itu. “Dasar setan!” teriak Dian. Dan sebelum Galih bisa bereaksi, tangan Dian melayang. Tamparan itu terdengar jelas. Seperti cambuk yang memecah udara pesta. Sheila terhuyung, wajahnya terpelintir ke samping oleh hantaman buku jari Dian. Ia menabrak rak di belakangnya dan jatuh ke lantai keras. Darah mengalir dari hidungnya—mengotori dagu, mulut, dan jatuh seperti tetesan merah menyala di atas gaun putih pengantinnya. Untuk sepersekian detik, dunia Galih berwarna merah. Lalu ia bergerak. Langkahnya cepat, presisi—seperti peluru yang tahu tepat ke mana ia harus menghantam. Dalam satu gerakan, Galih meraih pergelangan tangan Dian dari belakang, memelintirnya dengan sudut menyakitkan hingga terdengar bunyi retakan ringan. Pada saat yang sama, kakinya menghantam sisi tubuh Dian dengan tenaga penuh. Pria itu terlempar ke depan, tersungkur, lalu berguling dua kali sebelum mencoba bangkit. Galih sudah berdiri di antara dia dan Sheila. Matanya dingin. Nafasnya berat. “Aku akan memberimu pelajaran.” Suara Dian gemetar, mencoba menunjukkan kekuasaan, padahal tubuhnya goyah. Galih melangkah maju, menendang pria itu di rusuk—keras. Dian jatuh dengan tangan dan lututnya. Ia mencoba kembali berdiri, namun Galih menendangnya lagi, membuatnya terhempas ke lantai. Jeritan Dian seperti angin lalu. Galih hanya melihat Sheila. Di lantai. Masih diam. Matanya besar, terbuka lebar, tapi tubuhnya gemetar. Begitu trauma, sampai bahkan tidak bisa menangis. Bajingan. Galih menendang sisi tubuh Dian lagi—sebuah ayunan brutal, menghantam tulang rusuk yang sama. Dian mengerang dan berguling, memeluk sisi tubuhnya. Satu, dua tulang rusuk pasti patah. Galih menginjaknya lagi. Ia bisa merasakan sesuatu di bawah sepatu kulitnya bergeser. Dian menjerit. Galih tidak peduli. Saudara-saudaranya tiba -Harry, Ganjar, Guntur-tetapi tak satu pun bergerak. Mereka tahu. Ini bukan hanya soal kemarahan. Ini soal kehormatan. Tentang perlindungan. Tentang darah. “Kau tidak ingin membunuhnya,” kata Harry, akhirnya, dengan suara pelan tapi tegas, menepuk bahu Galih. Galih berdiri diam, napasnya tersengal. Matanya masih membara. “Ibu bisa menyingkirkannya,” gumam Ganjar santai. “Itu tidak membantu,” desah Galih. “Galih, cukup,” kata Grant. “Istrimu membutuhkanmu sekarang.” Istriku. Galih memutar tubuhnya. “Di mana dia?” “Pelayan membawanya ke atas,” jawab Harry. “Dia tidak perlu melihat ini.” “Tidak,” kata Galih, menenangkan napasnya. “Dia tidak perlu.” Ia berdiri lebih tegak, bahunya menegang, tapi wajahnya mencoba menguasai kembali ekspresi. Ia tidak bisa mendatangi Sheila dengan amarah meledak-ledak, tidak setelah apa yang baru saja dialaminya. Lalu ia menatap Dian yang tergeletak seperti bangkai anjing. Berdarah, terengah, matanya setengah terbuka. Namun sebagian dari penghinaan di mata Galih bukan hanya untuk Dian—melainkan untuk dirinya sendiri. Ia seharusnya ada di sana lebih awal. Ia seharusnya melindunginya lebih cepat. Apakah Ferry tahu ini akan terjadi? Apakah itu sebabnya dia menahannya dengan percakapan tak berarti? Kalau ya, maka Ferry akan segera menyusul Dian di rumah sakit. “Jauhi istriku, kalau kau masih ingin hidup.” Dian mengerang, mencoba bangkit dengan satu lutut. “Dia... adikku…” “Dia istriku.” Galih mendekat, suaranya seperti baja. “Tak ada satu pun orang yang menyentuh milikku.” Dian mendongak, bibirnya bergetar. “Persetan denganmu...” Galih mengepalkan tangan. Saudara-saudaranya bersiap, tapi tidak menahannya. Hanya Nicholas, sekali lagi, yang menyentuh lengannya. “Dia tidak pantas mendapat lebih banyak waktu darimu. Fokuslah ke Sheila.” Galih mengalihkan pandangan. Kakinya mulai melangkah menuju tangga. Tapi sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, ia menoleh sekali lagi. Dian masih di sana, tubuhnya remuk, matanya menatap dengan kebencian dan ketakutan. Galih turun mendekat, membungkuk sedikit. Suaranya tenang, tapi tajam seperti sembilu. “Lain kali kau bertemu istriku, kau tidak akan berani menatap matanya. Kau akan menunduk... dan kau akan meminta maaf.” Dian bergetar. “Ke-kenapa...?” Galih menatapnya lurus-lurus. “Karena kalau tidak, kau akan menghabiskan sisa hidupmu... diberi makan lewat sedotan.” Ia berdiri tegak. Punggungnya lurus. Matanya tajam. Lalu, tanpa menoleh lagi, ia berbalik dan menaiki tangga. Sheila menunggunya. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia merasa benar-benar perlu untuk ada di sisinya—bukan sebagai suami karena perjanjian, tapi sebagai satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasa aman. Dan Tuhan menjadi saksi... dia tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD