Ruang kerja Direktur Utama itu kembali diselimuti kesunyian yang pekat. Harsa masih berdiri mematung di tempatnya, mencoba mencerna kebenaran yang baru saja menghantam seluruh logikanya. Sementara itu, Baskara Dewantara berjalan perlahan, memutari meja kerja kayunya yang megah dengan langkah tenang. Sama sekali tidak ada gurat kepanikan di wajah pria paruh baya itu. Tidak ada pula usaha untuk menyangkal atau menyembunyikan fakta. Sikapnya begitu santai, seolah rahasia besar yang baru saja terbongkar ini memang sudah digariskan takdir untuk diketahui hari ini. “Jadi ...” Suara Harsa akhirnya terdengar, sedikit serak memecah keheningan. “Dokter Althair benar-benar putra kandung Bapak?” Baskara mengangguk singkat tanpa ragu. “Iya.” “Dan dia ... adalah pewaris tunggal dari Dewantara Medika

