BAB 41

1718 Words

Album foto fisik berukuran besar itu masih terbuka lebar di atas meja kayu. Sepasang tangan Harsa mendadak membeku di atas permukaan halaman terakhir. Matanya sama sekali tidak berkedip, terpaku pada satu titik visual yang baru saja meruntuhkan seluruh logika berpikirnya selama ini. Di dalam foto usang itu, seorang remaja laki-laki berdiri dengan sikap tegak dan formal tepat di samping sosok Baskara Dewantara. Wajah anak itu memang masih tampak jauh lebih muda, dengan potongan rambut yang sedikit lebih panjang dari gaya masanya sekarang. Namun, sorot mata yang tajam, dingin, dan kaku itu ... bagi Harsa, mustahil untuk salah dikenali. “Itu ...” Suara Harsa terdengar tercekat di tenggorokan, bahkan nyaris menyerupai bisikan lirih yang bergetar. “Althair ...” Ia sekali lagi mendekatkan waj

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD