BAB 22

1653 Words

“Kenapa lagi dia?” Bisikan pelan itu menyelinap dari barisan belakang ruang diskusi yang remang. Althair mendengarnya dengan jelas, namun memilih menatap lurus ke layar proyektor, berpura-pura tuli. Ia tahu persis siapa objek tunggal yang sedang digunjingkan seisi ruangan sejak pagi. Zayna. Lagi-lagi perempuan itu. Pagi itu, Departemen Bedah Saraf mengadakan briefing rutin pembagian kasus baru. Ada tiga pasien dengan riwayat klinis menarik untuk stase koas kali ini. Salah satunya adalah kasus aneurisma intrakranial—anomali pembuluh darah otak langka yang menjadi impian setiap mahasiswa kedokteran untuk dipelajari langsung. Althair menurunkan pandangan ke daftar nama koas, lalu mengetukkan ujung bolpoinnya. “Untuk kasus nomor tiga, pasien dengan aneurisma, akan dipegang oleh Zayna.” Ga

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD