“Dokter, tolong pegang ini.” “Tidak.” “Sebentar saja, Dok. Tolong.” “Tidak.” “Dokter ... masa takut sama tas belanja?” Althair menatap datar dua kantong belanja berukuran besar yang disodorkan tepat di depan dadanya oleh Zayna. Ia menghela napas berat. “Pertanyaannya bukan karena saya takut, Koas Zayna.” “Terus?” “Kenapa harus saya yang membawa barang-barang itu?” “Ya karena saya sudah membawa tiga kantong yang lain di tangan kiri,” sahut Zayna santai sembari mengangkat tiga kantong plastik tebal yang tampak penuh dan berat untuk membuktikannya. Althair refleks memijat pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut. Jarum jam baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Hari ini ia belum menyelesaikan jadwal visite ke bangsal rawat inap, belum sempat menyentuh kopi paginya, dan belum sempat m

