“Dokter Althair.” Althair yang baru saja melangkah keluar dari koridor ruang operasi spontan menghentikan langkah. Seorang staf administrasi tampak berlari kecil menghampirinya sembari membawa papan klip. “Dok, formulir bantuan dana talangan pasien yang kemarin perlu tanda tangan tambahan dari Dokter,” ucap staf itu agak terengah. “Taruh saja di meja kerja saya,” jawab Althair singkat. Setelah mengangguk sekilas, ia melanjutkan langkah kakinya yang berat. Hari itu berjalan sangat melelahkan. Dua prosedur operasi besar, satu rapat komite medis yang alot, ditambah belasan pasien rawat inap yang harus diperiksa satu per satu. Semua rutinitas itu belum termasuk beban menghadapi koas-koas stase bedah saraf yang jumlah pertanyaannya bertambah banyak setiap minggu. Khususnya satu koas, si Koa

