Pintu otomatis ruang pembedahan utama berdesis pelan, menutup rapat di belakang Zayna. Sekejap mata, keriuhan dan gemuruh suara dari lorong luar langsung lenyap tak berbekas. Tidak ada lagi bunyi langkah kaki panik para staf, tidak ada pula gema perdebatan para dokter yang berseliweran di koridor. Dinding kedap suara laboratorium operasi ini seolah memisahkan dua dunia yang bertolak belakang secara drastis. Yang tersisa di dalam ruangan steril berpendingin udara itu hanyalah dengung halus mesin ventilator, bunyi ritmis monitor tanda vital, serta pergerakan terukur dari orang-orang yang sudah mengambil posisi siaga masing-masing. Zayna menarik napas panjang dan dalam di balik masker medis tiga lapis yang menutupi separuh wajahnya. Ia menundukkan kepala sejenak, menguatkan batinnya y

