Luka Lama Bernama Perceraian

1031 Words
Aku tidak tahu kapan tepatnya ingatan itu mulai menyerang lagi. Mungkin saat malam terlalu sunyi. Atau ketika tubuhku terlalu lelah untuk terus berpura-pura kuat. Yang jelas, di balik jeruji besi ini, masa lalu datang tanpa permisi. Aku terbangun dengan d**a sesak. Nafasku pendek, seperti baru saja berlari jauh. Untuk beberapa detik, aku lupa di mana aku berada. Yang terbayang justru wajah Raka, tersenyum canggung di balik jas pengantinnya, di hari yang dulu kupikir adalah awal bahagia. Aku menutup mata. Terlambat. Kenangan itu sudah terlanjur membuka pintunya sendiri. *** Aku masih sangat muda saat itu. Terlalu polos untuk memahami bahwa cinta saja tidak cukup untuk menghadapi dunia orang dewasa. Raka datang ke hidupku seperti angin tenang. Tidak meledak-ledak, tidak menjanjikan surga. Hanya lelaki mapan yang membuatku merasa aman. Raka bukan tipe yang pandai merayu, tapi matanya selalu jujur. Ketika ia melamarku, aku benar-benar percaya bahwa hidup akan baik-baik saja. Aku lupa satu hal penting: aku tidak menikahi Raka saja. Aku menikahi seluruh dunianya. Hari pertama aku melangkah ke rumah mereka sebagai istri sah, tatapan itu sudah terasa berbeda. Bukan kebencian terang-terangan, tapi dingin yang menusuk tulang. Mamanya menatapku dari ujung kepala sampai kaki, lalu berkata pelan, "Kamu kelihatan... sederhana sekali." Kalimat itu terdengar sopan, tapi maknanya menusuk. Aku tersenyum, menunduk. Sejak hari itu, aku belajar menelan banyak hal sendirian. Setiap gerakku selalu salah. Masakanku kurang pas. Caraku berpakaian dianggap kampungan. Cara bicaraku dinilai terlalu lembut, tidak pantas untuk istri laki-laki seperti Raka. Aku berusaha berubah. Belajar masak menu kesukaan mereka. Berusaha berbicara lebih percaya diri. Menahan air mata saat dibandingkan dengan perempuan lain. Perempuan yang katanya lebih "pantas". Sekeras apa pun aku mencoba, mereka tetap melihatku sebagai beban. Yang paling menyakitkan bukan perlakuan mereka, tapi diamnya Raka. Awalnya, ia masih membelaku. Pelan-pelan. Setengah hati. "Sudahlah, Ma. Selira sudah berusaha." Lama-lama, suaranya semakin jarang terdengar. Raka mulai memilih diam. Menghindar. Pulang makin larut. Aku sering menunggunya di ruang tamu dengan perasaan campur aduk... rindu, takut, dan berharap. Lampu sengaja kubiarkan menyala meski malam semakin larut, seolah cahaya itu bisa menjadi tanda bahwa aku masih menunggunya pulang. Di meja, teh yang kuseduh sudah dingin sejak lama, tapi aku tak beranjak. Aku ingin dia melihatku di sana. Menunggu. Masih bertahan. Pintu akhirnya terbuka dengan bunyi pelan. Raka masuk tanpa menoleh, hanya meletakkan tasnya di kursi dan menghela napas panjang. Wajahnya tampak lelah. Namun entah kenapa, kelelahan itu selalu terasa lebih berat bagiku. "Kenapa pulang malam terus?" tanyaku pelan, berusaha menjaga nada agar tak terdengar menuduh. "Kerja," jawabnya singkat, tanpa menatapku. Aku menelan ludah. "Setiap hari? Gak ada hari libur?" Raka terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil. Aku menarik napas panjang, menahan sesuatu yang terasa menyesak di d**a. "Kenapa Mama selalu menyalahkanku?" tanyaku akhirnya. Suaraku bergetar meski berusaha tegar. "Apa pun yang kulakukan selalu salah di matanya." Raka mengusap wajahnya lelah. "Jangan dibesar-besarkan, Lira. Mereka cuma belum terbiasa." Aku berdiri dari kursi, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Aku sudah berusaha. Aku masak, aku belajar, aku jaga sikap. Tapi kenapa selalu aku yang kurang?" Raka terdiam. Dan keheningan itu terasa seperti pengakuan. "Aku istrimu, Raka," ucapku lirih, nyaris berbisik. "Aku bukan orang asing di rumah ini." Raka menunduk, menghindari tatapanku. Ia terdiam. Dan diamnya itu... lebih menyakitkan dari kata-kata kasar mana pun. Di saat itulah aku sadar. Aku sedang berjuang sendirian di pernikahan yang seharusnya kami jaga berdua. Hari demi hari, tekanan itu menggerogoti pernikahan kami. Aku menjadi lebih pendiam. Raka menjadi lebih jauh. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, berubah seperti ruang sidang yang setiap hari menghakimiku. *** Malam itu Raka baru pulang dari luar kota. Aku yang ditinggal lama merasa kesepian. Aku berharap dia akan memelukku, melepas rindu walaupun rasanya tak sama seperti dulu. Namun, kata-katanya sungguh menyayat hati. "Kamu sudah ke dokter kandungan?" Aku mengeleng. Rasanya aku lelah mengunjungi rumah sakit. Sudah beberapa bulan ini, aku mengabaikanya. "Sudah empat tahun dan mama menunggu." "Kita berdua sehat dan normal. Mungkin memang belum waktunya," ucapku menjelaskan. "Kata Mama, mungkin ini tanda," ucapnya pelan. "Tanda apa?" tanyaku dengan suara bergetar. Raka menatapku lama. Lalu berkata, "Mungkin kamu memang bukan yang tepat buat jadi istriku." Kalimat itu menghancurkanku lebih dari apa pun. Aku mencoba bertahan. Meminta waktu. Meminta kesempatan, tapi keluarganya sudah bulat. Dan Raka... memilih diam. Perceraian kami berjalan cepat. Terlalu cepat untuk sesuatu yang dulu terasa sakral. Aku menandatangani surat itu dengan tangan gemetar. Sementara ia duduk di seberang meja tanpa menatap mataku. Saat aku berdiri hendak pergi, aku sempat menoleh. "Raka... aku pernah bahagia sama kamu. Aku cuma ingin kamu tahu itu." Raka tidak menjawab. Dan sejak hari itu, aku tidak pernah lagi menoleh ke belakang. Aku baru menyadari segalanya beberapa minggu kemudian. Tubuhku sering mual. Kepalaku pusing. Aku mengira hanya kelelahan. Sampai suatu pagi, aku pingsan di kamar mandi. Aku terbangun di klinik, bau obat menusuk hidung. Seorang bidan menatapku dengan ekspresi lembut tetapi serius. "Ibu... sudah berapa lama tidak haid?" Pertanyaan itu membuat dadaku bergetar. Aku tidak menjawab. Hanya menggeleng pelan. Beberapa menit kemudian, dunia seperti berhenti berputar. "Ibu hamil," katanya lembut. "Sekitar enam minggu." Aku membeku. Enam minggu. Aku menghitung cepat di kepala. Menghitung hari, tanggal, kenangan. Itu berarti... Aku menutup wajah, tubuhku gemetar hebat. Tangisku pecah tanpa bisa kutahan. Aku hamil. Aku mengandung anak Raka. Di saat pernikahan kami sudah berakhir. Di saat ia memilih meninggalkanku. Aku menekan perut, merasakan sesuatu yang belum bisa kurasakan tapi sudah begitu nyata. Takut, bingung, tapi anehnya terasa hangat. "Maaf," bisikku pada diriku sendiri. "Aku gak tau harus gimana." Sejak hari itu, aku memutuskan satu hal: aku akan melindungi anak ini, apa pun risikonya. Bahkan jika itu berarti aku harus menyembunyikannya dari dunia. Termasuk dari ayahnya. Dan kini, di dalam sel sempit ini, ingatan itu kembali menghantamku tanpa ampun. Aku menarik selimut tipis menutupi tubuh, berusaha menahan isak yang tak bisa keluar. "Kenapa sekarang?" bisikku pada diri sendiri. "Kenapa kamu muncul lagi di hidupku... setelah aku hancur?" Aku memejamkan mata kuat-kuat. Di luar sana, entah bagaimana, Raka kini berdiri di sisi yang berbeda. Bukan sebagai mantan suami. Bukan sebagai orang yang mencintaiku, tapi sebagai seseorang yang ingin membelaku. Dan itu... justru membuat lukanya terasa lebih dalam. Aku menggigit bibir hingga perih. Karena aku tahu.... Jika aku masih mencintainya, maka inilah hukuman terberat yang bisa Tuhan berikan padaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD