Pagi itu datang tanpa membawa kelegaan apa pun.
Cahaya matahari menembus jeruji kecil di dinding sel, jatuh tepat di wajahku yang belum sepenuhnya terjaga.
Mataku perih, kepalaku berat. Tubuh ini terasa lengket oleh keringat dan lelah yang tak pernah benar-benar pergi.
Malam tadi aku hampir tak tidur. Bukan karena suara, tapi karena pikiranku sendiri.
Aku duduk di ranjang bawah, memeluk lutut, menatap lantai kusam yang mulai kuhafal setiap retaknya.
Bau apek bercampur sabun murahan masih menggantung di udara. Di tempat ini, waktu seperti berjalan lambat, tapi rasa takut justru berlari tanpa henti.
"Selira."
Aku menoleh saat suara sipir memanggil dari balik jeruji.
"Siap-siap. Ada yang mau ketemu."
Jantungku langsung berdebar. Kata-kata itu seharusnya biasa saja, tapi entah kenapa dadaku terasa mendadak sesak.
"Siapa?" tanyaku pelan.
Sipir itu menatapku sebentar, lalu berkata singkat, "Pengacaramu."
Langkah kakiku terasa berat saat berjalan menyusuri lorong sempit menuju ruang kunjungan. Ada perasaan aneh yang menggelitik di d**a.
Campuran cemas, takut, dan... firasat yang tak bisa kujelaskan.
Begitu pintu dibuka, aku langsung berhenti melangkah.
Dia.
Raka.
Duduk di kursi besi itu, rapi seperti biasa, wajahnya tenang tetapi tampak lebih kurus dari terakhir kali kulihat. Jasnya tampak mahal, kontras dengan ruangan kumuh yang memisahkan kami.
Untuk sesaat, aku lupa bernapas.
Dia menoleh. Tatapan kami bertemu.
Dan luka yang kupikir sudah mulai mengering, kembali terbuka.
"Kamu..." Suaraku nyaris tak keluar. "Kenapa kamu datang lagi?"
Raka berdiri perlahan. "Selira..."
Nada suaranya masih sama. Tenang. Dalam. Membuat d**a ini terasa semakin sesak.
"Aku sudah bilang," kataku cepat, sebelum ia sempat bicara lebih jauh. "Aku gak butuh bantuan. Terutama dari kamu."
Raka menghela napas. "Aku tau kamu marah."
"Aku bukan marah," potongku, suara bergetar. "Aku lelah. Dan aku gak butuh kamu muncul lagi seolah-olah semuanya baik-baik saja."
Raka mendekat satu langkah. Aku refleks mundur.
"Jangan," kataku tegas. "Jangan dekati aku."
Raka berhenti. Wajahnya mengeras, tapi matanya... penuh sesuatu yang tak bisa kusebutkan.
"Aku datang bukan untuk menyakiti kamu, Selira."
"Lalu untuk apa?" tanyaku, getir. "Untuk menghilangkan rasa bersalahmu? Untuk merasa jadi pahlawan setelah membiarkan aku jatuh sendirian?"
Raka terdiam.
"Aku salah," katanya lirih. "Aku seharusnya berdiri di sampingmu waktu itu."
"Ya," balasku dingin. "Tapi kamu gak melakukannya."
Kami terdiam cukup lama. Suara kipas tua di langit-langit berdecit pelan. Dari luar, terdengar suara teriakan dan langkah sepatu para sipir.
"Aku ke sini bukan untuk mengulang masa lalu," katanya akhirnya. "Aku ke sini karena kamu butuh pengacara."
Aku menatapnya tajam. "Aku gak minta."
"Aku tau, tapi aku tetap datang."
"Kenapa?" tanyaku lirih, hampir putus asa. "Kenapa kamu selalu muncul saat semuanya sudah terlambat?"
Raka menatapku lama, seolah menimbang setiap kata. "Karena kali ini aku gak mau lari."
Hatiku bergetar.
"Kamu pikir dengan datang ke sini semuanya akan selesai?"
Suaraku meninggi tanpa sadar.
"Aku dituduh bandar narkoba! Aku dipermalukan, diperlakukan seperti sampah. Apa kamu pikir satu tanda tanganmu bisa menghapus semua itu?"
Raka menggeleng perlahan. "Gak. Tapi aku bisa berjuang agar kebenaran terungkap."
"Aku gak butuh belas kasihanmu."
"Ini bukan belas kasihan."
"Lalu apa?" tanyaku tajam.
Raka menarik napas panjang. "Ini tanggung jawab."
Kata itu menghantamku keras.
"Terlambat," bisikku. "Kamu baru ingat tanggung jawab saat aku sudah hancur."
Raka menatapku dalam-dalam. "Aku tau, aku gak bisa mengubah masa lalu. Tapi izinkan aku memperbaiki yang sekarang."
Aku memalingkan wajah. Dadaku terasa sesak, panas, seperti ada sesuatu yang ingin pecah dari dalam.
"Aku gak yakin bisa mempercayaimu lagi," kataku jujur.
"Aku gak minta kamu percaya sekarang." Suaranya lebih pelan. "Aku hanya minta satu kesempatan."
Aku terdiam lama. Di kepalaku, bayangan Arsa muncul. Wajah kecilnya, tangan yang dulu menggenggam bajuku sambil menangis.
Demi dia, aku butuh seseorang yang kuat, tapi apakah orang itu harus Raka?
Aku duduk di kursi besi itu dengan kedua tangan saling menggenggam, berusaha menahan gemetar yang masih belum sepenuhnya pergi.
Raka duduk di seberangku. Tubuhnya sedikit condong ke depan. Sikapnya tenang.
Terlalu tenang, seolah takut satu gerakan salah bisa membuatku kembali menutup diri.
Kami terdiam cukup lama.
"Oke," jawabku setuju. Lalu aku melihat senyum tipis di bibirnya.
"Maaf... tapi aku mau dengar dari kamu langsung," katanya akhirnya.
Nada suara Raka terdengar rendah dan hati-hati. "Tanpa tekanan. Tanpa tuduhan."
Aku menarik napas dalam-dalam. Entah kenapa, kali ini aku tidak langsung menolak. Mungkin karena lelah. Mungkin karena terlalu lama memendam semuanya sendirian.
"Aku gak tahu harus mulai dari mana," ujarku pelan.
"Dari mana saja," jawabnya lembut. "Aku dengar."
Aku menunduk, menatap jemariku sendiri. "Hari itu... kelihatannya biasa. Nggak ada yang aneh. Aku di rumah seharian. Capek, berantakan, tapi biasa saja."
Raka mengangguk, mempersilakanku lanjut.
"Ada orang datang," kataku pelan. "Laki-laki. Dia bilang cuma mau numpang ke kamar mandi. Kontrakanku di pinggir jalan. Orang sering berhenti."
Raka menegang sedikit, tapi tak menyela.
"Aku sempat ragu," lanjutku. "Tapi... aku lagi nggak fokus. Aku pikir, dia cuma sebentar. Jadi aku izinkan."
Aku menarik napas panjang, mengingat-ingat perasaan saat itu. "Dia kelihatannya biasa. Sopan. Nggak lama di dalam. Setelah itu langsung pergi."
Aku mengangkat wajah, menatap Raka. "Dan aku benar-benar nggak kepikiran apa-apa setelahnya. Aku bahkan lupa wajahnya."
Raka menyandarkan punggung ke kursi. "Lalu?"
"Beberapa hari kemudian... polisi datang." Suaraku bergetar. "Mereka bilang ada laporan yang mengatakan bahwa barang terlarang di rumahku."
Aku tertawa kecil, pahit. "Di laci itu."
Aku manarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosi.
"Lucu, ya? Tempat yang bahkan jarang kusentuh, tapi isinya bisa menghancurkan hidupku."
Raka menunduk, rahangnya mengeras. "Kamu yakin itu bukan milikmu?"
Aku menatapnya lurus. "Aku bersumpah demi apa pun. Aku nggak pernah menyentuh barang seperti itu."
Hening sejenak.
"Aku cuma... heran," lanjutku pelan. "Kenapa di hari itu? Kenapa orang itu datang? Kenapa semuanya terasa... terlalu kebetulan."
Raka menghela napas panjang. "Kamu mencurigai orang itu?"
Aku mengangguk pelan. "Aku nggak punya bukti. Tapi sejak di sel... aku terus kepikiran. Aku merasa... dijebak."
Raka terdiam lama. Matanya tak lepas dari wajahku, seolah mencoba membaca sesuatu yang tersembunyi.
"Aku akan cari tau," katanya akhirnya, suaranya lebih tegas. "Siapa pun dia, aku akan temukan."
Aku menatapnya lama. "Kenapa kamu mau sejauh ini?"
Raka terdiam. Lalu suaranya melembut. "Karena aku menyesal. Dan karena... aku nggak bisa tinggal diam lihat kamu hancur untuk sesuatu yang bukan salahmu."
Aku menarik napas panjang. Ada bagian dalam diriku yang ingin percaya. Tapi juga ada bagian lain yang masih takut.
"Raka..." ucapku pelan. "Kalau kamu gagal menemukannya... aku yang menanggung semuanya."
Ia menatapku mantap. "Aku gak akan berhenti."
Aku mengangguk pelan, meski hatiku masih penuh ragu.
"Aku akan pikirkan," kataku akhirnya, lelah.
Raka mengangguk pelan. "Itu sudah cukup."
Petugas mengetuk pintu, memberi tanda waktu kunjungan habis. Raka melangkah mundur, tapi sebelum pergi, ia berhenti.
"Selira..."
Suara itu terdengar lagi. Lebih rendah. Lebih dalam. Seolah ia menimbang setiap kata sebelum keluar dari mulutnya.
Aku masih membelakanginya dengan debar di d**a, juga kepala yang riuh.
"Aku... gak datang hanya untuk urusan hukum," lanjutnya pelan.
Aku menutup mata.
"Lalu untuk apa?" tanyaku serak, nyaris berbisik.
Aku mendengar dia menarik napas panjang.
"Ada hal lain yang harus aku pastikan."
Aku menoleh perlahan.
"Apa?" tanyaku, datar. Terlalu datar untuk menyembunyikan getar di dalam d**a.
Raka menatapku. Pandangannya berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi hanya penuh rasa bersalah, tapi juga... kecurigaan.
Kekhawatiran. Sesuatu yang membuat jantungku tiba-tiba berdegup tak beraturan.
"Waktu aku datang ke kontrakanmu untuk melihat TKP," katanya pelan, "aku lihat ada mainan anak di teras. Sepatu kecil. Botol susu."
Napas di dadaku tercekat.
Aku menelan ludah, berusaha tetap tenang.
"Itu... bukan urusanmu."
"Selira," suaranya mengeras sedikit. "Aku cuma mau tau satu hal."
Aku menatapnya, dan dalam detik itu, aku sadar... dia sudah mencium sesuatu. Sesuatu yang selama ini kusembunyikan rapat-rapat.
"Waktu aku menceraikanmu..." katanya perlahan, setiap kata seperti menghantam d**a, "apa kamu sedang hamil?"