Bab 13

1000 Words
Sheila benar-benar kelelahan pada hari Kamis. Pengacara dari Aichi Group mengirim banyak catatan dan pertanyaan, dan pengacara dari pihak Sheila telah menanggapinya. Namun, mereka juga meminta Sheila untuk meninjau beberapa poin utama guna memastikan persetujuannya atas perubahan yang diusulkan. Sheila tahu Ia menyukai pekerjaan ini, namun ternyata ada beberapa hal yang Ia lupakan. Termasuk kebahagiaannya sendiri. Ia belajar lebih banyak tentang industri ritel mewah Jepang dan adat pernikahan daripada yang pernah ia bayangkan. Hal tersebut menarik, namun sangat melelahkan karena semua pihak terlibat dalam perdebatan tentang setiap detail kecil. Yang lebih menyulitkan adalah respon yang sangat lambat dari mitra Jepang. Etos kerja mereka yang berbeda membuat banyak dispute, walaupun tidak menyulitkan dan merubah timeline. Kontrak telah dikirim lebih dari delapan minggu yang lalu dan baru kembali kemarin. Hal ini membuat Sheila merasa bahwa proyek tersebut bukan prioritas bagi mereka, ada yang lebih penting. Padahal hal itu bertentangan dengan pernyataan Wakil Ketua Erzya saat kunjungan Sheila ke kantor pusat Aichi Group di Tokyo. Saat itu, Erzya menyatakan ketertarikannya terhadap desain mewah eksklusif dari Galih yang akan ditampilkan di department store mereka. Mereka ingin sesuatu yang baru dan unik sebagai penawaran khusus bagi klien kelas atas mereka—terutama pelanggan program loyalitas yang harus membelanjakan minimal satu juta dolar per tahun agar tetap memenuhi syarat. Namun, semuanya tetap berjalan lambat… dan menguras energinya. Biasanya Sheila baru pulang tengah malam, tapi malam itu ia memilih meninggalkan kantor lebih awal agar bisa sampai rumah sebelum pukul sepuluh. Bukan berarti ia bisa langsung tidur, karena masih ada lima dokumen dan laporan yang harus ditinjau. Saat tiba di rumah, dapur tampak kosong. Sheila memang sudah memberi tahu Pak Dody bahwa ia akan mengambil makan malam dari kantor. Galih mungkin sedang melakukan apa pun yang disukainya malam itu. Sheila sendiri tak tahu pasti apa yang dilakukan Galih setelah bekerja karena mereka jarang menghabiskan waktu bersama akhir-akhir ini. Perasaan bersalah menyelimutinya—ia telah berkata ingin memanfaatkan situasi mereka sebaik mungkin, namun merasa dirinya telah menjadi istri yang lalai. Kalau saja ia tahu sejak awal bahwa Galih akan menjadi suaminya dan bukan Preston, mungkin ia akan mencantumkan keterlibatan yang lebih besar dari Galih Jewelry dalam kontrak kolaborasi dengan Aichi Group. Namun karena Preston kurang pengalaman dan kemampuan, Sheila-lah yang akhirnya bertanggung jawab penuh atas urusan tersebut. Baginya, tidak ada yang salah dengan proyek ini—justru ini adalah momen untuk membuktikan kemampuannya di hadapan dewan. Setelah kesepakatan dengan Aichi Group selesai, ia akan punya waktu untuk bernapas. Mungkin ia dan Galih bisa menemukan hobi baru bersama. Bukan hanya tenis. Mungkin sesuatu yang disukai Galih juga. Tapi… mungkin tidak. Si Penguntit itu telah kembali. Begitu pula teman-temannya yang melanggar privasi. Sejauh ini, belum ada berita besar yang memalukan di media, namun hanya karena Sheila belum melakukan apa pun selain bekerja. Ia berharap gangguan itu tidak berimbas pada Galih. Ia tidak paham mengapa mereka begitu terobsesi padanya. Warisannya memang membuatnya dikenal, tetapi ada banyak tokoh yang jauh lebih terkenal dan menarik di Los Angeles. Di kamar tidur, Sheila melepas sepatunya. Sepatu hak tingginya memang nyaman, tapi tetap tak sebanding dengan nikmatnya bertelanjang kaki. Ia mengganti pakaiannya dan menghela napas lega saat bra-nya dilepas. Rasa nyaman segera menyelimutinya. Perhiasan pun ikut dilepas—kecuali cincin kawin. Lemari island di tengah ruang pakaiannya memiliki enam kompartemen besar khusus untuk perhiasan dan aksesori. Di antara koleksinya, terlihat satu jam tangan milik Galih. Artinya, Galih sudah pulang dan berganti pakaian. Sheila menyadari bahwa Galih mulai meninggalkan beberapa barangnya di lemarinya, seolah menunjukkan bahwa ia kini lebih sering tinggal bersamanya. Sheila mengambil pakaian tidur dari lemari—Di kamar mandi, ia menghapus riasannya. Di balik perona dan maskara, kelelahan di wajahnya terlihat jelas. Gaun tidur itu memang seksi, tetapi wanita yang memakainya terlihat sangat lelah… dan lapar. Sheila menyadari ia belum makan apa pun sejak siang. Bianca yang biasanya mengajaknya makan malam, kali ini harus pergi lebih awal menjemput bibinya di bandara. Karena tak ingin mengganggu Pak Dody, Sheila memutuskan untuk turun sendiri dan mengambil semangkuk sereal. Namun, dapur tak lagi kosong. Aroma kopi menyambutnya. Di sana, Galih berdiri di depan mesin espresso. Ia hanya mengenakan kaus putih dan celana dalam, dengan rambut sedikit acak-acakan dan kacamata berbingkai kawat yang membuatnya terlihat seperti profesor keren. Tubuh Sheila bereaksi spontan. Lelah… tapi tidak mati rasa. Mata Galih menatapnya—lalu turun ke dadanya. Tatapannya kemudian kembali ke wajah Sheila, namun kilatan dalam matanya cukup jelas. Ia berpikir Sheila mengenakan gaun itu untuk menggoda. Sheila berdeham, lalu meletakkan tas kulit berisi dokumen dan laptop di atas meja. Alis Galih berkerut. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sheila, lalu mengubah nada, “Maksudku… kukira kau sedang menonton TV atau semacamnya.” “Ada beberapa hal yang harus kulihat. Kupikir kau masih bekerja lembur,” jawab Galih. Sheila menjelaskan bahwa ia memang masih harus menyelesaikan beberapa hal, tapi memutuskan untuk pulang lebih awal. Ia lalu mengambil sekotak sereal dan meminta Galih mengambilkan air botol, yang segera dituruti. Mereka tidak saling bersentuhan, namun keberadaan Galih begitu terasa. Ia seperti singa yang bermalas-malasan sambil memperhatikan sekitarnya. Sheila duduk dan mulai makan dengan cepat. Galih mengambil bangku di sebelahnya dan bertanya apakah ia belum makan malam. Setelah tahu bahwa Sheila tak punya waktu untuk makan, ia menawarkan makanan yang lebih mengenyangkan—meski sama-sama tidak bisa memasak. Obrolan mereka mengalir santai, hingga pembicaraan beralih ke pekerjaan dan dedikasi Sheila terhadap Diamonds. Sheila mengaku bahwa di masa muda, ia tidak begitu tertarik pada perusahaan keluarga itu karena kakeknya selalu menginginkan cucu laki-laki. Galih menanggapi dengan kalimat penuh simpati dan rasa hormat, membuat Sheila merasa dipahami—dan akhirnya bercerita tentang perjalanannya hingga menjadi pemimpin perusahaan, termasuk pengalaman masa kecilnya di Paris. Ketika ia mengungkapkan bahwa The Diamonds Palace kini adalah miliknya satu-satunya, Galih hanya menatap tanpa komentar. Tapi akhirnya ia berkata, “Menurutku itu hebat.” Senyum kecil mengembang di bibir Sheila. Ia merasa dihargai. Sebagian dari rasa pahit yang menghantuinya perlahan mencair. “Maukah kamu melihat beberapa rencana peluncuran Galih ?” tanya Sheila. “Aku akan senang,” jawab Galih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD