“Sejak kapan kamu menjadi kuli angkut, Althair?” Suara bariton Baskara Dewantara menggantung tebal di lobi utama. Kalimat itu diucapkan tanpa nada keras atau amarah, namun intimidasi sedingin es di dalamnya sukses membekukan atmosfer seketika. Althair berdiri kaku. Jari-jemarinya mencengkeram pegangan plastik dua kantong belanjaan besar milik Zayna hingga memutih. Di sebelahnya, Zayna hanya mengerjap dua kali, berusaha mencerna situasi ganjil tersebut. Baskara menurunkan pandangan, meneliti kantong belanjaan itu sekilas sebelum mengunci wajah Zayna. “Dokter muda?” Zayna spontan membungkuk sopan. “Iya, benar, Pak.” “Bagus. Jangan terlalu merepotkan dokter senior,” ucap Baskara datar namun penuh penekanan. “Siap, Pak,” jawab Zayna lugas. Baskara mengangguk tipis. Tanpa sepatah kata la

